Home » » Kodiran Salim : Membentengi Akidah dengan Mempelajari Agama Lain

Kodiran Salim : Membentengi Akidah dengan Mempelajari Agama Lain

Written By admin on Monday, April 13, 2009 | 8:01 PM

Muntilan, Jawa Tengah, 12 tahun silam. Kodiran Salim yang kini dikenal sebagai seorang kristolog, mengalami peristiwa yang akan mengubah perjalanan hidup religinya.

Peristiwa itu, seorang anak tetangga berusia 10 tahunan mendatanginya dan menyatakan ingin pindah agama lain. Dia terperangah dan lantas bertanya kenapa ?. Si anak menjawab singkat, ''Karena tuhan kita tidak kelihatan.''

Selidik punya selidik, ternyata si anak ini sebelumnya bermain ke rumah teman sebayanya yang beda agama. Di sana dia diajak main ke kamar temannya tersebut. Ketika asyik bersenda gurau, si anak ini heran melihat ada gambar seorang pria yang tertempel di dinding kamar. ''Siapa itu?'' tanya dia. Kemudian dijawab, ''Itu tuhan saya. Dia yang menjaga saya kalau sedang tidur. Kalau tuhanmu mana?'' teman tadi balik bertanya. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut si anak.

Berawal dari kejadian inilah, Kodiran merasa trenyuh dan prihatin. Keinginan si anak pindah ke agama lain sangat menyentuh hati. Bukan salah anak tersebut, tapi sedari dini seorang Muslim seharusnya dibekali pendidikan agama yang cukup. Tapi masalahnya, bagaimana cara yang efektif untuk mengajarkan dan menanamkan keimanan kepada umat sejak dini?

''Sungguh ironis, umat Islam sendiri banyak yang belum paham Islam serta Kitab Suci Alquran, baik bacaan apalagi maknanya,'' tutur Kodiran. Di lain, katanya, pihak umat agama lain justru serius mempelajari Islam.

Menurutnya, sangat berbahaya apabila umat Islam tidak membentengi akidahnya. Pemahaman yang sepotong-sepotong terhadap inti ajaran Islam bakal membuat umat tergerus keimanannya. Terdorong keinginan memajukan dan membentengi akidah umat, Kodiran pun tergerak untuk mengkaji Alquran secara lebih mendalam.

Tak hanya itu, Kodiran juga mempelajari agama lain. Pendek kata, selama sepuluh tahun lebih ayah tiga anak ini serius mempelajari kitab suci agama lain. Dia menyebut kegiatannya sebagai kajian lintas kitab suci. ''Salah satu cara membentengi akidah, ya mempelajari agama lain,'' ujarnya.

Dorongan mempelajari agama lain semakin kuat manakala dia berkenalan dengan sejumlah mualaf -- orang yang baru memeluk agama Islam. Ia menyebut beberapa nama: Dr Bambang Sukamto, Samsul Arifin Nababan, Iksan Mokoginta, Romanus Lasiman, dan David Mandey. Kodiran terperangah begitu mengetahui mereka yang baru masuk Islam ini jauh lebih kritis dan serius dalam beragama.

Kodiran langsung teringat pada surat Al-Maidah ayat 54. Dinyatakan, jika banyak umat Islam yang sudah mengendur imannya akan didatangkan suatu kaum yang penuh kasih sayang terhadap umat Islam dan keras kepada kaum kafir. ''Dan saya berpendapat yang dimaksudkan dengan 'suatu kaum' dalam surat Al-Maidah tadi adalah orang-orang mualaf tersebut,'' ungkapnya.

Sejak itu Kodiran mempunyai kepedulian terhadap para mualaf. Bersama mereka, dia bahkan mendirikan forum komunikasi lembaga pembina mualaf yang akan di-/launching/ tanggal 26 April mendatang.

Kodiran menjelaskan, tidak terlampau sulit mempelajari agama lain. Cukup dengan membaca kitab suci dan buku-buku agama. ''Saya senang membaca kisah sejarah, dan kebetulan dalam Injil banyak cerita yang ternyata menarik. Jadi tidak terlalu sukar memahaminya.''

Hasil kajiannya itu lantas dia bandingkan dengan pemahamannya mengenai Alquran. Rangkumannya oleh Kodiran dibuatkan buku perbandingan agama.

Pengetahuan agama ini kemudian 'difungsikan' untuk menjelaskan dan menyadarkan inti ajaran agama kepada pemeluk Islam dan orang-orang yang baru memeluk agama Nabi Muhammad SAW itu. Dia banyak berdakwah di masjid, kampus, kantor, dan majelis taklim. Di samping itu Kodiran juga sering berdialog dengan kalangan non-Muslim seperti pernah dilakukan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

''Berdialog secara baik-baik dan hanya bertujuan mencari kebenaran. Lepaskan atribut keagamaan kita, kemudian berkomunikasi membahas apa esensi Islam dan agama lain itu,'' Kodiran menjelaskan.

Menurutnya, dalam berdialog itu tidak ada paksaan dan murni mencari kebenaran. ''Dalam surat Al-Baqarah ayat 256 jelas dikatakan bahwa tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Juga tidak boleh memaksa tapi cukup memberi peringatan,'' urai Kodiran.

Dalam berdakwah ala Kodiran itu tidak hanya dilaksanakan di podium tapi juga di luar ruang tertutup, dan dilakukan secara personal. Hari Ahad misalnya, Kodiran suka naik bis dan mengajak ngobrol orang-orang yang ditemuinya. Dari situ, jika yang bersangkutan tertarik, dialog bisa berlanjut.

Ada pengalaman menarik. Seorang pemeluk agama lain pernah berdiskusi hampir tiga bulan dengan Kodiran. Setelah tahu kebenaran agamanya, orang tersebut justru memilih masuk Islam. Kodiran berprinsip, dalam mengislamkan seseorang yang penting bukan bagaimana mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, tapi memberi pemahaman terlebih dahulu tentang Islam. ''Setelah itu barulah dituntun Dua Kalimat Syahadat.''

Kodiran mencatat, ada dua alasan mengapa orang dari agama lain beralih masuk Islam. Pertama, karena sudah memahami Islam dan ajaran agama yang dipeluk sebelunya. Kedua, karena pernikahan.

Akan tetapi, lanjut Kodiran, perlu dicermati karena banyak yang masuk Islam karena hanya agar bisa melangsungkan pernikahan. Yang terakhir ini, menurutnya, banyak yang melakukannya hanya sekadar formalitas. ''Jadi harus hati-hati dengan perkawinan lintas agama. Sudah banyak kejadian yang ujung-ujungnya merugikan umat Islam,'' tukasnya.

Menurutnya, banyak orang yang sebenarnya memahami dan bahkan mengakui kebenaran Islam. Hanya saja, baik karena harga diri, gengsi, atau alasan lain, mereka masih enggan memeluk agama Islam.

Kadiran enggan menyebutkan berapa banyak orang yang sudah ia Islamkan. Ia mengatakan, hal itu tidak terlalu signifikan dibicarakan. Yang terpenting, katanya, adalah upaya untuk meneguhkan kebenaran Islam dan membentengi akidah umat.

Setelah sekian lama berkutat dengan kajian lintas agama, Kodiran merasa bersyukur semakin banyak orang yang bisa ia bimbing. Ia sendiri juga mengaku semakin kuat imannya. ''Saya juga semakin yakin bahwa Islam merupakan agama yang paling benar.''

Kodiran lebih jauh mengemukakan, banyaknya orang Islam yang lalai dan tidak paham Alquran tidak terlepas dari pengaruh orientalis Snouck Horgronye. Nama yang terakhir ini sengaja 'dipasang' pemerintah kolonial Belanda untuk melemahkan iman penduduk pribumi. Horgronye dalam berbagai kesempatan selalu menekankan agar dalam membaca Alquran yang dipentingkan adalah seni membacanya. ''Seni membaca Alquran memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana memahami dan melaksanakannya.''

Menurut Kodiran, untuk memahami Islam seseorang tidak perlu menjadi ahli. Tapi, katanya, minimal ia tahu makna agama yang dipeluknya. ''Inti ajaran Islam adalah berbuat baik dan tidak mempersekutukan Allah. Namun kini sebagian umat lebih suka mengejar tauhid tapi mengabaikan perbuatan baik,'' ia menegaskan.

Untuk menyadarkan umat, menurutnya, mesti disesuaikan dengan karakteristik mereka. Bagi mereka yang intelektual bisa diarahkan ke pemikiran yang sesuai petunjuk Allah dalam Alquran. Sedangkan untuk kalangan bawah dengan perumpamaan. ''Ada kepuasan tersendiri kalau bisa menyadarkan orang lain,'' kata Kodiran yang punya moto kalau mempunyai kesenangan, berbagilah dengan orang lain agar kesenangan itu bermanfaat.

Menilik model pendidikan agama di pesantren-pesantren, Kodiran sependapat jika harus ada pembenahan. Sebab, di pesantren kini lebih banak mempelajari kitab-kitab buatan manusia sebagai rujukan pertama. Sementara Alquran kurang disentuh padahal itulah sumber ilmu.

Ia mengibaratkan seseorang yang naik pohon. Katanya, orang yang memanjat pohon harus dari batangnya, baru ke dahan dan ke ranting. ''Tapi yang ada kini justru naik tangga untuk ke ranting. Akibatnya banyak yang tidak tahu fungsi menjalankan ibadah.''

Ia mencontohkan tentang ibadah shalat. Menurutnya, karena banyak yang tidak memahami shalat dalam hubungannya dengan kehidupan, lantas banyak yang menggerutu. Shalat dirasakan menjadi beban dan bukan kebutuhan. Akibat lanjutannya, umat Islam menjadi mudah masuk perangkap sistem pendangkalan akidah. yusuf assidiq (RioL)

BIODATA


Nama : Kodiran Salim
Kelahiran : Muntilan, Jateng, 6 Juni 1946
Status : Berkeluarga, istri, tiga anak dan dua cucu
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : Sarjana akuntansi YAI
Organisasi : - MT Al-Manthiq (sekretaris)
- Ulil Albab (ketua umum)
- Fakta (pendiri)
- Korps Mubaligh Muhammadiyah Jakarta
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger