Home » » Benarkah ORMAS NASIONAL DEMOKRAT tidak akan menjadi Partai politik?

Benarkah ORMAS NASIONAL DEMOKRAT tidak akan menjadi Partai politik?

Written By admin on Tuesday, February 2, 2010 | 9:24 AM


Biru dan kuning. Dua warna itulah yang mendominasi Istora Senayan, Senin petang itu. Seragamnya biru, orang-orangnya kuning. Biru bulat dihiasi sabit kuning logonya. Inilah deklarasi organisasi massa baru, Nasional Demokrat.

"Itu lambang rotasi," kata Willy Aditya, salah dari 45 deklarator Nasional Demokrat. "Saling berhubungan, gotong royong," kata salah satu arsitek gerakan ini sebelum deklarasi Senin 1 Februari 2010 itu.

Gotong royong. Itulah salah satu hal yang kembali digaungkan Surya Paloh saat pidato menyambut deklarasi. "Telah terjadi pergeseran tata nilai dalam kehidupan masyarakat. Kalau kita flashback kembali ke cita-cita moral, masyarakat yang selama ini dikenal gotong royong menjadi masyarakat yang individualistis," ujar Paloh.

Jadilah Paloh yang baru saja kalah Oktober 2009 dalam pemilihan Ketua Umum Golkar itu mengajak Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama-sama mendirikan organisasi ini. Paloh hanya butuh dua minggu untuk menghimpun 45 tokoh mendirikan organisasi ini.

Gerakan ini diawali pertemuan Senin 18 Januari lalu di sebuah gedung di Jalan Soeroso, Gondangdia, Jakarta Pusat. Hadir saat itu Paloh, Sultan, Syamsul Muarif, Siswono Yudohusodo, Budiman Sudjatmiko, Franky Sahilatua, Anies Baswedan, Eep Saefulloh Fatah, Khofifah Indar Parawansa, Didik J Rachbini dan Poempida Hidayatulloh. Dan kesepakatannya adalah, perlu gerakan baru yang disebut Nasional Demokrat.

Rektor Paramadina sebagai pembaca Naskah Manifesto

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, menjadi pembaca naskah manifesto Nasional Demokrat. Anies merupakan satu dari 45 deklarator gerakan baru ini.

"Kami menolak demokrasi yang hanya sekadar merumitkan berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum," kata Anies membaca manifesto dalam deklarasi di Istora Senayan, Jakarta, Senin 1 Februari 2010 itu.

"Kami menolak demokrasi yang sekadar menjadi proyek reformasi tanpa arti. Kami mencita-citakan demokrasi yang berbasis warga negara yang kuat, yang terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang dengan keringat dan tangan sendiri. Kami menggalang sebuah gerakan bernama Nasional Demokrat: Restorasi Indonesia!" kata Anies.

Anies menyatakan, Nasional Demokrat adalah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan untuk merestorasi Indonesia.

Setelah Anies membacakan manifesto itu, enam deklarator lalu menyerahkan naskah dan surat mandat ke dua inisiator gerakan yakni Surya Paloh dan Sultan Hamengku Buwono X. Setelah itu Surya Paloh berpidato.

Anies Usahakan Nasional Demokrat Tetap Ormas

Anies Baswedan mengakui peran sertanya mendirikan Nasional Demokrat adalah karena sifat organisasinya yang tidak politis. Nasional Demokrat adalah organisasi massa yang bukan partai.

"Saya akan berusaha mempertahankan ini tetap menjadi ormas," ujar Anies ditemui usai mendeklarasikan Nasional Demokrat di Istora Senayan, Jakarta, Senin 1 Februari 2010. "Saya berniat aktif di ormas. Selama itu ormas, artinya berkaitan dengan rakyat, masalah-masalah pendidikan, maka itu menarik," ujar Rektor Universitas Paramadina itu.

Menurut Anies yang membacakan naskah manifesto Nasional Demokrat itu, saat ini yang dibutuhkan adalah masyarakat sipil yang terorganisir. "Yang mendukung demokratisasi dengan cara partisipasi. Partisipasi masyarakat itu bagaimana menyalurkannya, ya melalui organisasi massa,ini salah satunya," katanya.

Menurut Pengakuan Surya Paloh Tujuannya bukan Menjadi Parpol

Surya Paloh menyatakan Nasional Demokrat bukan bertujuan menjadi partai politik. Saat ini, ujar Paloh, tujuannya adalah gerakan untuk perubahan.

"Kami tidak pernah pikirkan untuk menjadi parpol," kata Paloh. "Karena bukan itu tujuannya," ujarnya usai deklarasi di Istora Senayan, Jakarta, Senin 1 Februari 2010.

Tahun 2014, saat Pemilu berikut digelar, ujar Paloh, masih empat tahun lagi. Pertanyaan apakah Nasional Demokrat akan menjadi partai harusnya ditanya maksimal setahun sebelum 2014 itu.

"Kami tidak menyoroti salah satu partai, tapi aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dari elit politik, cendikiawan, para tokoh bangsa," kata Paloh. "Kami mengajak semuanya revitalisasi sebagai satu bangsa untuk memperkuat energi yang ada dengan semangat kebangsaan."

Tujuan Nasional Demokrat ini adalah restorasi nasional. Apa itu? "Jadi telah terjadi pergeseran tata nilai dalam kehidupan masyarakat, kalau kita flashback kembali ke cita-cita moral, masyarakat yang selama ini dikenal gotong royong menjadi masyarakat yang individualistis," ujar Paloh tak menjawab langsung.

"Saya pikir ini tidak memperkokoh semangat kebangsaan kita, kita akan terjebak dalam pertikaian yang sangat membuang energi ketika bangsa-bangsa lain mengkonsolidasi diri dan mencapai tujuan, kita malah bertikai satu sama lain."


Keterlibatan sejumlah politisi seperti Surya Paloh, Budiman Sudjatmiko, Poempida Hidayatulloh, dan Syamsul Ma'arif pun justru, kata Anies, untuk membuat mereka tidak melulu memikirkan kekuasaan. "Rakyat di bawah sana menginginkan program yang riil, jangan hanya janji-janji saat mau memilih tapi sesudah itu yang dipikirkan lain," katanya.

Dan sebagai ormas, Anies siap berperan menjalankan sejumlah program Nasional Demokrat, mulai dari pendidikan sampai pemberdayaan petani. "Ini yang perlu saya dorong untuk jadi ke sana," katanya.
Menurut Pengamat dari LSI Burhanudin Muhtadi

Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, melihat Nasional Demokrat adalah eksperimen politik Surya Paloh. "Sengaja Surya memformat sebagai ormas dulu untuk mengetes pasar (testing the water). Jika ijtihad politiknya berhasil, maka Nasional Demokrat bisa saja bermutasi sebagai parpol," kata Burhan.

Nasional Demokrat, menurut Burhan, sengaja dibentuk untuk menggarap pangsa pasar Golkar dan Demokrat. Para deklaratornya didominasi tokoh Golkar dan tokoh yang selama ini terlihat dekat dengan Demokrat meski juga ada yang merah seperti Budiman Sudjatmiko.

Namun sebuah sumber VIVAnews di lingkaran dalam Nasional Demokrat menyebut, tujuannya memang menjadi partai politik menyambut Pemilu dan Pemilihan Presiden 2014 nanti. Bahkan struktur kepengurusan dan anggaran dasar bak partai pun sudah disiapkan.

Jika begitu arahnya, Burhanuddin Muhtadi menyatakan Nasional Demokrat harus mampu melahirkan tokoh-tokoh alternatif yang bisa diterima publik secara nasional. "Sejarah elektoral Indonesia menunjukkan bahwa tidak ada partai baru yang mampu membuat kejutan jika tidak punya elit yang punya personal appeal yang kuat seperti kasus partai Demokrat dengan SBY-nya," kata Burhan.

terhadap itu semua maka sejarah yang akan menjadi saksi,apakah para Tokoh diatas konsisten dengan janjinya saat ini bahwa Nasional Demokrat hanyalah Ormas dan tidak berorientasi menjadi Parpol.

atau nanti Ormas Ini menjadi Parpol,dan penegasan tidak punya tujuan menjadi parpol hanyalah salah satu 'strategi politik' untuk menggaet rakyat yang sudah tidak punya empati dengan parpol yang ada [diolah dari sumber Vivanews]
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger