Latest Post
Showing posts with label berita mualaf. Show all posts
Showing posts with label berita mualaf. Show all posts

Nourdeen Wildeman: Islam Agama Rasional

Written By admin on Friday, June 15, 2012 | 2:44 PM

Nourdeen Wildeman, 26 tahun, adalah warga Belanda yang “resmi” masuk Islam pada 9 Desember 2007. Meskipun baru menjadi mualaf, ia telah aktif dalam dakwah Islam. Saat ini, ia sedang mempersiapkan peluncuran program dakwah yang sedang berlangsung dengan tema, “Temukan masjid yang menyajikan terbaik buat Anda.”
Program tersebut bertujuan untuk mendata profil masjid-masjid di Belanda. Lewat program ini, diharapkan setiap Muslim dapat mengetahui segala hal tentang masjid; semua informasi yang berkenaan dengan setiap masjid.

Program ini menyajikan secara lengkap profil setiap masjid, seperti latar belakang etnisnya, alamat, kode pos, nomor telepon, alamat e-mail, gambar masjid, bahasa yang digunakan dalam khotbah Jumat, toko buku, kapasitas muat masjid untuk laki-laki dan perempuan, ketersediaan kamar mandi dan tempat wudlu baik untuk laki-laki atau perempuan, dan tak ketinggalan beberapa kondisi umum, seperti bangunan tua, tidak ada parkir, pelajaran khusus, kelengkapan, dan juga jadwal shalat sesuai dengan lokasi tertentu.




Awal Mengenal Islam

Nourdeen mengaku tidak tahu kapan persisnya ia benar-benar menjadi seorang Muslim. Perkenalannya dengan Islam dimulai empat atau lima tahun sebelum ia resmi mengucapakan dua kalimat syahadat. Semua dimulai dari keingintahuannya tentang Islam yang waktu itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di media Eropa, pasca tragedi 11 September.
“Buku pertama yang saya baca tentang Islam sangat akademis dan sangat sulit dipahami. Karenanya saya memutuskan untuk mencari buku lain agar saya dapat lebih mudah memahami Islam, dan saya tetap membaca dan lebih banyak lagi,” kenang Nourdeen.
“Setelah membaca banyak buku, saya menemukan bahwa Islam tidak seperti anggapan saya selama ini. Justru banyak ajaran Islam yang sesuai dengan apa yang saya percayai secara natural,” tambahnya.
Menurut Nourdeen, Sebagian besar pencitraan media terhadap Islam sepenuhnya salah. Anggapan media Barat bahwa Islam adalah agama penindas hak perempuan merupakan kekeliruan besar. Islam juga bukan agama kekerasan dan teroris. Baginya, Islam bukan hanya agama damai namun juga agama yang menghormati akal.
“Saya menemukan Islam sebagai agama yang sangat rasional. Agama yang mendukung ilmu pengetahuan. Ia mendorong manusia untuk memahami dan menafakkuri segala sesuatu di sekitarnya. Sebuah agama yang mengajak umatnya untuk berfikir kritis,” paparnya.
“Sebelum mendalami Islam, saya selalu berpikir bahwa menjadi seorang atheist mungkin lebih mudah dan enak, saya bisa bebas melakukan apa pun yang saya inginkan, namun hati kecil saya selalu mengkritik gaya hidup seperti itu, dan akhirnya saya mencapai kesadaran tentang Tuhan. Inilah kebenaran yang saya rasakan dalam Alquran dan hadis,” akunya.
Respons Keluarga dan Lingkungan
Nourdeen lahir dan besar dalam keluarga dengan multikepercayaan, ayahnya seorang atheist, sementara ibunya penganut agamanya Kristen Protestan. Keputusannya untuk menjadi mualaf tidak mendapat penentangan yang berarti dari keluarganya.
Keinginan Nourdeen untuk menjadi Muslim memang tidak langsung ia ceritakan kepada kedua orangtuanya. Nourdeen hanya beruhasa memancing reaksi mereka dengan bertanya kepada mereka jika ia beralih ke agama lain seperti Islam, mereka menyatakan bahwa itu adalah pilihan hidupmu, selama tidak mengganggu siapa pun, ia bebas menentukannya.
Meskipun begitu ibu Nourdeen sempat menasihatinya bahwa menjadi Kristen itu lebih mudah. Nourdeen pun menjawab, “saya tidak sedang mencari agama yang paling mudah, tetapi palaing benar.”
Berbeda dengan ibunya, ayahnya justru memberi dukungan penuh kepada keputusannya tersebut. “Saya sangat bahagiaakarena ayah bersedia mendampingi saya di saat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, dan ini terekam oleh kamera video. Ia mendukung saya karena saya merupakan bagian dari dia, dan Islam akan menjadi bagian dari saya, maka dia akan menerima saya dengan keislaman saya,” papar Nourdeen.
Kebebasan yang diberikan keluarganya ini diakui Nourdeen sebagai anugrah besar. Karena menurutnya, tak sedikit teman-teman mualaf yang menghadapi masalah yang cukup serius akibat dari penentangan pihak keluarga.
“Kenyataannya, memang banyak dari mualaf yang menghadapi masalah keluarga ketika mereka menyatakan diri sebagai Muslim. Rata-rata yang mengahadapi problem seperti ini adalah perempuan,” ujarnya.
“Saya sangat menghormati perempuan di negara ini yang menjadi mualaf, karena kondisi yang mereka hadapi lebih sulit, belum lagi problem pakaian yang mereka kenakan. Bahkan ada yang diusir dari rumah mereka dan keluarga mereka tidak mau menerima mereka lagi. Karenanya, saya sangat beruntung, alhamdulillah, dengan keluarga saya.
Respons positif pun Nourdeen dapatkan dari atasan kerjanya. Setelah resmi menjadi Muslim, Nourdeen kemudian mengirim e-mail kepada atasannya untuk memberitahu atasanya tersebut bahwa ia telah menjadi seorang Muslim.
“Namun, alhamdulillah, saya tidak kena damprat. Justru saya mendapat bonus pada akhir tahun berdasarkan evaluasi kerja saya. Atasan saya mengatakan bahwa di samping saya memeliki kinerja yang baik, saya juga mampu membuat pilihan yang sulit ketika saya memilih menjadi seorang Muslim. Dia mengatakan bahwa saya memiliki keberanian untuk mengambil pilihan yang sulit di samping saya mampu bekerja dengan baik,” paparnya.
Mendalami Islam
Setelah resmi masuk Islam, Nourdeen masih terus bersemangat dalam mempelajari Islam. Ia juga sering berdiskusi dengan umat Islam yang lebih senior, namun kegemarannya melahap buku-buku Islam justu menjadikannya lebih banyak tahu tentang Islam dibanding mereka.
“Saya membaca buku karangan Tariq Ramadan berjudul In the Footsteps of the Prophet (Jejak-jejak Nabi). Buku ini banyak membantu saya sebagai Muslim Eropa karena ditulis dengan cara yang cocok bagi orang Barat. Metode Arab dalam penulisan cerita berbeda dengan metode Barat, tetapi Tariq Ramadan mampu menyampaikan pesannya dengan menggunakan pendekatan Barat,” ujar Nourdeen.
“Saat ini, saya juga mempelajari Alquran di Dar al-’Ilm di Belanda. Tempat ini menyediakan kajian Alquran secara menyeluruh dari A hingga Z berdasarkan Tafsir Ibnu Kathir,” imbuhnya.
Menanggapi perkembangan isu keislaman dan perbedaan kultur dan kondisi antara Barat dan Timur, Nourdeen mengatakan bahwa beberapa fatwa yang dikeluarkan di banyak negara-negara Muslim tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan di negara-negara Muslim minoritas. Beberapa modifikasi harus dilakukan agar sesuai dengan kondisi Barat.-taq[republika.co.id]

Kisah Hidayah yang Datang Melalui Nikmatnya Gerakan Sujud

Written By admin on Thursday, June 14, 2012 | 8:35 PM

Beberapa hari yang lalu seorang teman FB menandai Akun Fb penulis dengan kisah temannya yang mendapatkan Hidayah melalui Sujud, dan berikut ini postingannya




Saya masuk islam saat itu kuliah semester 5 tahun 2003 disitu saya blm punya pacar mas dan blm pernah pacaran sama sekali..:) [:)]

saat itu saya hanya ingin berdoa kpd Tuhan dgn cara bersujud (masih katolik)..g tau knp bersujud itu buat sy makna nya begitu besar...berarti ada hubungan kedekatan kita dgn sesuatu yg menciptakan kita. itu aja..akhirnya sy sering baca buku di gramedia buku2 islam..di situlah sy tertarik islam mas..


kemudian saya beli buku tuntunan sholat tanpa ada org yg tau sy dikamar sendiri belajar sholat dgn pakai sarung dan jaket.krn blm punya mukena.

lama2 orang tua tahu ttg saya..saya menyampaikan hati saya..dan berhadapan dgn kk saya...berbagai cara kk sy berusaha dgn firman Tuhan menyodorkan ke saya..tp g mempan...di situ sy dinilai imannya lagi jatuh kmdn sy diajak ke gereja utk pengakuan dosa dihadapan romo..sy mengikutinya....sediihh bener kalau ingat saat itu..sy menjalani 2 agama dlam 1 thn..maksudnya islam blm sah...tp sy tertarti sholat...ke gereja dan sholat sy lakukan bersama selama 1 th.

saat kuliah sy awalnya masuk KMK ( komunitas mahasiswa katolik) ..sy dekati teman senior di organisasi islam dan sy curhat sm beliau..kmdn di sarankan utk syahadat di kampus pd saat shalat tarawih.dan diberikan kelancaran...tp sblmnya saya sungkem sma bpk ibu minta restu..krn ibu selalu nangis liat iman sy...ke gereja dan sholat..kmdn setelah 1 th bpk ibu mengijinkan saya islam dgn nasehat jgn islam KTP.kmdn ibu mendatangkan guru ngaji privat bt saya belajar iqro dll..

namun kk sy dimana kk ipar juga tanggapannya kurang bagus...namun bt sy g masalah yg pntg ortu sy...dan alhamdulilah jodoh sy islam juga..sy lepas dari keluarga dan berumah tangga memisahkan diri mengikuti tugas suami....jd hub.sm kk lebih baik setelah kita agak jauh.

dan alhamdulilah skrg sy bisa menentukan hidup saya..apalagi sy memutuskan berjilbab..kk tidak peduli krn sy udah pnya suami.sudah urusannya masing2.demikian mas..dan sy meski belajar islam dan mencari tahu hingga sekarang..dan dpt ilmu islam setelah masuk islam..o ya dulu waktu pindah harus di mesjid dan di saksikan min.2 org utk dpt sertifikat pindah agama islam...sy jalan sendiri krn g ada teman, saudara apalagi kekasih heheh..:) [:)] ..

alhamdulilah sy diberikan kemudahan Allah utk bersyahadat di mesjid A'syuhada yogya..

mohon doanya y mas...smg sy istiqomah dan anak keturunan sy mendpatkan cahaya islam...amin YRA.

wassalamualaikum wr.wb :) [:)]

Seperti yg dikisahkan seorang mualaf ke inboxku. tulisan itu sy copas sesuai aslinya. namanya aku rahasiakan.

QS.6:88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

semoga bermanfaat bg kita semua.


========

Terungkapnya
Manfaat Sujud dalam Gerakan Shalat Bagi Kesehatan

Pada saat seseorang menjalankan shalat, terutama ketika melakukan sujud, ini adalah saat di mana seorang hamba mempunyai kedekatan yang luar biasa dengan Allah Swt. Kedekatan ini adalah kedekatan yang sangat personal; kedekatan antara orang mencintai dengan Dzat yang dicintainya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika seseorang yang akan menghadapi peristiwa besar, dalam hal ini adalah proses persalinan, memanfaatkan ibadah shalat ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.
Kepada siapa lagi kita menyembah jika tidak kepada-Nya; kepada siapa lagi kita memohon kalau tidak kepada-Nya. Dia-lah Allah Swt. Dzat Yang Maha Menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya, termasuk menciptakan manusia dan memberikan segala hal yang berkaitan dengan kehidupannya. Maka, ketika kita menjalankan shalat adalah saat yang paling tepat untuk memasrahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.


Pada akhir zaman ini, Allah SWT telah membuka rahasianya tentang manfaat semua perintahnya kepada manusia. Pada masa Rasulullah masih hidup semua sahabat selalu berkata kepada Rasul "Samina wa atona" SAYA DENGAR DAN SAYA PATUH, sehingga mereka benar-benar orang Shaleh.

Namun pada masa sekarang semua harus berdasarkan ilmiah, maka sebelum Allah datangkan kiamat, Allah tunjukkan kepada manusia manfaat besar dari semua perintahnya, salah satunya adalah Sujud dalam Shalat.

Di dalam otak manusia, terdapat urat saraf yang tidak di aliri oleh darah. Darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut sujud dalam shalat. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar waktu shalat yang diwajibkan oleh Islam.

Pada saat sujud, pembuluh darah nadi balik, dikunci di pangkal paha, sehingga tekanan darah akan lebih banyak dialirkan kembali ke jantung dan dipompa ke kepala. Posisi sujud adalah cara yang maksimal untuk mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan anggota tubuh ke kepala. Posisi sujud adalah teknik terbaik untuk membongkar sumbatan pembuluh darah jantung sehingga mencegah penyakit jantung koroner, juga membuat pembuluh darah halus di otak mendapat tekanan lebih, sehingga bisa mencegah stroke.

Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa Mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir.

Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

sujud yang tumaninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

Berikut manfaat lain dari Sujud dalam Shalat:
  • memperbaiki posisi pinggang.
  • memperbaiki posisi bayi dalam rahim.
  • melegakan sakit hernia.
  • mengurangi sakit saat haid.
  • melegakan paru-paru daripada ketegangan.
  • mengurangi rasa sakit pada penderita apendiks atau limpa.
  • kedudukan sujud adalah paling baik untuk mengistirahatkan dan mengimbangkan bagian belakang tubuh.
  • meringankan bagian pelvis.
  • memberi dorongan supaya mudah tidur.
  • pergerakan otot lebih kuat dan elastis,secara otomatis memastikan kelancaran perjalanan.
  • bagi wanita, pergerakan otot itu menjadikan buah dadanya lebih baik,mudah berfungsi untuk menyusukan bayi dan terhindar daripada sakit buah dada.
  • mengurangi kegemukan.
  • pergerakan bagian otot memudahkan wanita bersalin, organ peranakan mudah kembali ke tempat asal serta terhindar sakit perut (convulsions) .
  • organ terpenting yaitu otak manusia menerima banyak darah dan oksigen.
  • Dari segi psikologi, sujud membuat kita merasa rendah diri dihadap Sang Maha Pencipta sekaligus mengikis sifat sombong, ria, takabur dan sebagainya, sehingga terhindar dari Stress.
  • Dari segi Kesehatan, Sujud yang lama akan menambah kekuatan aliran darah ke otak untuk mengobati pening kepala dan migrain, menyegarkan otak serta menajamkan kecerdasan sekali gus menguatkan mentality seseorang.
Tentunya gerakan sujud dan rukuk yang sesuai dengan contoh nabi yang bisa membantu kesehatan kita, bukan gerakan yang asal-asalan, terburu-buru, atau tidak sempurna bentuk rukuk dan sujudnya. Itupun harus didukung juga dengan gerakan shalat lainnya, seperti duduk diantara dua sujud, takbir, dan yang lainnya

Semoga bermanfaat

Sumber :www.muslim-menjawab.com

Muallaf Foundation adakan Muallaf Festival di Bali

Written By admin on Monday, June 11, 2012 | 11:32 AM



Muallaf Foundation (MF) mengadakan Muallaf Festival dalam rangka milad MF ke-10 di Denpasar Bali, pada hari Ahad (10/6/2012) kemarin. Acara ini terdiri dari berbagai kegiatan seperti donor darah, bazar, hiburan dan pentas seni budaya, sarasehan lembaga-lembaga Islam dan Muallaf Bali serta penganugerahan Duta Muallaf.
MF sendiri didirikan pada tanggal 30 Mei 2002, dan merupakan lembaga yang khusus menangani para mualaf yang sekretariatnya berpusat di Denpasar, Bali.
Dalam sambutannya, Ketua MF Slamet Adi Priyatna menyampaikan bahwa MF memiliki visi untuk menjadi institusi terdepan dalam pengenalan Islam dan pembinaan mualaf di Indonesia. Dengan visi tersebut maka dibuatlah berbagai program kegiatan MF seperti Muallaf Care, Jiran (Kajian Rutin Bulanan), Muallaf Festival, Gemasya (Gema Ramadhan & Syawal), serta program kegiatan lainnya. Dan kini MF telah mempunyai anggota pembinaan lebih dari 100 orang.


Dalam Sarasehan, MF menghadirkan Ketua MUI Bali KH. M Taufik As'adi, Ketua Rumah Mualaf Indonesia (RUMI) Dr. Amir Faishol Fath, Sekjen Arimatea Diki Chandra, dan Saiful Islam Al Payage seorang ulama dan dai muda dari Papua yang dahulunya seorang mualaf.
Sarasehan ini juga dihadiri oleh Anggota DPRD Kota Denpasar, Bali, H. Mudjiono.
Pada kesempatan tersebut, KH. M Taufik As'adi menuturkan bahwa MF dapat menjadi inisiator kegiatan yang bersifat sinergis dengan lembaga lain yang terkait dengan penanganan mualaf.
Selanjutnya, Ketua MUI Bali ini berpendapat bahwa advokasi juga diperlukan untuk para mualaf baru,karena adanya realitas bahwa kita berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki peraturan perundangan yang perlu dipahami bersama-sama.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Amir Faishol Fath menjelaskan bahwa pada dasarnya istilah mualaf itu terkait dengan istilah "ta'liful qulub" yang berarti ikatan hati. Oleh karena itu kita harus memenuhi kebutuhan dasar para mualaf baru. Itulah mengapa mualaf merupakan salah satu golongan yang berhak menerima zakat, sehingga kebutuhan dasar mereka segera terpenuhi dan hati mereka merasa terikat dengan Islam. Ketua RUMI ini juga menuturkan bahwa RUMI miliki 2 dimensi penting dalam misinya, yaitu dimensi ibadah ritual dan dimensi peradaban.
Dengan kedua dimensi tersebut, RUMI ingin membangun pemahaman yang komprehensif pada diri seorang mualaf sehingga mereka mengenal Islam secara komprehensif dan tidak parsial.
Sedangkan Diki Chandra mengusulkan agar lembaga yang menangani mualaf juga menyiapkan lembaga khusus yang menangani zakat khusus untuk mualaf.
Selanjutnya Saiful Islam Al-Payage yang dahulunya beragama Kristen Protestan berpesan kepada para mualaf yang baru tentang 3 hal, yaitu ilmu, amal, dan dakwah. Dai muda dari Papua ini meminta agar para mualaf memperdalam ilmu agama, memperbanyak amal, dan menunjukkan akhlak mulai sebagai bagian dari dakwah kepada para kerabat.
Muallaf Festival diakhiri dengan penganugerahan Duta Muallaf. Sedikitnya ada 8 orang yang terpilih sebagai Duta Muallaf yang akan disebar ke berbagai daerah di Bali. I Gusti Ayu Putu Ariani seorang perwakilan Duta Muallaf dalam testimoninya minta didoakan kepada para hadirin agar dia dapat mengislamkan keluarga dan kerabatnya.*

Senyum Tulus Muslim Jadikan Mustafa Davis Muslim dalam Tiga Hari

Written By admin on Saturday, May 19, 2012 | 4:26 PM


Lima belas tahun lalu ,ketika Mustafa Davis tengah dalam perjalanan menuju kampusnya, ia berlari ke arah pria berwajah ramah. Si pria menunjuk ke arah kaus oblong yang ia kenakan dan berkata, "Penampilan bagus" lalu berdiri dan menjabat tangannya.

Saat itu Davis ingat betul mengenakan kostum kombinasi kaos dari Haile Selassie, celana jeans baggy yang sangat kedodoran, sepatu Puma, kaca mata hitam dan jacket pemain snowboard merek Session. Ia dulu adalah salah satu penganut serius aliran campuran hip-hop dan skater dari California Bay Area.


Bahagia karena mengenal kostum ala rasta yang dikenakan Davis, lelaki tadi berkata lagi, "Hei saya pikir saya mengenalmu, kita bertemu di sebuah tempat, Nama saya Whitney Canon (kini lelaki itu bernama Usama Canon). Ia merespon pula dengan hangat dan mereka terlibat dalam obrolan dan akhirnya saling menyadari bahwa mereka mengenal teman yang sama. "Pertemuan ini akan menjadi satu dari dua peristiwa acak paling penting dalam hidup saya," ujarnya.

Mustafa Davis dilahirkan dari keluarga Katholik dengan ayah Afrika-Amerika dan ibu Kaukasia. Orangtuanya bercerai ketika ia masih remaja. Suatu saat ia pernah tinggal bersama ayahnya yang meski miskin namun memiliki harga diri tinggi.

"Saya ingat ketika ayah tak memiliki uang untuk mempertahankan flatnya, kami pun harus hidup di luar. Saat tak mendapat jatah menginap di panti sosial kami terpaksa tidur di taman. Tapi ayah saya selalu bilang. 'Kita bukan gelandangan nak, maka kita tidak tidur sebagai gelandangan,'" tutur Mustafa menirukan ucapan ayahnya.

Ayah Davis tidur di bangku taman dalam posisi duduk. Sementara Davis kecil tak bisa tahan dan merebahkan diri, ayahnya tetap dalam posisi itu hingga pagi. Hingga suatu hari ayahnya menyatakan tak mampu lagi menanggung biaya hidup Davis dan menyerahkan kepada ibunya.

Tinggal bersama ibunya yang telah menikah dengan pria Kaukasia, meski dengan keuangan lebih baik, kehidupan Davis tak lantas mulus. Ia kerap cek-cok dengan ayah barunya. Tak tahan, ibunya pun memintanya pergi untuk tinggal bersama kakak tirinya.

Kakak tirinya ternyata memberi ultimatum, bila ia hanya mampu menampung Davis selama tiga hari. Bila Davis tidak bisa mendapatkan pekerjaan maka dalam tiga hari ia harus angkat kaki dari apartemennya. Selama tiga hari Davis berupaya mati-matian mencari pekerjaan. Tapi tak ada lowongan, hingga akhirnya masuk hari ketiga, karena putus asa ia bahkan mencoba bunuh diri.

Davis menenggak pil tidur di jalanan hingga sempat koma. Takdir berkata lain. Ia ditemukan kakak tirinya dan lalu dilarikan ke rumah sakit. Saat tersadar dan mengetahui bahwa ia masih hidup, kata pertama yang diucapkan Davis, "Crap, I failed" (Sial, saya gagal).

Satu konsekuensi yang harus dijalani pasien percobaan bunuh diri di Amerika adalah wajib lapor kepada petugas sosial dan mengikuti sesi terapi yang telah ditentukan. Saat itulah ia mulai berpikir lagi tentang agama.

Ketika itu, Usama Canon menjadi salah satu teman dan sosok terpenting dalam perjalanannya menuju Islam. Davis dan Canon bukan hanya kawan di luar. Mereka ternyata teman sekelas dalam pelajaran Bahasa Spanyol dan selalu duduk bersebelahan. Mereka akhirnya juga saling mengetahui bila kedua-duanya adalah seniman dan musisi.

Usama memiliki kode masuk ke ruang piano di aula musik. Mereka kerap menyelinap ke ruang itu untuk duduk dan bermain musik berjam-jam dan berdiskusi tentang spiritual. Davis dan Canon melakukan itu sepanjang semester.

Satu hari saat bersantap sushi di restoran Jepang dekat kampus, Davis mengaku pada Canon betapa ia lelah dengan hidupnya dan ingin kembali ke jalan yang lurus. Ketika itu Davis telah memiliki pekerjaan sebagai pelayan restoran di malam hari dan hidup sendiri di San Jose.

Davis merasa menanggung beban kejahatan masa lalu yang akan diam-diam dapat muncul dan menyergapnya, membuatnya terpuruk dari waktu ke waktu. "Jadi saat itu solusi nyata yang saya yakini untuk menghadapi masalah semacam ini adalah menjadi religius dan kembali ke gereja," tuturnya.

Ia berkata pada Usama tengah mempertimbangkan kembali ke Katholik demi membuat hidupnya kembali tertib. Usama tiba-tiba bertanya apakah Davis pernah berpikir mengenai Islam. "Saya bilang kepadanya bahwa saya tak berpikir itu karena saya merasa bahwa itu adalah agama Arab atau gerakan separatis kulit hitam," tuturnya.

Citra Islam di AS juga identik dengan Nation of Islam, gerakan yang didirikan oleh Wallace Fard Muhammad. Namun Nation of Islam sangat kental dengan semangat rasisme kulit hitam yang akhirnya memunculkan stigma negatif. Almarhum Malcolm X dulu juga bergabung dalam Nation of Islam. Tapi setelah memahami ideologi gerakan tersebut dan kian tersadarkan dengan persamaan derajat saat beribadah haji ke Mekkah ia memutuskan keluar. Mantan petinju Muhammad Ali juga sosok yang selalu menjaga jarak dengan Nation of Islam.

Selain tak nyaman dengan Islam, Davis merasa selama ini Muslim yang pernah ia jumpai adalah hipokrit dan ia mengaku tak pernah melihat Muslim yang taat dan baik.

Canon bercerita tentang kakak lelakinya yang telah memeluk Islam setelah bergabung sesaat dengan Nation of Islam. Kakaknya berkata agama itu bukan hanya untuk Arab dan cuku universal (Saat bercerita itu Usama masih belum masuk Islam, ia masih menggunakan nama Withney). Kakak Usama, Anas Canon, kini tak lagi bersama Nation of Islam.

Canon bertanya kepada Davis apakah ia mengenal Rasul Muhammad dan Davis menjawab yang ia tahu hanyalah Elijah Muhammad (salah satu pemimpin utama di Nation of Islam) yang bahkan menurut Malcoml x, bukanlah nabi. Canon lantas menerangkan bahwa ada sosok berbeda juga bernama Muhammad, yakni berasal dari Arab dan seorang rasul. Ia menyarankan agar Davis mempelajarinya.

Pda titik itu, ia menghindar. "Itu yang biasa saya lakukan ketika seseorang berbincang blak-blakan kepada saya mengenai agama. Lagi pula 'Nabi Arab'? Saya tahu saat itu Islam bukan untuk saya." imbuhnya. Mereka mengakhiri obrolan dan Davis menuju ke tempat kerja. Saat itu adalah Rabu.

Malam seusai bekerja ia pergi ke toko buku untuk membeli Injil dan berjalan melewati bagian "Filosofi Timur" dan berhenti lalu melihat sebuah buku hijau dengan nama 'MUHAMMAD' ditulis sepenuhnya dengan huruf timbul dalam tinta emas. Ia berpikir sesaat dan lalu meraik buku itu dari rak.

Judul sampul berbunyi, "MUHAMMAD-Sejarah Hidup Berdasar dari Sumber-Sumber Terdahulu" oleh Martin LIngs. Frasa 'sumber-sumber terdahulu' mengggugah rasa penasaran Davis meski ia di sana untuk membeli Injil. Saat itu Davis telah sadar dengan debat teologi mengenai sejumlah kesalahan dalam Injil yang juga cukup menggangunya.

"Jadi saya pun membuka buku itu dan mencoba membacanya. Namun nama-nama Arab sungguh sulit saya eja jadi saya mesti berjuang meski untuk memahami beberapa kalimat," ungkapnya. Empat atau lima kalimat yang dibaca Davis menyebut Al Qur'an beberapa kali. "Tapi saat itu nama-nama Arab yang solid kiat meneguhkan realitas yang saya terima bahwa Islam adalah agama Arab dan bukan sesuatu yang menggerakkan saya untuk menjadi bagian dari itu, saya pun letakkan buku itu kembali."

Ketika ia mulai berjalan meninggalkan hiruf-huruf emas "Muhammad", matanya menangkap lagi sebuah buku lain. Kali ini, ia matanya tertuju pada sebuah buku berjudul 'THE QUR'AN'. "Saya waktu itu hendak melewatinya namun teringat kata yang beberapa kali muncul dalam buku Martin Lings, jadi saya meraih buku itu dan mengambil dari rak.

Davis membuka secara acak dan terbuka begitu halam pertama Ayat Maryam. Ia membaca dari awal hingga akhir dan mengingat tubuhnya mulai merinding ketika ayat itu menerangkan dalam detil bagaimana kelahiran ajaib Rasul Isa Al Masih. "Saya sama sekali tak tahu bila Muslim juga mempercayai kelahiran ajaib Yesus tapi mereka tak meyakini ia sebagai anak Tuhan. Jujur sebagai seorang Kristen saya sendiri menganggap tak masuk akal Tuhan akan memiliki seorang anak."

Tanpa memahami mengapa, di dalam toko buku itu ia memegang satu salinan terjemahan Al Qur'an dengan meneteskan air mata. "Saya memutuskan membelinya sehingga saya bisa membaca lebih lanjut apa yang sebenarnya yang diyakini Muslim," tutur Davis. Dalam kondisi emosional saat itu, ia sepenuhnya lupa untuk membeli Injil dan lalu meninggalkan toko buku.

Keesokan paginya, Kamis, ia pergi ke kampus. Dalam perjalanan ke kelas ia melewati sebuah gelaran dagangan pinggir jalan dimana si empunya, pria Senegal menjual berbagai kerajinan, dompet dan boneka afrika. Ia sibuk melayani pembeli. Ketika ia melintas ia mengambil sebuah dompet begitu saja dan melihatnya.

"Khadim"
Si pembeli yang dilayani pria Senegal pergi, penjual itu beralih pada Davis dan tersenyum. Senyum itu belum pernah dijumpai Davis sebelumnya. "Satu-satunya penggambaran yang tepat adalah senyum itu dipenuhi cinta dan cahaya," tuturnya. Davis ingat betul kata-kata yang diucapkan pria Senegal itu. "Hello brother, how are you," (Halo saudara, apa kabar?) Davis menjawab, "Saya baik, terima kasih,"

Ia lalu melihat Davis lebih dekat sambil tetap tersenyum dan berkata, "Brother, apakah anda seorang Muslim?...anda seperti seorang Muslim." Davis luar biasa terkejut dengan pertanyaan dan asumsi itu karena tak ada seorang pun pernah membuat asumsi macam itu sebelumnya dan ia baru saja membeli Al Qur'an dan membacanya beberapa malam lalu. "Sebelum itu saya tak tahu apa pun tentang Islam," ungkap Davis.

Davis menjawab bahwa ia bukanlah Muslim namun ia baru saja membeli Al Qur'an malam lalu dan membaca sebagian. Dengan senyum kian lebar si pria Senegal itu mendekatinya dan memberinya pelukan dan berkata lagi dan lagi, "Oh saudaraku, ini sangat indah. Ini luar biasa saudaraku. Saya sangat bahagia untukmu saudaraku. Ini pertanda baik dari Allah saudaraku. Engkau telah membuatku sangat bahagia saudaraku."

Davis tak pernah bertemu dengan siapa pun yang begitu tulus. "Saya sangat terkejut saat ia memanggil saya saudara dan tersenyum, memeluk dna berkata ia sangat bahagia," tuturnya. Pria Senegal itu bernama Khadim.

Khadim berjalan kembali ke dagangannya dan bertanya apakah Davis bisa membantunya. Davis dengan enteng mengiyakan. Khadim berkata ia adalah Muslim sehingga harus shalat lima waktu sehari di waktu yang ditentukan dan saat itu telah masuk waktu shalat sehingga ia perlu pergi sesaat. Ia meminta tolong Davis untuk menjaga lapaknya dan barang-barangnya. Ia bahkan menunjukkan kotak uang dan bertanya apakah Davis bisa menjualkan barang-barang bila ia pergi sesaat, sehingga bila ada pembeli tertarik ia tak melewatkannya. Khadim memberi tahu harga-harga barang, setelah itu pergi.

Duduk di sana selama 30 menit menunggu Khadim, Davis bertanya-tanya, siapa pria ini. "Ia meninggalkan saya bersama uang tunai. Saya bisa saja membawa semua dan pergi, tak mungkin ia menangkap saya," ungkap Davis. Ia lantas mulai berpikir mengapa ia tak cemas dengan uangnya. Apakah itu, mengapa begitu penting hingga harus meninggalkan uang bersama seorang asing?

Davis juga berpikir mengenai ibadah lima kali yang begitu penting sehingga ia tak bisa meninggalkannya bahkan lebih memilih meninggalkan barang miliknya. Davis teringat lagi bahwa ia sedang menginginkan sesuatu yang penting sehingga ia bisa melupakan masalahnya.

Pria Senegal itu kembali dengan wajah penuh cahaya. Ia memeluk Davis lagi dan terus berkata, "Terima kasih brother, terima kasih banyak." "Saya seperti meledak. Saya bolos dua jam mata kuliah hanya agar bisa bersama denganya. Saya takut jika saya meninggalkan dirinya, saya tak bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang ia bawa bersamanya.

Tak lama kemudia seorang pelajar Pakistan berjalan dan menyapanya dengan salam lalu beralih kepada Davis dan bertanya, "apakah kamu Muslim. Davis berkata, "Tidak, anda adalah orang kedua yang bertanya itu padasaya. Apa yang membuatmu bertanya itu?" Mahasiswa Pakista nitu menjawab, "Saya tidak tahu, anda terlihat seperti Muslim."

"Saya terhenyak lagi. Saya bilang padanya bahwa saya baru saja membaca Al Qur'an dan ia ternyata seperti Khadim, sangat bahagia. Ia malah bertanya apakah saya pernah ke masjid sebelumnya. Saya jawab tidak. Ia bertanya lagi apakah saya mau berkunjung ke salah satu masjid besok. Saya bilang ya, saat itu saya sudah begitu jauh sangat ingin tahu, dan kami pun bertukar nomor telepon.

Pada siang hari berikutnya, Jumat, mahasiswa Pakistan itu datang dan menjemput Davis. Mereka pergi ke rumahnya. Ibu si mahasiswa menyiapkan makan siang dan mereka duduk di lantai. "Saya tak pernah sebelumnya duduk di lantai untuk makan namun hal ini tak terasa asing bagi saya sama sekali," ungkap Davis. Setelah bersantap siang mereka berkendara menuju masjid (Asosiasi Komunitas Muslim/MCA) di Santa Clara, California.

Ketika ia berjalan ke masjid ada sekitar 40 pria berdri berbaris menunggu untuk meyapa Davis, mereka semua tersenyum dan menjabat tangan ketika ia berjalan. Mereka menyilahkan Davis duduk dan mereka pun melingkarinya.

Satu orang bertanya pada Davis apa yang ia tahu mengenai Islam. Ia pun mulai memaparkan kisahnya bagaimana ia pergi ke toko buku menjumpai dan membeli Al Qur'an dan seterusnya. Orang tersebut bertanya lagi apakah ia meyakini keberadaan Rasul Muhammad dan tanpa rasa berat Davis menjawab ya.

Ia ditanya lagi apakah Yesus adalah Tuhan ata anak Tuhan, lagi-lagi dengan tegas Davis menjawab tidak dan meyakini ia adalah nabi. Pria itu  lalu menjelaskan mengenai keberadaan malaikat, kitab-kitab berbeda, wahyu dan hari kiamat, lalu firman Allah. Setelah menerangkan itu, ia bertanya apakah Davis mempercayai itu. Davis kembali dengan tegas berkata ya.

Pria itu berkata, "Ini adalah yang diyakini seorang Muslim dan anda meyakini hal yang sama, apakah kamu kemudian akan mau menjadi Muslim?". Davis ingat ia pun menjawab pertanyaan itu dengan tegas, ringan tanpa beban, tanpa keengganan. Pria itu pun membantu Davis yang berjuang melafalkan syahadat dengan benar dan ia pun menjadi seorang Muslim tepat pada hari ke-17 bulan Ramadhan saat itu.

Davis pertama kali mendengar tentang Islam pada Rabu siang, membeli Al Qur'an pada Rabu malam, bertemu Khadim, si pria Senegal, pada Kamis yang kepadanya menunjukkan esensi sesungguhnya Islam, dengan perbuatan dan karakternya, lalu pergi ke masjid pada Jumat dan menjadi seorang Muslim.

Enam bulan setelah ia menjadi Muslim, ia bertemu lagi dengan Usama Canon yang terkejut dengan peralihannya. Ia pun memintanya menjelaskan Islam. Mereka pergi makan malam bersama dan berbincang mengenai agama. Hari berikutnya Davis giliran membawa Canon ke masjid dan ia mengucap syahadat lalu secara resmi menjadi Muslim. Ia adalah orang pertama yang memberi tahu Davis tentang Islam. "Saya seperti mendapat kehormatan membawanya ke masjid sehingga ia bisa menjadi Muslim," tutur Davis.

"Bukanlah teologi atau debat keagamaan yang membawa saya ke Islam. Itu adalah musik, budaya, teman yang saya percaya dan orang asing yang tersenyum kepada saya. Ironisnya, justru budaya Arab yang pertama kali membuat saya tak ingin mencari tahu tentang Islam," tutur Davis.

Setelah memeluk Islam, Davis malah menghabiskan waktu satu dekade meninggalkan budayanya--budaya yang justru menurut Davis telah mengarahkan ia pada Islam. Ia mulai mengadopsi budaya Arab sebagai budayanya.

Hingga suatu saat ia kembali ke akar budayanya sebagai seorang Amerika dan merekonsiliasi dengan statusnya sebagai Muslim. "Dalam cara yang sangat alami, cerminan alami karakter saya sendiri dan simbosis dengan keimanan saya sebagai Muslim."

"Saya menulis kisah ini hari karena lima belas tahun setelah itu saya berlari ke arah Khadim sementara Usama Canon dan saya sedang berjalan bersama keluarga. Itu adalah kesempatan besar bisa bertemu lagi, seperti dua kesempatan untuk bertemu Usama dan Khadim lima belas tahun lalu. Saya mengambil foto dengannya hari ini, foto pertama saya bersamanya karena saya ingin menunjukkan pada orang-orang, inilah wajah pria yang memenangkan hati saya karena senyumnya yang tulus dan pribadinya yang baik."

Catatan tambahan Davis

Istri saya telah mendengar kisah ini ratusan kali dan kemarin adalah pertama kali ia bertemu Khadim. Kami sedang keluar bersama Usama Canon dan keluarganya dan sepanjang pagi kami berbicara tentang Khadim serta pengaruh yang berikan kepada kehidupan kami berdua. Kami kecewa ketika pergi ke pasar loak dan ia tak berada di sana.

Ketika kami hendak meninggalkan area itu, Usama menunjuk dari kejauhan dan berkata, "lihat siapa yang barusan muncul." Cukup jelas, itu Khadim membawa dagangannya untuk dijual. Ketika mata kami beradu, kami bertatapan cukup lama dan ia memberi saya senyum yang dulu pernah menusuk hati saya dengan cahaya 15 tahun lalu. Saya berbalik ke istri saya dan berkata, 'itu dia senyumnya yang selalu saya ceritakan'. Ia tidak merespon...air matanya cukup memberi konfirmasi bahwa ia memahami betul apa yang saya maksud.

"Mustafa Davis & Khadim"




Sumber  :Republika

Keingintahuan telah merubah hidup Dokter Hadden sepenuhnya

Written By admin on Friday, May 18, 2012 | 2:19 PM


Roger Hadden adalah seorang dokter gigi berasal dari Dungannon, Irlandia Utara. Ia membuka praktek dokter giginya di Inggris. Namun, ia telah lama tinggal di Skotlandia.

Hadden dibesarkan dari keluarga Kristen, dan ia adalah telah memutuskan menjadi Kristen sejak lahir. Meskipun dibesarkan dengan ajaran Alkitab, namun ia tidak terlalu mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.

Hadden layaknya pemuda Inggris kebanyakan, sangat suka bersenang-senang tanpa mengenal batas. Ketika remaja ia mengaku tidak menjalankan agama apa pun, termasuk Kristen. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu ada,” ujarnya.

Ia meyakini alam semesta ada penciptanya dan manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Ketika terus berusaha berpikir tentang Tuhan dari waktu ke waktu, Hadden selalu terganjal dalam keyakinannya.

Ketika melanjutkan studi ke jenjang universitas, ia bertemu banyak Muslim. Pada saat itu ia dan teman-teman Muslimnya terus bergulat dalam diskusi yang membahas tentang keyakinan. Hadden sangat menikmati diskusi-diskusi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Hadden ingin bersikeras memperdalam keagamaannya dan keyakinan Kristennya.
Ketika memasuki tahun terakhir kuliahnya di universitas, Roger Hadden membuat rencana untuk mereformasi keyakinannya dan menjadi seperti orang tuanya dulu; Kristen taat. Dan ia memutuskan untuk memulai memahami bacaan Alkitab.

Ia memulainya dengan memantapkan konsep Trinitas, yang selalu mengganggu pikirannya. Karena pada waktu itu pemahaman agama Kristennya masih awam, kadang ia cukup bingung untuk berdoa. “Apakah doa saya akan ditujukan kepada Tuhan Bapa atau Yesus,” ujarnya.

Hadden kemudian berbicara dengan beberapa pemuka agama Kristen, untuk mendapatkan penjelasan akan konsep Tritunggal. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat meyakinkan dirinya.

Ia kemudian memutuskan untuk terus membaca dan memahami Alkitab, dengan mencari kebenaran di dalamnya.
“Masalah Trinitas membingungkan saya. Karena mengapa semua Nabi dalam Perjanjian Lama berdoa kepada Tuhan dan melakukan tindakan benar berharap pengampunan Tuhan? Dan tidak ada yang berdoa kepada Yesus?” gusarnya.

Bahkan tidak disebutkan kata ‘Trinitas’ dalam Perjanjian Lama, dan sebagian pemuka Kristen bahkan berpendapat tidak ada dalam Perjanjian Baru. Hadden tahu, Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, jadi pasti ada yang salah dengan ini.

Hadden kemudian berbicara dengan teman-temannya di Universitas. Beberapa mereka beragama Sikh, Katolik, ateis, dan beberapa juga ada yang Muslim. Keingintahuan telah merubah hidup Hadden sepenuhnya, dan ia menemukan jawaban dari sahabat Muslimnya.

Dalam Islam diperintahkan menyembah satu Tuhan, yang tidak memiliki mitra atau partner dengan-Nya. “Saya sangat tertarik dengan konsep ini,” kata Hadden. Namun, Hadden terus membaca Alkitab dan membandingkan sumber-sumber Kristen dengan Alquran dan buku-buku Islam.

Ia menemukan bahwa Muslim percaya Tuhan mengirim pesan kepada umat manusia melalui para nabi yang berbeda sejak Adam, manusia pertama. Dan semua nabi itu hanya percaya pada satu Tuhan, Allah SWT. Dan Muslim juga percaya bahwa akan ada hari perhitungan di akhir dunia nanti, ketika semua orang akan dibangkitkan dan dihakimi.

“Saya menyadari bahwa inilah yang saya percaya. Dan apa saya pikir, seperti inilah Alkitab berkata pada saya,” kata dia. Hadden kemudian mendiskusikan hal-hal tersebut dengan kedua orang tuanya, namun mereka tidak terlalu terkesan.
Beberapa bulan memperoleh karunia dan hidayah Allah, Hadden memantapkan hati untuk menjadi seorang Muslim. Ia pun memutuskan memeluk Islam.

Ia meyakini keputusannya ini adalah langkah yang tepat. “Alhamdulillah, terima kasih Allah,” ujarnya.

Hadden kini mencoba menjadi Muslim sejati dan berusaha membantu orang lain. Hari-harinya diisi dengan ibadah, shalat lima waktu dan tadarus (membaca) Alquran. Teman-teman Hadden di universitas sempat terkejut dengan perubahannya, terutama sejawatnya di kedokteran gigi.

Orang tua Hadden pun marah besar, mereka percaya sang anak sudah dicuci otaknya. Ia ingat ketika pertama kali memberi tahu orang tuanya bahwa ia memilih menjadi seorang Muslim, mereka tidak terlalu terkesan.

Kedua orang tuanya mengatakan langkah Hadden itu adalah “tindakan yang dibenci agama”. Namun, itu tidak menyurutkan langkah sang dokter gigi untuk menjadi pengikut Rasulullah. Beberapa bulan kemudian ia memutuskan bersyahadat.

Walaupun sejak masuk universitas Hadden selalu berjauhan dengan orang tuanya, tetapi ia terus mencoba untuk mengunjungi mereka. Kini, ia merasa hubungan dengan orang tuanya telah membaik. Sebab, berlaku baik kepada mereka (orang tua) adalah perintah Allah dalam Alquran.

“Saat ini saya bekerja sebagai dokter gigi di Inggris. Dan telah menikah dengan seorang wanita Muslimah setahun yang lalu. Dan berkat karunia Allah, kami dianugerahi seorang anak bernama Ismael,” tuturnya.[kisahmualaf.com)

Orang Amerika yang Masuk Islam Meningkat Empat Kali Lipat

Written By admin on Sunday, May 6, 2012 | 8:29 AM


Meskipun di satu sisi pemerintah Amerika Serikat cenderung memusuhi Islam dan Negara-negara muslim, sebagian rakyatnya semakin terbuka mempelajari Islam. Akibatnya, penduduk negeri Paman Sam itu semakin banyak yang menjadi mualaf.

“Pasca tragedi 9/11, orang yang masuk Islam meningkat empat kali lipat daripada sebelum tragedi 9/11,” kata tokoh Muslim terkemuka di New York Syamsi Ali.

Imam Masjid Islamic Center New York asal Indonesia itu menyatakan, mereka dengan kesadaran sendiri ingin memahami Islam secara mendalam. Para pemimpin muslim lainnya mengatakan, minat warga Amerika terhadap Islam meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

NBC News menambahkan, sekitar 20 ribu warga Amerika masuk Islam setiap tahun. Sedangkan situs video Voice Of Amerika (VOA), merilis puluhan video yang menunjukkan jumlah perempuan di Amerika Serikat dan Inggris masuk Islam. CNN News pernah menurunkn laporan tentang 1.5 juta warga Amerika masuk Islam.

Muhammad Al-Nassir, Direktur Pusat Islam dari wilayah metropolitan Washington, yang meliputi lima area termasuk Maryland, Virginia dan Washington, DC, menyatakan, sekitar 180 orang Amerika dari berbagai usia dan jenis kelamin telah menyatakan diri masuk Islam, bertepatan dengan adanya ancaman membakar al-Quran pada 11 September tahun lalu dan terkait pro-kontra rencana pembangunan masjid di dekat lokasi Ground Zero di New York.

Nassir menghubungkan, penyebab tingginya warga AS yang menyatakan diri masuk Islam di daerah vital atau kota utama Amerika Serikat karena mereka membaca dan mempelajari tentang Islam dan biografi Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan mereka tertarik lebih jauh untuk belajar tentang Islam.

Seorang warga negara Amerika Serikat, bernama Robert Spencer, dari timur laut Washington, DC, yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi “Abdul Rahman” mengatakan: “Saya mengikuti pertumbuhan pesat agama Islam di dunia Barat, dan orang-orang di sini mengakui bahwa jumlah orang yang masuk Islam setiap tahun di dunia Barat sangat besar dan cepat, dalam 12 tahun telah dibangun lebih dari 1.200 masjid di Amerika Serikat (rata-rata seratus masjid setahun), dan hal itu adalah aneh bahwa sebagian besar orang-orang yang memeluk Islam adalah warga Amerika yang beralih menjadi pendukung Islam yang kemudian melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang luar biasa! ”

Moran (33 tahun), seorang peneliti dari negara bagian Virginia, menegaskan, 20 ribu orang Amerika masuk Islam setiap tahunnya setelah peristiwa 11 September 2001.

“Kunjungan warga AS semakin meningkat ke masjid dan tidak terbatas pada masjid, tetapi mereka juga mengunjungi Islamic Center yang ada di Washington, Virginia, Minnesota, dan tempat lainnya,” kata pimpinan Darul Huda AS ini.

Menurut situs riseofislam.com, jumlah umat Islam di Amerika saat ini berkisar antara 6-7 juta jiwa. Jumlah pastinya tidak diketahui karena sensus penduduk AS tidak mencantumkan agama warga negara. [AN/Hdy]

HIDAYAH ALLAH setelah menyaksikan dan mendengar ZIKIR

Written By admin on Saturday, April 7, 2012 | 8:34 PM

SEOUL - Acara bertajuk “Korea Berzikir” dilaksanakan di Lapangan Uijoengbu, Korea Selatan pada pukul 13.30 waktu setempat. Hadir pada acara tersebut ribuan kaum muslimin dari berbagai penjuru Korea, khususnya di bagian selatan. Mereka berdatangan menggunakan bis, kereta, sewa kendaraan, dan berjalan kaki. Event itu sekaligus menjadi ajang halal bihalal dan bazar kaum muslimin paska Idul Fitri 1432 H, yang juga berbarengan dengan Libur Resmi Hari Raya Warga Korea Selatan, Chuseok.



Hadir pada acara tersebut Dubes RI untuk Korea Selatan, Nicholas T Dammen beserta staf KBRI di Seoul. Ustadz Arifin Ilham menyampaikan tausiyah yang menyihir jamaah. Uraiannya tentang “taubat” yang menyentuh, membuat hampir semua yang hadir mencucurkan air mata dari awal hingga ditutupnya ceramah tersebut pada pukul 16 waktu setempat. Beliau menyampaikan bahwa sungguh besar pahala orang-orang yang ‘kuasa’ untuk berbuat dosa tapi enggan melakukannya karena takut terhadap kedudukan (maqam) Tuhannya dan mengharapkan balasan yang besar di akhirat kelak. Allah SWT membanggakan dan memuji orang-orang seperti demikian dihadapan para malaikat dan seluruh makhluk ciptaanNya. Sehingga surgapun merindukan untuk segera disinggahi orang-orang itu. Lima menit setelah acara berakhir, tiba-tiba seorang warga asli Korea memburu ke belakang panggung.

 Dengan bahasa korea, tahulah kemudian bahwa orang tersebut ingin menemui Ustadz Arifin Ilham untuk menyampaikan keinginannya mengikuti ajaran yang disampaikan dalam ceramah tersebut. In Ho namanya, usia sekitar 30 tahun. Ia mengaku tidak sengaja lewat lapangan tersebut dan bertanya-tanya pada salah seorang jamaah yang duduk di pinggir lapangan tentang apa yang sedang disampaikan ustadz Arifin Ilham. Kalimat demi kalimat diterjemahkan ke dalam bahasa Korea dengan diselingi beberapa pertanyaan In Ho kepada penerjemah dadakannya tersebut tentang Islam. Hingga akhirnya In Ho tersentuh fitrahnya. Mantap untuk masuk Islam. Agama yang baru dikenalnya di situ. In Ho kini bernama Muhammad Ilham. Nama pemberian yang langsung diberikan oleh Ustadz Arifin Ilham. Setelah berkali-kali dibimbing untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, akhirnya dengan izin Allah berhasil juga Muhammad Ilham mengucapkannya. Kalimat yang masih sangat asing bagi mulut dan lidahnya. Di depan ribuan jamaah yang urung bubar dengan peristiwa tersebut. Allahu Akbar. Terimakasih Ya Allah, Duhai Pemilik Hidayah. < Semoga Muhammad Ilham istiqamah hingga akhir hayatnya. Semoga Saudara-saudaranya kaum muslimin Korea lainnya membantunya untuk itu. Semoga pihak yang menjadi jalan keislamannya memperoleh pahalan kebaikan. Korea Selatan dan ribuan jamaah itu menjadi saksi. :: Laporan Wildhan Dewayana dari Seoul, Korea Selatan

Islam,menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya

Written By admin on Wednesday, March 28, 2012 | 9:57 AM

ABDUL AZIZ LAIA (Lianus Laia) berasal dari Lรถlรถmatua. Ayahnya Ama Tiana Laia dan ibunya Ina Tiana Bulรถlรถ. Abdul Aziz yang pernah jadi tukang pangkas rambut di Riau ini adalah anak pertama dari tujuh bersaudara.

Saat remaja, seorang guru berkerudung membuatnya kagum. Beranjak dewasa, hatinya terketuk oleh materi khutbah Jumat serta kumandang tilawah Alquran yang didengarnya setiap menjelang Maghrib. Kini, pria bernama Abdul Aziz Laia itu telah menghafal tiga setengah juz Alquran.

Abdul Aziz berislam sembilan tahun lalu, setelah beberapa tahun lamanya kebenaran Islam menyusup ke dalam sanubarinya. Islam, katanya, menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya. “Tak ada alasan untuk keluar dari agama Allah ini,” kata pria bernama asli Lianus Laia ini.


                                                       
                                                                            ***

Abdul Aziz. Demikian nama yang dipilihnya setelah ia memutuskan mengucap syahadat pada Januari 2002 silam. “Laia,” nama marga yang tak ingin ditanggalkannya, ia sematkan di belakang nama barunya itu. Dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga Kristiani, Aziz tak pernah mengenal Islam. Terlebih di Nias Selatan, kota kelahirannya, umat Islam adalah masyarakat minoritas.

“Yang kuingat, dulu aku dan teman-teman kerap merobek gambar apapun yang disebut-sebut sebagai gambarnya orang Islam. Tapi aku sendiri tak tahu apa itu Islam,” ujar Abdul Aziz kepada Republika yang menemuinya di kampus LIPIA, Jakarta Selatan, Kamis (15/3) lalu.

Satu hal yang ia tahu tentang Muslim kala itu; mereka berbeda. Perbedaan itu ditemukannya dalam diri salah seorang guru perempuan di sekolahnya. “Aku masih ingat, dulu aku sering mengamati pakaiannya. Ia mengenakan kerudung dan rok panjang yang menutupi kakinya, tidak seperti pakaian guru-guru perempuan lain di sekolahku.”

Tak hanya itu, Aziz kagum pada bagaimana sang ibu guru berperilaku dan bertutur kata. “Akhlaknya mencerminkan kebaikan budi pekerti. Jika semua Muslim seperti itu, saya yakin akan banyak sekali orang yang tertarik pada Islam,” kata Abdul Aziz, masih dengan nada kagum.

                                                                            
                                                                           ***

Semua hanya sebatas kekaguman, hingga akhirnya Abdul Aziz menamatkan sekolah menengah pertamanya dan melanjutkan studinya ke sebuah sekolah kejuruan di Medan. Di kota itulah segalanya berawal. Aziz bekerja sebagai fotografer pada sebuah keluarga Muslim dan tinggal bersama mereka di rumah yang berdekatan dengan masjid.

Setiap hari, selama tiga tahun, Aziz mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa’ dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu. “Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (umat Kristiani) pelajari,” kata Aziz.

Berangkat dari situ, perhatian Aziz pada Islam muncul secara perlahan. Khutbah yang didengarnya setiap hari Jumat melengkapi perhatiannya dan mengubahnya menjadi keingintahuan. “Aku semakin ingin tahu lebih banyak hal tentang Islam. Dan secara perlahan pula, aku semakin jarang pergi ke gereja.”

Tak hanya itu, Aziz merasa ada yang mengetuk-ngetuk hatinya kala melihat para jamaah masjid berwudlu. “Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku.” Meski belum resmi berislam, keingintahuan yang bertambah besar setelah itu membuat Aziz memilih menjadi remaja masjid. Sesekali, ia bahkan ikut mengerjakan amalan-amalan Muslim.

                                                                         
                                                                          ***

Lulus dari sekolah kejuruan, pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini lalu merantau ke Riau dan bekerja di sana. Dua tahun pertama di sana, katanya, ia semakin giat mendalami Islam. “Aku mulai membandingkan antara Islam dan Kristen,” katanya.

Pada waktu yang sama, Aziz mulai meragukan dogma-dogma agamanya. Seperti dogma yang mengatakan bahwa dosa-dosa umat Kristiani dihapuskan pada Natal dan tahun baru. “Ketika yang kulihat justru bahwa banyak dari kami merayakan Natal sambil mabuk-mabukan, jaminan pengampunan dosa itu mustahil,” ujarnya.

Hingga akhirnya, ia memilih salah seorang kawannya yang juga seorang penggiat masjid untuk menjawab pertanyaannya. Setelah sempat tidak mampu memejamkan mata pada malam sebelumnya, Aziz melontarkan tiga pertanyaan pada kawannya itu. “Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan.”

Dari uraian sang kawan, Aziz mengetahui bahwa perihal Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surah bernama Maryam, sementara agamanya tidak.

Tak ada lagi keraguan dalam hati Aziz untuk membantah kebenaran Islam saat itu. Tak ingin menunda, Aziz meminta diislamkan saat itu juga, dua minggu setelah ia merayakan Natal. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia.


                                                                         ***

Pasca berislam, Aziz semakin menunjukkan perannya sebagai remaja masjid. Ia dipercaya sebagai ketua, diundang berbicara di berbagai masjid, dan menjadi penggagas pengajian khusus mualaf di Kecamatan Tualang Perawang, Siak, Riau. Selain itu, Aziz juga belajar membaca Alquran pada sang marbot yang mengislamkannya.

Hanya saja, Aziz merasa, ia tak banyak belajar banyak tentang Islam kala itu. Bahkan, ia malu karena tak juga mampu membaca Alquran. “Tak ada yang membimbingku mendalami agama. Namun di tengah kondisi itu, aku tak pernah absen untuk shalat berjamaah di masjid.”

Hingga akhirnya, ia bertemu seorang ustadz yang menyarankan Aziz untuk menimba ilmu agama di Jawa. Di luar dugaan, masyarakat Tualang Perawang mendukung dan bergotong royong menyiapkan biaya keberangkatannya. “Saya bertolak dari Riau dengan membawa uang sebesar 13 juta yang dikumpulkan oleh masyarakat. Subhanallah.”

Di Jawa, Aziz mula-mula menimba ilmu selama tiga bulan di sebuah pesantren di Pandeglang, kemudian setahun di Tasikmalaya. Dari kedua pesantren tersebut, Aziz merasa kebutuhannya sebagai mualaf tidak terpenuhi, dikarenakan tidak ada sistem pembimbingan khusus bagi mualaf seorang seperti dirinya.

Kondisi itu semakin parah karena Aziz mulai kehabisan bekal sehingga harus bekerja. Ia bekerja di klink pesantren dan hanya diperbolehkan ikut belajar bersama para siswa Aliyah setelah tugas-tugasnya selesai. Itupun tanpa terlibat aktif dan menerima rapor karena ia tak mampu membayar SPP. “Di kelas, aku hanya jadi pendengar.”

Solusi datang dari Allah saat ia bertemu seorang teman yang kemudian mengenalkannya pada seorang teman lain dari Medan. Dari teman yang terakhir, Aziz bertemu seorang mualaf yang mengelola pesantren khusus mualaf An-Naba’ Center, Syamsul Arifin Nababan.

                                                                         ***

Ustaz Nababan, demikian Aziz memanggilnya, mengizinkannya untuk tinggal di An-Naba’ Center dan mempelajari Islam tanpa dibebani kewajiban finansial. “Di sanalah aku mulai belajar Alquran secara intensif dan kemudian mulai menghafalnya.”

Atas perjuangan sang ustadz pula, Aziz dapat berkuliah di LIPIA . Di samping itu, semangat dakwah yang tinggi dalam dirinya mendorongnya untuk mendalami ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta Selatan. Selain berkuliah, pria yang bercita-cita menjadi dai ini juga sibuk berdakwah di berbagai tempat.

Mengenai keislamannya, Aziz mengaku puas dan tenang. “Subhanallah, kehidupan menjadi sangat indah dengan Islam.” Keindahan itu, katanya, tidak akan ia gadaikan dengan apapun. “Diiming-imingi apapun, dan diancam dengan apapun, aku tidak akan meninggalkan agama ini. Jiwa ragaku untuk Islam,” tegasnya.

Tentang cita-citanya, Aziz mengaku akan terus mempersiapkan diri untuk itu. Sulung dari tujuh bersaudara ini bertekad untuk terus menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘mumpuni’ di bidang agama. “Setelah lulus S2, aku akan kembali ke Nias dan berdakwah di sana.”

Mereka beramai ramai Bersyahadat di Regent Park Mosque

Written By admin on Monday, March 26, 2012 | 10:11 AM


ATAS saran Imam Syeikh Khalifah, saya ikut dan datang ke pengajian hari Sabtu. Walau tidak bisa datang setiap hari Sabtu, namun kehadiran kami cukup dikenal oleh brother Naugal dan istrinya serta teman-teman yang lain. Selain ke masjid, kami juga menyempatkan bersilaturahim dengan teman lainnya. Kadang kita lanjutkan dengan minum kopi atau makan malam.

Masjid ini memang lokasinya sangat sentral, sangat nyaman karena terletak di pusat kota, dai Regent Park, satu kawasan dengan Baker Street. Tempatnya Madame Tussaud (Rumah muesium lilin) sehingga di masjid ini kadang dijadikan meeting point untuk amprokan atau rendevous, bahasa keren-nya.

Syahdan, ‘Islamic Circle’ ini didirikan oleh brother Yusuf Islam pada tahun 1979, saat ia baru masuk Islam. Alhamdulilah pengajian ini masih berjalan secara langgeng yang kini di koordinir oleh brother Naugal Durani yang beristrikan orang Inggris. Sementara Yusuf Islam sendiri hampir jarang berada di UK, selain beliau punya kesibukan lain seperti sekolahnya yang bernama Islamiya, charity-nya dan juga kegiatan bisnis lainnya.



Pengajian ini berlangsung sangat simpel dan sederhana. Dimulai sekitar jam 3 sore setiap hari Sabtu dan dilaksanakan di basement atau kadang kita menggunakan ruang di lantai pertama.

Pengajian dihadiri oleh siapa saja termasuk non-Muslim atau bagi mereka yang masih mencari tahu tentang Islam.

Pembicaranya bisa dari mana saja dan siapa saja. Selama mampu berorasi dengan ilmu yang memadai dengan durasi selama 1 jam. Biasanya, acara ditutup dan di akhiri dengan minum teh dan biscuit. Setelah itu para jamaah saling bersilaturahmi, saling berkenalan dan menambah teman baru.

Tidak ada sesi tanya jawab apalagi diskusi mengingat setiap pembicara sudah punya jadwal di tempat lain. Atau bila ada permintaan dari para jamaah yang ingin diskusi atau bertanya jawab, dilanjutkan sehabis sholat Ashar.

Saya berada di kantornya Syeikh Khalifa, saya tertarik dengan bundelan sertifikat yang bertumpuk di meja kerja beliau. Saya lihat sertifikat para muallaf (orang yang baru masuk Islam).
Saya beranikan untuk meminta ijin pada beliau dan melihatnya. Alhamdulillah, beliaupun mengijinkan.

Luar biasa. Para muallaf datang dari berbagai macam latar belakang baik bangsa, agama dan warna kulit. Ada yang berasal dari kulit hitam, coklat, kuning dan mereka yang berkulit putih baik dari London bahkan dari Jerman dan Prancis. Bahkan ada yang datang dari Eropa Timur seperti; dari Polandia, Romania dan lainnya.

“Ya Syeikh berapa banyak orang yang berikrar syahadat di masjid ini?”

“Ada sekitar 5-6 orang seharinya, terlebih hari Jumat ramai sekali orang bersyahadat, pokoknya ada saja orang berikrar, “ ujar Syeikh Khalifah, Imam masjid lulusan Universitas Al Azhar ini.

Bahkan di akhir pecan, kadang yang ingin bersyahadat jauh lebih banyak dari biasanya. Jika sudah begitu, acara dilakukan di aula yang lebih besar, ujar beliau.

Selain mengurusi masjid, menjadi imam shalat dalam sehari, Syeikh Khalifah juga mengurus pernikahan, nasihat bagi yang sedang mengalami keretakan rumah tangga dan urusan lainnya tentang Islam di London.

Bergetar

Suatu saat saya dapat SMS untuk menghadiri acara ‘ikrar ber-syahadat’ bagi calon pendatang Muslim. Alhamdulilah, saya sempat hadir dan menyaksikan acara yang amat mengharukan ini.
Banyaknya orang yang akan bersyahadat kali bahkan memerlukan ruangan yang lebih besar karena sister Amina membawa rombongan sekitar 19 orang wanita.
Ternyata jumlah yang 19 jadi membengkak hingga mencapai 28 dan mungkin 30 orang karena ada tambahan 2 kelompok lagi. Satu kelompok lelaki saja dan satu kelompok lagi laki-laki dan perempuan dan bahkan ada yang mendadak sontak ingin berikrar pada saat itu juga.

Yang membuat kami semua agak terkejut, hari itu brother Yusuf Islam tiba-tiba hadir. Betul-betul sebuah kejutan bagi yang lainnya juga. Ia nampak santai dengan mengenakan kemeja berlengan pendek dan berpantalon warna khaki. Tidak memakai baju koko Muslim panjang lengkap dengan sorbannya, sebagaimana yang sering ia pakai.
Beliau duduk di sebelah brother Abu Muntasir. Tak tak ayal, brother Naugal, sang panitia memintanya mengucap sepatah dua patah kata sebagai sambutan.

Sepertinya hadirin mendapat privillage (keistimewaan) dengan kunjungan Yusuf Islam hari itu. Tambahan siraman rohani darinya tentunya menambah semangat para muallaf. Maklum Yusuf Islam adalah seorang tokoh selebriti yang kami banggakan di UK.

Momen menggetarkan ketika mendengar para calon saudara-saudari Muslim mulai mengucapkan kalimah Syahadat.

“Asy hadu..ala... ila..ha iIl Allah..wa asyhadu ana..Muhammad dar Rasulullah....” (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris).

Usai bersyahadat mereka ditakbiri lalu disalami dan berpelukan antara teman, sahabat mereka dengan penuh haru. Bahkan ada yang terisak-isak menangis.
Lalu setiap mereka dapat paket (hadiah) berupa sajadah, al-Quran dan beberapa leaflet atau buku-buku kecil berisi panduan tentang Islam

Berikrar syahadat adalah sebuah transformasi akan sebuah kehidupan untuk seorang manusia dengan segala risiko dan akibat. Tak sedikit para muallaf ini akan mengalami isolasisi atau kehilangan keluarga, teman dan sahabat atau masyarakat sekitarnya. Maklum, keyakinan baru ini akan menghilangkan kebiasaan yang mereka lakukan dulu; baik soal makanan, minuman dan pakaian harus mereka rubah pula. Dan kadang, mereka jauh lebih kaffah dan komit dari pada kita yang lahir sebagai Muslim di Indonesia.

Menariknya lagi, hari itu yang bersyahadat terus bertambah untuk berikrar. Mereka sibuk mengisi formulir baik lelaki dan perempuan. Dan Syeikh Khalifa melakukan dan membimbing mereka untuk bersyahadat sampai 3 atau 4 kali.

Ada sedikit kelelahan pada wajah Syeikh Khalifah karena harus melayani dan membimbing orang-orang yang ingin memeluk Islam hingga sore hari. Namun beliau masih sempat melemparkan senyumnya di saat saya mengarahkan kamera ke wajahnya.

Terus Meningkat

Seperti diketahui, dalam masa seputuh tahun terakhir ini, diperkirakan ada sekitar 100.000 orang British (Inggris, Scottish, Irlandia dan Wales) telah mengikrarkan dua kalimah Syahadat. Mereka menemukan dan memeluk agama baru, bernama Islam. Ini menurut angka statisktik dari para peneliti yang berbasis di Universiats Swansea.

Berita ini sudah beredar di koran cetak atau eletronik tahun lalu yang lumayan membuat dunia terkejut. Ini berita yang luar biasa significan dibanding satu dasawarsa lalu yang berjumlah sekitar kurang lebih 60.000 orang.

Yang mengagumkan, dua pertiga dari jumlah yang bersyahadat adalah wanita, dan rata-rata cukup muda. Berarti Islam amat diminati perempuan di Eropa.  [baca juga; Lautan Jilbab di Britania Raya]

Ini sangat kontradiktif dibanding tuduhan bahwa Islam itu menindas (oppress) perempuan atau tuduhan tidak ada kebebasan terutama dalam hal mengenakan jilbab, menikmati pendidikan, bekerja, memilih suami, soal kawin cerai dan soal harta waris.
Faktanya, wanita Eropa justru berbondong-bondong masuk Islam, menyatakan testimoni-nya bertauhid dan mengakui ke Rasulan Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam.

“Jazakllah khair ya Sheikh for your great job.”

Dan kepada saudaraku yang baru, semoga Allah tidak akan menarik kembali hidayah yang telah Allah semaikan di lahan qalbu kalian. Mudah-mudahan iman terus tumbuh subur bersemi dan akan kuat dan tangguh bak pohon-pohon yang memultigandakan melalui anak cucu mereka. Amien ya Rabb.*/Nizma Agustjik, London, 18 Maret 2012
Keterangan foto: 1. Seorang muallaf mengangkat sertifikat tanda telah memeluk Islam. 2, kehadiran Yusuf Islam yang mengagetkan dan 3, para wanita Eropa yang antri mengucapkan Syahadat[Hidayatullah]

Awalnya ingin cari kesalahan dan kelemahan Al Qur'an tapi justru akhirnya memilih jadi muslim

Written By admin on Tuesday, March 20, 2012 | 10:43 AM

Aminah Assilmi, mantan jurnalis penyiaran ini harus membayar mahal keislamannya. Ia diceraikan oleh suaminya, kehilangan pekerjaan dan hak asuh atas kedua anaknya, serta ditinggalkan teman-temannya. Bahkan, ayahnya mengatakan ia layak dibunuh.

Tapi, Aminah tak mundur selangkahpun, dan Allah mengembalikan semuanya berlipat ganda. Tak hanya mendapatkan kembali kepercayaan dan penerimaan dari orang-orang terdekatnya, Aminah bahkan dapat kembali memeluk orang-orang terdekatnya sebagai saudara sesama Muslim. Menjadi ketua Persatuan Wanita Muslim Internasional dan masuk dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh dunia pada 2009 adalah hadiah lain atas keteguhan hatinya.


***

Semua berawal dari kesalahan yang tak mampu ia hindari pada 1975 silam. Tahun itu menjadi tahun pertama penggunaan komputer untuk pemrograman mata kuliah di kampusnya. Tak disangkanya, terjadi kesalahan sehingga komputer memasukkan Aminah dalam mata kuliah yang tak pernah dipilihnya; Teater.

Sayangnya, Aminah baru mengetahui kesalahan itu setelah hari aktif perkuliahan memasuki minggu kedua karena harus mengurus bisnis keluarganya di Oklahoma. Perubahan tak bisa dilakukan. Dan Aminah yang berkuliah dengan beasiswa penuh tak mungkin meninggalkan kelas itu dan memperoleh nilai 'F' yang akan membatalkan beasiswanya.

Aminah adalah perempuan cerdas yang selalu tampil menonjol. Selain memperoleh beasiswa untuk kuliahnya, jemaat Southern Baptist (aliran gereja Protestan terbesar di Amerika Serikat) ini bekerja sebagai jurnalis penyiaran dan memenangkan penghargaan yang diperuntukkan bagi para profesional.

“Namun satu hal lain tentang diriku adalah bahwa aku seorang yang pemalu,” katanya. Karena itulah, Aminah merasa kacau ketika harus mengikuti kelas yang mengharuskannya tampil di hadapan sejumlah orang.

Atas saran suaminya, Aminah memilih mencari solusi daripada mengorbankan beasiswanya. Ia mendatangi dosennya untuk meminta saran dan bantuan terkait perencanaan pertunjukan yang harus ia tampilkan. Sang dosen menyanggupi dan Aminah segera menuju kelas Teater untuk pertama kalinya.

Di pintu kelas, Aminah tak mempercayai pandangannya. “Aku melihat sejumlah orang Arab (Muslim) di sana. Tak ada yang terlintas dalam benakku kecuali membatalkan niatku mengikuti kelas itu. Aku tidak mungkin berada di antara orang-orang kafir itu,” kisahnya dalam buku 'Choosing Islam' yang ditulisnya.

Tanpa pikir panjang, Aminah kembali menutup pintu kelasnya dan berjalan pulang. Di rumah, ia kembali ditenangkan suaminya. “Ia bilang, ‘Mungkin Tuhan punya rencana di balik ini’.”

Dua hari lamanya Aminah berdiam dalam kamarnya. Setelah berpikir panjang, ia membenarkan kata-kata suaminya dan berpikir mungkin dalam kelas Teater itu ia bisa mengkristenkan orang-orang berhijab di kelasnya.

Maka, Aminah mulai berbicara banyak hal tentang Kristen dan Yesus pada teman-teman Muslimnya, dan mengatakan mereka akan masuk surga jika mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat mereka. “Mereka menyikapi penjelasanku dengan sangat sopan, namun tak satupun dari mereka masuk agamaku,” ungkap Aminah.

Aminah tak menyerah. Ia pun berencana mencari kelemahan dan kesalahan Islam, yakni dengan mempelajari kitab mereka. Dari salah seorang temannya, Aminah mendapatkan salinan Alquran. Ia tekun membaca dan mempelajarinya setelah itu, dan membuat catatan-catatan mengenai hal-hal dalam Alquran yang dapat diperdebatkan. “Niatku masih sama, mengkristenkan mereka,” tegas dia.

Tanpa ia sadari, keseriusan Aminah mempelajari Alquran justru membawa perubahan pada dirinya. Ia tidak lagi tertarik untuk pergi ke pesta dan klub-klub malam, aktivitas yang biasa ia lakukan bersama suaminya. “Suamiku menaruh curiga dan mengira aku selingkuh. Lalu ia mengusirku dari rumah,” jelas dia.

Setelah berpindah ke apartemen yang baru bersama kedua anaknya, misi Aminah tak berubah. Ia terus mendalami Alquran untuk mengkristenkan teman-teman Muslimnya di kelas Teater.

Satu setengah tahun sejak mulai mempelajari Alquran, pada 21 Mei 1977, seseorang mengetuk pintu apartemennya. Aminah terkejut mengetahui tamunya adalah seorang pria dengan pakaian panjang berwarna putih, dengan kain surban di kepalanya. Pria itu didampingi tiga orang pria lain, pria itu mengatakan, “Saya tahu Anda ingin menjadi seorang Muslim.”

Aminah membantahnya dan mengatakan dirinya adalah seorang Kristiani yang tidak pernah berkeinginan masuk Islam. “Namun kukatakan padanya bahwa aku memiliki beberapa pertanyaan jika ia tidak keberatan.” Maka Aminah mempersilahkan keempatnya masuk.

Aminah mengeluarkan catatan-catatan yang telah dibuatnya dan menanyakannya pada pria yang mengaku bernama Abdul Aziz al-Shiek itu, yang sabar menjawab semua pertanyaan Aminah. “Pria itu menjelaskan, mencapai pengetahuan tentang segala sesuatu adalah seperti menapaki anak-anak tangga. Jika aku melangkah tergesa-gesa dan melewati beberapa anak tangga sekaligus, aku bisa jatuh.”

Setelah berbincang dan mendiskusikan banyak hal, di hari yang sama, Aminah mengambil keputusan besar. Ia bersyahadat di hadapan keempat tamunya. “Namun aku belum bisa menerima beberapa hal dalam Islam, sehingga di belakang dua kalimat syahadat yang kuucapkan, aku menambahkan pengecualian, ‘Tapi aku tidak akan mau menutup rambutku dengan kerudung dan tidak akan pernah setuju dengan poligami',” kenangnya.

Namun di atas semua, kata Aminah, syahadat yang diucapkannya hari itu menjadi langkah awal yang mengubah hidupnya. “Islam adalah hidupku. Islam adalah detak jantungku, darah yang mengalir di pembuluh venaku. Islam adalah kekuatanku, yang membuat hidupku begitu indah dan mengagumkan. Tanpa Islam, aku bukanlah apa-apa," katanya seperti dikutip laman www.welcome-back.org.

Aminah terus mendalami Islam, dan menjadi aktivis Islam yang giat berdakwah hingga akhir hayatnya. Dua tahun lalu, 5 Maret 2010, sebuah kecelakaan mobil di New York menewaskan perempuan luar biasa ini, dalam sebuah perjalanan pulangnya usai menyampaikan pesan tentang Islam.[republika]

Berawal dari Buku Harun Yahya dan Rasa ingin Tahu Akhirnya Ia Memilih Jadi Muslim

Written By admin on Friday, March 16, 2012 | 10:46 PM


Terlepas dari banyaknya kontroversi terkait sosok Harun Yahya dengan karya-karyanya, namun beberapa karya Harun Yahya telah membuat banyak orang tersadar dan mulai mengkaji Islam, sebut lah salah satunya Ron Mastro yang mulai tertarik Islam setelah membaca salah satu buku karya Harun Yahya.
Dan berikut kisah perjalanan Ron Mastro menemukan Islam:
Nama saya Ron Mastro, dan saya ingin memberitahu Anda hari ini bagaimana saya tertarik mengkaji dan masuk Islam setelah membaca karya Harun Yahya.

Ketika saya masih kecil, saya dibesarkan sebagai seorang Kristen di Amerika Serikat. Saya pergi ke gereja setiap hari Minggu dan saya pergi ke Sekolah Minggu, sama seperti anak-anak Amerika lainnya lakukan. Tapi pada saat saya berusia sepuluh atau sebelas tahun, saya berhenti pergi ke gereja, karena saya tidak bisa menemukan jawaban yang saya cari, dan hal itu membuat saya sedih, belum penjelasan yang saya terima dari gereja belum bisa memuaskan saya.
Di masa remaja saya, saya telah meninggalkan semua agama secara bersama-sama. Meskipun begitu, saya tidak pernah melakukan sesuatu yang "buruk," tapi saya melupakan Tuhan, sya lupa bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan mengasihi seluruh umat manusia.
Di awal usia tiga puluhan, saya pindah ke ibukota Praha di Republik Ceko, kota yang indah penuh dengan arsitektur yang menakjubkan dan banyak hal yang menyenangkan.
Suatu hari, ketika saya dalam perjalanan pulang, saya berhenti di stasiun kereta, dan di stasiun kereta ada toko buku kecil. Saya menemukan satu buku dalam bahasa Inggris berjudul "Matter: The Other Name for Illusion" karya Harun Yahya. Yang buku tersebut akhirnya saya beli.
Menemukan Islam
Saya membawa pulang buku dan mulai membacanya. Dan ketika saya membaca buku ini, saya menyadari bahwa banyak pertanyaan yang saya miliki di masa muda bisa terjawab. Apakah sifat realitas? Apakah kebenaran itu? Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab bagi saya di tahun-tahun saya sewaktu masih muda.
Singkat cerita, semakin saya mendalami buku-buku yang saya baca membuat banyak hal yang mulai masuk akal bagi saya. Saya mulai mengerti dan memahami hal-hal di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
Karena rasa ingin tahu dengan Islam membuat saya berhasil memperoleh kitab suci Al-Quran. Jadi, saya mulai membaca Al-Quran (terjemah, tentunya) dari surah pertama. Dan saat saya selesai membacanya, beberapa hari kemudian, dalam hati saya saya menyadari bahwa saya telah berurusan dengan kebenaran. Alhamdulillah.
Saya menyadari bahwa Al Qur'an benar-benar firman Allah yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad, saw. Ini menjawab begitu banyak pertanyaan yang saya punya; pertanyaan tentang Yesus, pertanyaan tentang Musa, Daniel, Yehezkiel dan banyak dari nabi besar Allah yang lain, damai sejahtera atas mereka semua.
Dan saya mulai menyadari secara perlahan dengan bertahap sehingga terbuka hati saya bahwa jalan Islam adalah jalan yang benar untuk mengenal Allah, dan Islam adalah agama yang benar untuk umat manusia.
Hari ini saya sekarang tinggal di Jerman, saya memiliki pekerjaan yang baik, saya sangat senang dengan apa yang saya miliki, saya sangat senang dengan apa yang saya lakukan. Saya melakukan shalat setiap hari, dan saya tahu bahkan jika saya telah melakukan hal-hal buruk di masa lalu, Allah akan mengampuni saya karena dosa saya.
Sesungguhnya, Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia, dan benar-benar Islam semuanya dari Allah, Alhamdulillah.(fq/oi/eramuslim)

Inilah Ilmuwan yang "islamkan" 5 Mahasiswa sebelum menjadi Muslim

Written By admin on Wednesday, March 14, 2012 | 10:02 PM

''Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'' (QS. An-Nisa: 56)

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.

                                                                    
                                                                        ***

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Tejasen yang beragama Buddha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.

Setahun kemudian, Mei 1982, Tejasen menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.

Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Alquran. Ayat 56 surah An-Nisa’ mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”

                                                                               ***

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Di akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Maha Pencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat.[REPUBLIKA]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger