Home » » Budi Setyagraha, Gara-gara Takut Rezeki Dicabut

Budi Setyagraha, Gara-gara Takut Rezeki Dicabut

Written By admin on Saturday, April 11, 2009 | 8:25 PM


Pada umumnya, bagi warga keturunan Cina, berdagang merupakan satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga (keluarga). Karena itu, hampir tidak pernah (jarang) dijumpai ada warga keturunan yang tidak mempunyai usaha dalam perdagangan. Entah usaha bangunan, butik, makanan, obat, maupun lainnya.

Itu pula yang dilakukan Budi Setyagraha pada 1978. Dengan berbekal pengalaman, warga keturunan Cina yang terbiasa berdagang, Budi pun memulai usahanya dalam bidang bangunan, tepatnya di Jalan Kyai Mojo, Yogyakarta, 21 tahun silam. Beruntung, karena ketekunan dan ketelitiannya, dalam waktu singkat usahanya pun mulai menuai hasil. Dan, ia merasa keberhasilannya itu patut disyukuri.

Disinilah rupanya mulai muncul kebimbangan. Dirinya bingung harus bersyukur dengan cara apa dan pada tuhan yang mana. Budi mengaku, tidak yakin dengan agama Buddha yang telah dianut sebelumnya.

''Setelah lima tahun menimbang-nimbang, akhirnya pada 1983 saya memutuskan untuk masuk Islam,'' jelas Budi kepadaRepublika, di Yogyakarta, Selasa (31/3) lalu.

Takut Rezeki Dicabut
Kalau kemudian pilihannya jatuh pada agama Islam sebagai jalan hidupnya, ternyata hal itu agar rezekinya tidak dicabut oleh Tuhan dan terus bertambah. Memang, kata dia, awalnya terasa lucu juga hanya karena rezekinya takut dicabut lantas dirinya memilih Islam. Sebab, ungkap Budi, bagi warga keturunan Tionghoa, usaha dagang merupakan satu-satunya pilihan untuk mengais rezeki. ''Lha, saya waktu itu merasa ngeri bagaimana kalau nanti rezeki dicabut sama Tuhan, hidup saya akan susah,'' paparnya.

Itu awalnya. Namun, menurut pria yang kini ditunjuk menjadi Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini, ia juga memilih Islam karena bila dibandingkan dengan agama lain, Islam justru terasa pas dan sejalan dengan pemikiran manusia.

''Saya memilih Islam karena konsep ketuhanan agama lain kurang pas, bagi saya. Bukan berarti ngelek-elek agama lain. Konsep ketuhanan bagi saya ada pada ketauhidan di dalam agama Islam, yaitu Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasululllah. Kalimat tauhid tersebut yang membuka hati saya,'' jelasnya.

Ia mengaku tertarik masuk Islam karena dorongan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sebelum masuk Islam, Budi senang mendengarkan khutbah Buya Hamka melalui Televisi. Ia juga membaca buku-buku dan karya Buya Hamka, termasuk buku yang berjudul Dibawah Lindungan Ka'bah.

Buku tersebut sering ia gunakan sebagai referensi apabila ada tugas-tugas atau karya tulis ketika masih sekolah. Dan, dari buku ini pula yang akhirnya menuntunnya untuk memeluk Islam.

''Setelah masuk Islam saya baru tahu manfaatnya membaca buku tersebut. Selain itu, ketika saya masih sekolah juga senang berfoto di depan Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta,'' katanya.

Naik Haji
Setahun setelah masuk Islam (1984), Budi pun menunaikan rukun Islam yang kelima, naik haji. Padahal, awalnya ia masih ragu-ragu untuk berhaji. Sebab, ia belum sanggup menghafal doa-doa beribadah haji. Namun, berkat dorongan almarhum AR Fakhruddin (mantan ketua umum PP Muhammadiyah--Red), Budi akhirnya mantap untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Budi diminta untuk membaca Doa 'Sapu Jagad' (Rabbana aatinaa fiddun ya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqina 'adzaaban naar).

''Beliau (AR Fakhruddin--Red) mengatakan kepada saya, ''Mumpung badannya masih sehat, imannya kuat, dan finansial (biaya) ada, bersegeralah melaksanakan haji,'' kata Budi menirukan ucapan AR Fakhruddin.

Selepas itu, Budi pun kemudian terus berupaya memantapkan pemahamannya tentang agama Islam. Ia belajar pada Ustadz Drs Ma'ruf Siregar, guru agama Islam di SMA 2 Yogyakarta. Dan, Ustadz Ma'ruf, senantiasa datang ke rumah Budi untuk mengajar dan mengkaji Islam.

Keislaman Budi Setyagraha akhirnya diketahui oleh saudara-saudaranya. Mereka pun bertanya-tanya. Apa yang menjadi alasan Budi memeluk Islam. Bahkan, istrinya pun enggan mengikuti jejaknya.

Budi mengatakan, bagi kebanyakan warga keturunan Tionghoa, Islam itu dipandang sebagai agama untuk orang-orang yang ingin menikah, atau cari istri lagi (poligami--Red). ''Banyak pertanyaan lain yang kerap mereka lontarkan pada saya. Intinya, mereka sangat sinis dan begitu negatif memandang Islam,'' terangnya.

Mendapat sindiran seperti itu, Budi tetap teguh dan kukuh pada pendiriannya, menganut agama Islam. Bahkan, ia ingin membuktikan pada keluarganya bahwa Islam itu bukan agama yang mengajarkan hanya kawin cerai. Islam justru sangat membenci perceraian dan menghendaki terbentuknya sebuah keluarga yang harmonis. Sedangkan perceraian adalah jalan keluar (solusi), apabila dalam rumah tangga muncul keretakan yang sulit untuk disatukan kembali.

Karena itu pula, Budi ingin menunjukkan pada saudaranya bahwa dirinya tetap menyayangi istrinya. Dan Budi juga menunjukkan, bahwa para ustadz yang membimbingnya hanya memiliki istri satu. Bukti-bukti itu akhirnya membuat saudara dan rekan-rekannya sesama warga keturunan menjadi percaya pada keputusan Budi memeluk Islam.

''Ternyata saya tidak seperti yang dibayangkan orang sebelumnya. Saya dinilai baik, sehingga banyak orang yang mengikuti pengajian-pengajian saya dan banyak yang ikut masuk Islam,'' ujar mantan ketua umum PITI Yogyakarta ini.

Setelah masuk Islam, Budi merasakan kehidupannya harus mematuhi aturan yang sudah baku dalam Islam, yaitu syariah Islam. Syariah Islam ini diterapkan dalam mengelola usahanya sehingga Budi merasa hasil dari usahanya benar-benar halal.

Baginya, hal yang paling penting dalam beragama adalah mengamalkannya. Ia berpandangan, kalau agama tidak diamalkan, akan menjadi seorang yang ekstrem. Ibarat aki kalau di-charge terus, lama-lama akan meledak. Karena itu, perlu ada penyaluran untuk mengamalkannya.

Artinya, kata dia, setiap ada pengajian diikuti, dan ilmu yang didapatkan diamalkan. Dengan demikian, dirinya akan senang dan masyarakat pun juga suka karena senantiasa bisa bersilaturahim. ''Makanya, silaturahim antarsesama itu sangat dianjurkan. Orang yang senang silaturahim akan dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya,'' katanya.

Ini kalau kita lakukan dan merasa yakin hikmahnya bisa menumbuhkan husnuzhzhan (prasangka baik). Sebaliknya, jika tidak dilakukan akan menumbuhkan su'uzhan (berprasangka buruk) terhadap orang lain.

Lebih lanjut Budi menyatakan, dalam kehidupan bermasyarakat sering muncul perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Karena itu, jika tidak ada silaturahim, akan muncul persepsi (pandangan) yang salah antarsesama warga masyarakat.

Keberhasilan Budi Setyagraha dalam mengelola usahanya telah berhasil mengantarkan kedua anaknya menyelesaikan pendidikan tinggi (pascasarjana, S2) di Amerika Serikat. Mia (29) lulusan S2 jurusan Finansial dan Yudistira (27) menyelesaikan S2 jurusan Ekonomi Makro. Kini, mereka sudah kembali ke Indonesia ikut membantu menjalankan usaha Budi.

Sejak 1984 hingga 2004, Budi Setyagraha dinobatkan sebagai ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika pertama kali menjabat ketua PITI DIY, jumlah anggotanya baru tiga orang. Namun, kini jumlah orang Tionghoa di Yogyakarta yang masuk Islam sudah mencapai 200 orang.

Menurut Budi, peran PITI ini sangat penting bagi perkembangan Islam di Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bahkan, Budi menilai, PITI merupakan jembatan bagi warga Tionghoa untuk masuk Islam.

Sebab, wadah ini merupakan tempat untuk ''berlindung'' bagi warga Tionghoa yang masuk Islam. Mereka yang masuk Islam tentu akan menghadapi berbagai tantangan. Dan, bila ada persoalan, PITI akan berusaha turut serta menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena itu, PITI memberikan ''perlindungan'' agar warganya tetap dalam iman dan Islam.

Untuk meningkatkan keimanan warga Tionghoa yang masuk Islam, rumahnya kini menjadi 'madrasah' (tempat menuntut ilmu--Red), seperti majelis taklim (pengajian). Bahkan, Budi menyediakan sebuah mobil untuk antar jemput bagi anggota PITI yang ingin mengikuti pengajian di rumahnya.

Budi menjelaskan, sebagian besar anggota PITI berasal dari warga keturunan yang melakukan perkawinan campur (Cina-Jawa, Cina-Sunda, dan lainnya). Dan, sangat sedikit pasangan suami istri yang semuanya keturunan Tionghoa yang masuk Islam.

Selepas dari DPD PITI DIY, Budi Setyagraha dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PITI. Jabatan ini diembannya sejak 2005 lalu.

Masuk Islam bagi Budi merupakan berkah dan petunjuk Allah SWT. Tidak ada maksud lain. Ia kini tidak lagi khawatir akan dicabut rezekinya. Bahkan, usaha toko bahan bangunan yang dirintisnya mempunyai cabang di Semarang dan Solo, Jawa Tengah.

Selain itu, Budi juga mempunyai dua Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yaitu Lumbung Harta dan Artha Berkah Cemerlang. Selain itu, ia juga mempunyai satu BPR Syariah Margi Rejeki.

Banyaknya usaha yang dijalani, ia ingin menepis anggapan bahwa orang Islam itu selalu miskin. ''Tetapi, orang Islam juga bisa kaya,'' tandas Budi.heri purwata/taq



sumber :republika.co.id

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger