Home » » Musibah tanggul Situ Gintung

Musibah tanggul Situ Gintung

Written By admin on Saturday, March 28, 2009 | 11:19 PM

Tanggul Situ Gintung jebol memendam puluhan rumah warga. Petaka itu diawali dari hujan deras Kamis 26 Maret 2009 siang, hingga berujung ambrolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat 27 Maret dini hari.

"Kemarin siang itu hujan deras sejak pukul 14.00 WIB sampai maghrib jam 18.00 WIB hingga air tanggul penuh. Malam sekitar pukul 00.00 WIB, tanggul sudah mulai retak, tidak lama jebol, byuurr.." kisah warga Kampung Situ Gintung, Desa Cireundeu, Tangerang, Mulyadi kepada detikcom, Jumat (27/3/2009).

Tanggul yang jebol posisinya di bawah persis di belakang RM Situ Gintung. Di atas Situ Gintung itu, menurut Mulyadi, terdapat bangunan jembatan beton yang dibangun di zaman Belanda. Karena air bertambah deras, imbuhnya, maka terjangan air pun mengikis tiang jembatan beton itu.

"Jembatan pun akhirnya ambrol pukul 03.00 WIB," ujar Mulyadi yang rumahnya juga terendam persis disamping jembatan yang ambrol itu.

Setelah itu, debit air makin deras. Menurut Mulyadi, sudah ada 23 rumah tetangganya yang tenggelam karena tanggul Situ jebol.

Pantauan detikcom, setidaknya ada puluhan rumah yang terendam, lebih dari 23 rumah. Air merendam rumah dari Situ Gintung sampai Poncol ke arah Cireundeu. Tak hanya rumah, ada juga beberapa fasilitas umum seperti masjid, dan lainnya


jumlah korban jebolnya Tanggul Situ Gintung Cirendeu terus bertambah menjadi 62 orang. 52 orang sudah teridentifikasi sementera 10 jenazah belum teridentifikasi.”Sampai Jumat (27/3) pukul 15.00 WIB kami mencatat 62 orang meninggal karena jebolya Tanggul Situ Gintung,” kata Kasubdit Tanggap Darurat Direktorat Bantuan dan Jaminan Sosial Departemen SOsial, Taslim, Jumat (27/3) di Jakarta. Untuk melakukan penyusuran terhadap wilayah bencana dan menginventarisir kerugian, Depsos mengerahkan satuan taruna siaga bencana (tagana) sekitar 190 orang.”Mereka saat ini masih terus melakukan penyisiran di wilayah banjir dan juga melakuka evakuasi dan pertolongan pada para korban,” kata Taslim.Mereka berasal dari DKI,Banten, Tangerang dan Pengendalian Operasi Depsos. Tagana ini, kata Taslim, juga menanagai para korban yang mengalami guncangan. Dapur lapangan dari Dinas Sosial DKI sudah didirkan di dua lokasi yang bisa membuat paket makanan untuk 1.000 orang per hari.Tenda darura untuk pengungsi didirikan di empat titik.Sebanyak 300 paket makanan berupa sarden, mie instant, kecap dan saos sambal juga sudah disalurkan ke lokasi. Untuk kebutuhan sandang, Depsos memberi bantuan berupa 5.000 potong kain sarung, 1.000 potong kaos dewasa, baju batik panjang 1.000 potong, seragam sekolah dasar masing-masing 1.000 stel untuk laki-laki dan perempuan. Velbet sebanyak 200 unit juga sudah tersedia di tenda penampungan.

Naik ke Atap, Ibu dan Bayinya Tetap Terseret Arus Hingga Tewas

Kisah duka terus mengalir dari kamar jenazah RS Fatmawati akibat jebolnya tanggul Situ Gintung. Kali ini kisah sedih menimpa keluarga Putut (27) yang tinggal di Jl Aryaduta, Ciputat, Banten. Betapa tidak? Dengan mata kepala sendiri, Putut menyaksikan keluarganya hanyut diterjang arus air Situ Gintung.

Kisah pilu itu berawal dari subuh kelabu pada hari Jumat (27/3/2009). Sekitar pukul 05.00 WIB, Putut mendengar suara gemuruh air. Dengan terburu-buru dia beserta isterinya, Siti Rohani (24), sambil menggendong anaknya, Zahra (6 bulan), mengajak pembantunya naik ke atas atap untuk berlindung.

Tapi siapa nyana air semakin tinggi dan melampau atap tempat mereka berlindung. Akibat terjangan air yang kencang, keempat orang ini pun terhempas. Mereka mencoba bertahan dengan memegangi atap rumah, sementara Zahra terus berada dalam pelukan sang ayah.

Tapi apa mau dikata. Arus yang menerjang terlampau kuat. Tak ayal lagi mereka berempat akhirnya terseret arus. Masih untung bagi Putut, dirinya tersangkut di sebuah pohon hingga tak ikut terbawa arus lebih jauh. Dia mampu bertahan hingga air surut dan akhirnya selamat.

Namun malang bagi Zahra. Dia terlepas dari pelukan sang ayah hingga turut hanyut terbawa arus. Sedangkan istri dan pembantu Putut telah terbawa arus entah ke mana.

Betapa sedihnya hati Putut ketika mendapati istri, anak, dan pembantunya itu telah terbaring di RS Fatmawati. “Kami baru 1 tahun tinggal di situ. Kami belum sampai 2 tahun berkeluarga,” ujar Putut yang tampak mengalami luka lecet-lecet saat ditemui di RS Fatmawati, Jl Fatmawati, Jakarta.

Dengan dibantu kursi roda, Putut memeluk Zahra yang telah berbaring bertutupkan kain kafan di pangkuannya. Kesedihan tampak membayang dengan jelas di mukanya yang pucat. Dia terus-terusan menunduk menatap anak semata wayangnya yang telah meninggalkannya selamanya. Akhirnya, dengan diantar kerabat, Putut meninggalkan RS Fatmawati dan pulang ke rumah orang tuanya di Ciputat.

Pohon Pinang Selamatkan Seorang Kakek

Cecep Rahman (64) hanya duduk pasrah. Istrinya, Sri Rukmini (61), putranya Fakhrurozi (25), cucunya Dita Naswahab Syarif (10 bulan) serta besannya, tewas ditelan derasnya air akibat jebolnya tanggul Situ Gintung Ciputat Tangerang Jumat (27/3) subuh. Cecep yang ditemani putrinya Helda dan mantunya Cicih, berusaha tabah melepas jenazah istri dan putranya yang dimandikan dan dikafankan di kampus STIE Achmad Dahlan Ciputat.

”Karena terbawa air yang sangat deras, saya nyangkut di pohon pinang. Lumayan tinggi, tapi air masih tetap mengejar. Di tengah usaha menyelamatkan diri, saya mendengar teriakan dari seseorang yang ternyata mantu saya Cicih (23). Dia juga nyangkut di pohon. Dengan keikhlasan hati saya, saya berusaha semaksimal mungkin mudah-mudahan saya selamat, andaikata saya nggak selamat,

umur saya dah nggak ada, saya usahakan bantu mantu saya agar ia selamat,” ungkap Cecep Rahman pilu yang ditemui //Republika di Kampus STIE Achmad Dahlan Gintung Ciputat Jumat (27/3) petang.

Lebih lanjut Cecep mengungkapkan, waktu di atas pohon pinang, ia menyaksikan air masih deras. ”Kebetulan ada kasur yang lewat, saya suruh mantu saya untuk naik kasur, sambil saya berusaha berenang berpegangan kepada sebuah balok, terus saya berusaha melawan derasnya arus air. Saya sempat kehabisan tenaga, beruntung kemudian saya bisa berpegangan ke pohon rambutan. Di atas pohon rambutan saya sempat bertahan selama lebih dari satu jam sambil menunggu nyusutnya air. Ini seperti Tsunami kecil, yang kejadiannya nggak pernah keduga sebelumnya,” jelas Cecep.

Musibah yang terjadi setelah shalat subuh itu, kata Cecep, memang nggak pernah keduga. ”Istri saya sempat bilang, Pak di luar hujan. Begitu saya longok dari pintu, ternyata bukan hujan yang datang, tapi air kencengnya bukan main. Saya gendong istri saya, karena derasnya air dan cepetnya air, nggak bisa lagi saya, aduh…gimana ya?” ungkap Cecep yang mengami luka di bibirnya karena terbentur benda keras.

Helda (33), putri Cecep juga selamat. Helda harus bekerja keras untuk menyelamatkan diri. Sambil menggendong kedua anaknya yang masih berusia dua tahun dan lima tahun, Helda berusaha lari sekencang-kencangnya. ”Saya juga menjadi korban, saya bawa anak saya yang berumur dua tahun dan lima tahun ke kampus UMJ pukul setengah lima pagi. Lagi di dalam rumah, lagi beberes maklum masih pagi. Nggak tahu kejadian datangnya air. Pas buka pintu, air sudah nggak ketahan. Saya bawa anak saya, pokoknya saya jalan saja,” kisah Helda.

Bagi lima anak ini, peristiwa Jumat subuh itu seperti tsunami kecil. ”Kayak Tsunami aja gitu. Airnya mengerikan banget, dan banyak yang keburu nyelamatin diri,” tandas Helda haru. Helda beruntung, ia bersama suami dan kelima putranya selamat dari musibah jebolnya tanggul Situ Gintung.

Helda sendiri mengaku tidak mendengar ada tanda-tanda bakal datangnya musibah. Diakuinya, Kamis (26/3) sore, terjadi hujan deras. ”Memang kamarin sore sempat hujan deras, maghrib berhenti hujannya. Biasa saja, kalau pun terjadi banjir bukan hal aneh. Jadi, kita nggak ada yang curiga bakal ada musibah seperti ini,” ungkap Helda polos. Ia sendiri tak sempat berpikir macam-macam, begitu melihat banjir datang, ia langsung membawa kedua anaknya yang masih kecil, berusaha menyelamatkan kedua anaknya dengan naik ke kampus UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta).

Syakir (18), salah seorang putra Helda yang paling besar, juga sempat terseret banjir. Ia beruntung diselamatkan pagar kampus UMJ. ”Saya juga sempat kebawa, tapi alhamdulillah saya sempat berpegangan sekuat tenaga ke pagar kampus UMJ. Dari situ saya berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atas genteng kampus UMJ. Dan bertahan di sana selama kurang lebih dua jam,” kenang Syakir mengharukan.

Helda mengaku, ia sempat terpisah dengan suaminya Bakhtiar dan ketiga anaknya. ”Alhamdulillah tadi pagi kami dipertemukan Yang Maha Kuasa. Dan. alhamdulillah semunya selamat. Sebenarnya rumah kami dan rumah orang tua kami tidak jauh jaraknya, tapi rumah ibu kami agak ke dalam, sehingga agak sulit menyelematkan diri. Rumah kami lebih dekat dengan kampus UMJ,” ungkap Helda.

Apa yang dilakukannya selama bencana berlangsung? Helda mengaku hanya beristigfar dan memohon ampun serta pertolongan dari Yang Maha Kuasa. ”Menyaksikan dahsyatnya terjangan air, tak ada yang bisa kita lakukan selain istigfar dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa. Kayaknya cuma

dalam hitungan detik. Jadi, kita nggak bisa macam-macam. Yang saya pikirkan, bagaimana saya bisa menyelamatkan anak saya yang berusia dua tahun dan lima tahun,” ujarnya.

foto-foto

Media indonesia/SUSANTO

GB

GB
Korban tewas dibawa ke posko oleh Tim SAR.

GB
Air bah dari jebolnya tanggul Situ Gintung juga
merusak fasilitas Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
detiknews

masjid tegak berdiri diantara bangunan yang rata dengan tanah







VIDEO :

http://www.youtube.com/watch?v=8Gjwwtum1a8











PIC lokasi:













sumber : berbagai sumber

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger