Latest Post
Showing posts with label Islam Amerika. Show all posts
Showing posts with label Islam Amerika. Show all posts

Militer AS Mengaku : Sejak Bakar Qur'an, Kami Alami Kemunduran

Written By admin on Sunday, May 6, 2012 | 8:24 AM

Pihak militer Amerika Serikat (AS) mengaku, tragedi pembakaran Al-Qur'an di Afghanistan beberapa waktu lalu membuat tentara AS di Afghanistan mengalami kemunduran drastis. Komandan AS di Afghanistan, Jenderal John Allen, menyampaikan hal itu di depan Komisi Militer DPR AS di Washington.

''Sejak 1 Januari, koalisi telah kehilangan 60 tentara dari enam negara. Sekitar 13 orang terbunuh diduga dilakukan pasukan keamanan Afghanistan yang dimotivasi juga oleh pembakaran Al-Qur'an,'' ungkap Allen.

Ini adalah pernyataan resmi pertama militer AS sejak tragedi pembakaran Al-Qur'an oleh personel tentara AS, Februari lalu.

''Sejak tragedi pembakaran Qur'an oleh militer AS, terjadi gelombang aksi protes di beberapa tempat, bahkan beberapa terjadi kekerasan. Akibatnya, 32 warga Afghanistan kehilangan tempat tinggal dan terluka,'' tambahnya.

Puluhan warga Afghanistan terbunuh dan beberapa lainnya terluka setelah gelombang protes anti-AS berubah menjadi ajang kekerasan di seluruh Afghanistan. Mereka menuntut adanya hukuman atas mereka yang terlibat dalam tragedi pembakaran Al-Quran itu.

Selain di Afghanistan, kasus pembakaran Al-Qur'an itu juga menimbulkan protes yang meluas ke sejumlah negara, baik di kawasan Timur Tengah ataupun Asia. Di sejumlah negara protes massa terjadi seperti di Turki. Sedangkan di negara lain seperti Indonesia, secara resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) memprotes dengan mengirim surat ke kedutaan besar AS. [IK/Rpb/bsb]

Islam di Brazilia

Written By admin on Saturday, April 21, 2012 | 2:03 PM

“As salamu’alaikum!” Omar memberi salam ketika masuk ke dalam Masjid Mesquita da Luz, Masjid pertama di Rio De Janeiro, Brazil, Amerika Latin dimana ia baru saja berbuka puasa pada bulan Ramadhan (tahun lalu) di waktu petang.Hanya ada beberapa kata yang Omar ketahui dalam bahasa Arab, dan dengan cepat ia melanjutkan percakapannya dengan bahasa Portugis dengan saudara-saudara Muslim yang kebanyakan seperti dia, yang baru masuk Islam di negara Katolik terbesar di dunia itu.


Di tanah yang lebih banyak dikenal dengan bikini dan Karnival Ekstravagansa (hura-hura berlebihan) yang menampilkan para wanita berpakaian minim, namun tumbuh sekelompok kecil Muslim dari berbagai latar belakang.Selama beberapa dekade, terutama keluarga keturunan Libya, Palestina dan Suriah yang datang mempraktekkan Islam di Brazil.
Omar (34), yang empat tahun lalu baru diresmikan sebagai Imam Katolik di gereja lokal, menjelaskan mengapa ia memeluk Islam. “Saya menemukan di dalam Islam segala sesuatu yang saya selalu cari. Saya menemukan Allah sebagaimana mestinya Dia, dengan tidak ada adaptasi,” pria yang berprofesi sebagai Desainer Grafis itu bercerita kepada AFP.
Memakai jubah panjang (gamis), Omar menolak untuk memberikan nama aslinya (sebelum masuk Islam –red), malahan ia hanya mengungkapkan satu nama Muslim-nya: Omar Israfil Dawud bin Ibrahim,
Pada saat seminar, anda belajar bahwa Islam adalah agama Monoteistik (Tauhid). Tidak ada prasangka terhadap agama ini,” ujar Omar yang sedang berada di samping istrinya, Alessandra Faria, yang berganti nama menjadi Fatima setelah masuk Islam dan memtuskan untuk memakai jilbab. “Awalnya, ibu saya merasa malu karena memikirkan (bagaimana) pergi keluar dengan saya. Saya memakai jilbab untuk menunjukkan bahwa saya seorang Muslim dan sadar bahwa saya bagian dari monoritas,” kata Fatima.
Hijab Fatima mungkin dihadapi oleh orang-orang yang mengerutkan dahi dan menaikkan alis di Rio, dimana lebih sering terlihat para wanita berjalan di jalanan dengan memakai bikini di lingkungan pantai, tetapi ia mengatakan bahwa keyakinannya dapat menemukan tempat disini. “Brazil beragam, terdiri dari beberapa budaya yang berbeda. Keberagaman itu yang membuat orang-orang Brazil sangat mudah beradaptasi dan toleran,” menurutnya.
Seperti kebanyakan Muslim disini, Omar dan Fatima adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka berencana untuk pergi ke Saudi Arabia tahun depan atas bantuan pemerintah Saudi untuk belajar Arab.
Renovasi pada Masjid yang mereka hadiri di pinggiran Utara Tijuca di Rio telah berlangsung selama empat tahun lalu dengan donasi dari para Jama’ah. Masjid itu menampung hingga 400 orang pada saat shalat, kenaikan yang besar.
“Jumlah Umat Islam terus berkembang, dan kebanyakan adalah orang-orang Brazil yang masuk Islam. Kami mengajak anggota (mengajak orang-orang masuk Islam –red) kebanyakan melalui online,” kata Sami Isbelle, seorang juru bicara Masyarakat Muslim Dermawan (SBMRJ).
“Di Rio, ada sekitar 500 keluarga Muslim, 85 persen dari mereka adalah orang-orang Brazil yang masuk Islam yang tidak memiliki hubungan dengan orang Arab,” kata Isbelle.
Berbeda halnya dengan di wilayah Sao Paulo, daerah Brazil Selatan, dimana kebanyakan Muslimin adalah lahir dari keturunan Arab.
Sensus Brazil tidak menghitung jumlah Umat Islam, dan hanya mendata orang-orang Katolik, Evangelis, Yahudi, spiritualis dan para pengikut agama Afro-Brazil. “Umat Islam didata di kategori ‘lain’, bersama dengan orang-orang Buddha, misalnya,” kata ahli Islam, Paulo Pinto dari Universitas Federal Fuminense, yang memperkirakan Brazil adalah rumah dari sekitar satu juta Kaum Muslimin.
Berdasarkan laporan Pinto, indikator terbaik dari pertumbuhan Islam di negara Brazil adalah peningkatan jumlah tempat Ibadah (Masjid). Sekarang ada 127 Masjid, empat kali lebih banyak dari tahun 2000.
Setelah tragedy serangan 11/9 di Amerika Serikat, “ada pertumbuhan minat dalam Islam, dan banyak orang memutuskan untuk masuk Islam,” tambah Pinto. “Islam dilihat sebagai bentuk baru ‘perlawanan’”.
Diproduksi di Maroko, ada acara yang terkenal yang menunjukkan “gambaran positif dari bagian di dunia, dengan pahlawan-pahlawan Islam yang penuh kebajikan,” ujar Pinto.
Di negara Brazil yang pebuh dengan Katolik-fanatik, liberal-sekuler, paganisme, dan menunjukkan orang-orang yang kebanykan melakukan hura-hura untuk memuaskan hawa nafsu tanpa batasan. Kaum Muslimin di Brazil tetap optimis bahwa Islam akan terus berkembang pesat di negara itu.
Sayangnya, ada kabar bahwa kaum Muslimin di Brazil kekurangan tenaga pengajar atau Ulama yang berdakwah disana, dikarenakan, mayoritas orang-orang Brazil berbahasa Portugis dan sedikit sekali Umat Muslim yang menguasai bahasa Portugis. Umat Islam di Brazil masih membutuhkan banyak Ulama yang diharapkan berhijrah kesana untuk mengajarkan Islam dan menyebarkan syi’ar-syi’ar Islam di negara mayoritas Katolik tersebut.
originally posted by 2011 posted by Ansar.info
(siraaj/arrahmah.com)

Masjid Washington Bawa Pencerahan Bagi Non-Muslim AS

Written By admin on Tuesday, March 27, 2012 | 1:20 AM

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Islamic Center of Washington, Masjid terbesar di Washington DC, tidak hanya menjadi destinasi favorit pengunjung dan warga Muslim setempat, tapi juga bagi banyak non-Muslim yang datang untuk menimba pengetahuan tentang agama Islam.
"Kami berusaha menyebarkan pengetahuan Islam seperti yang diajarkan oleh kitab suci Al Quran, melalui kebijaksanaan dan bimbingan yang baik," ujar Imam Abdullah M. Khiuj, direktur Islamic Center, kepada IslamOnline.net.
Masjid bersejarah itu, yang berlokasi di dekat jantung kota Washington di Massachusetts Avenue, adalah destinasi bagi orang-orang non-Muslim baik yang dari Amerika maupun luar untuk ikut serta dalam tur Masjid.
"Setiap hari kami menerima sekitar 10 hingga 600 pengunjung," ujar Imam Khouj.
Beberapa dari tur itu diadakan untuk para pejabat Departemen Luar Negeri yang akan ditugaskan di dunia Muslim atau untuk para pelajar yang akan belajar di negara Muslim.
"Mereka datang ke Islamic Center dan kami memberi mereka ceramah dan seminar mengenai situasi di Timur Tengah dan apa yang akan dihadapi serta bagaimana berperilaku di sebuah negara Muslim," jelas Imam Khouj.
Islamic Center ini adalah Masjid tertua di wilayah Metropolitan Washington.
"Pembangunan Masjid ini dimulai tahun 1947 dan dibuka untuk publik tahun 1952," ujar sang imam.
Ketika dibuka, Masjid ini menjadi tempat ibadah kaum Muslim yang terbesar di wilayah Barat.
Khouj mengatakan bahwa ide pembangunan Masjid pertama kali muncul di tahun 1944, ketika tidak ada satu Masjid pun di ibukota AS ini.
"Masjid itu adalah upaya kolaboratif dari kaum Muslim di sini dan duta besar-duta besar dari negara-negara Islam," jelasnya.
"Pada saat itu mereka sedang berada di upacara pemakaman seorang duta besar Turki  di mana mereka membahas kemungkinan memiliki sebuah tempat bagi kaum Muslim untuk mempraktikkan ajaran agamanya dan itulah bagaimana Masjid ini berdri."
Islamic Center itu dikelola oleh dewan direktur  yang terdiri atas semua duta besar dari negara-negara Muslim yang dipercaya oleh AS.
Selama tur, pengelola Masjid juga memberikan informasi tentang Islam, ajarannya, dan Nabi Muhammad serta menjawab berbagai pertanyaan dari pengunjung yang penasaran.
"Banyak yang menanyakan status Yesus Kristus dalam Islam, dan saya jawab bahwa kau tidak bisa menjadi seorang Muslim sejati jika kau tidak meyakini Yesus," ujar Abbassie Koroma, koordinator kunjungan kelompok.
"Yang lainnya menanyakan jika Islam bersifat toleran dan penuh damai lalu mengapa banyak Muslim yang menjadi teroris. Saya menjawab bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan perilaku buruk individu."
Koroma berbicara setelah menyelesaikan sebuah tur untuk sekelompok pelajar dari sekolah Minggu Kristen yang mendengarkan dengan penuh seksama saat ia membahas lima rukun Islam dan apa artinya menjadi seorang Muslim.
"Kami datang ke sini karena saya ingin para murid memahami kaum Muslim dan agama mereka," ujar Tom Clumet dari sekolah Minggu itu.
Dean, salah satu murid, bergabung dengan tur itu karena sahabatnya adalah seorang Muslim dan ia ingin tahu lebih jauh tentang agama sahabatnya itu.
Ia terkesima ketika mendengar berbagai penjelasan yang diberikan.
"Informasi yang saya peroleh sangat berguna. Kini saya merasa telah tahu lebih banyak tentang Islam."
Seperti Masjid-masjid lainnya di seluruh AS, Islamic Center ini juga menawarkan berbagai jenis layanan bagi komunitas lokal.
"Tempat ini adalah pusat bagi setiap Muslim yang ada di wilayah ini," ujar Khouj.
"Kami mencoba untuk menjadi Islamic Center yang edukasional, kultural, dan sosial di samping sebagai tempat yang relijius."
Masjid tersebut memiliki sebuah perpustakaan yang sangat besar dengan berbagai buku tentang Islam serta kelas-kelas untuk pelajaran bahasa Arab, Al Quran, hukum Islam, dan subyek-subyek relijius lainnya.
"Sayangnya lahan yang tersedia tidak memungkinkan bagi kami untuk membangun sebuah sekolah di sini, namun kami berhasil membuka beberapa kelas pada hari Sabtu dan Minggu untuk murid-murid kelas enam."
Masjid ini juga terlibat dalam kehidupan sosial komunitas dan mencoba memecahkan beberapa dari persoalan yang mereka hadapi.
"Kami memberikan konseling pernikahan, kami membantu orang-orang memahami prosedur pemakaman dan penguburan, kami mencoba membantu orang-orang yang belum menikah untuk mencari pendamping hidup," ujar Imam Khouj.
"Kami membeli sebuah lahan pemakaman yang tersedia bagi kaum Muslim secara gratis, karena biaya pemakaman di AS sangat mahal."
Namun, layanan yang paling dibanggakan oleh Islamic Center ini adalah program dakwahnya.
"Kami menerima banyak orang yang masuk Islam di sini setiap bulannya," ujar Imam Khouj.
"Kami mengadakan seminar bagi para mualaf yang, demi untuk menjadi terlibat dengan agama barunya, harus memiliki pemahaman dan visi yang jelas dan tidak hanya sekedar mengikuti metode-metode tertentu."
Direktur Islamic Center ini juga menambahkan bahwa program outreach mereka telah meluas hingga ke luar Masjid.
"Kami memiliki partisipan yang membantu kami mengirimkan buku-buku ke institusi di seluruh AS, terutama di penjara-penjara di mana banyak orang yang ingin tahu tentang Islam," ujarnya.
"Dan kami menerima sejumlah surat dari para petugas penjara yang berterima kasih karena setelah masuk Islam perilaku para tahanan itu berubah dan mereka menjadi manusia yang lebih baik."
Khouj mempercayai bahwa membantu menyebarkan pesan Islam adalah peran utama dari setiap Masjid.
"Kami mengirim banyak orang ke sekolah-sekolah, organisasi, dan penjara untuk memberikan ceramah tentang Islam."
"Kami berusaha keras untuk berpegang pada agama kami dan mewakili Islam sebagaimana ia seharusnya diwakili." (rin/iqna) www.suaramedia.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger