Home » » LP Cipinang jadi Sarang Pungutan Liar

LP Cipinang jadi Sarang Pungutan Liar

Written By admin on Thursday, January 14, 2010 | 2:06 PM

Hidup di penjara tidak mudah bagi mereka yang tidak punya uang. Yang harus pusing dengan urusan duit, tidak hanya mereka yang ditahan tapi juga pihak keluarga. Itulah pengakuan Ngatono (45), orangtua Dwiki Kauryan (19) terpidana lima bulan penjara dengan tuduhan sebagai penadah sepasang sandal (baca: Gara-Gara Sandal harus Masuk Penjara).

Saat ditemui di rumahnya, di Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2010), Ngatono mengatakan bahwa kehidupan yang dialami Dwiki di LP Cipinang tidak mudah. Saat ada yang membesuknya, Dwiki harus membayar sejumlah uang sekitar Rp 250.000. Uang ini digunakan untuk keperluan menyewa rompi sebesar Rp 20.000 hingga Rp 25.000. Dan sisanya, untuk membayar pungutan di setiap pintu yang dilewatinya saat harus keluar sel guna menemui penjenguknya. Total jenderal, ada 10 pintu.

Padahal, rompi tersebut selayaknya merupakan fasilitas yang diberikan oleh negara dan seharusnya gratis digunakan oleh para napi. "Rompinya itu tidak pernah dicuci, jadi kalau menjenguk itu baunya minta ampun, harusnya kan gratis," cerita Ngatono.

Karena itu, saat menjenguk Dwiki, Ngatono atau istrinya Nurbaina Lubis (43) harus menitipkan uang sebesar Rp 250.000 itu kepada Dwiki melalui seorang petugas. Kalau tidak ada uang itu, jangan harap Dwiki bisa keluar bertemua keluarganya.

Ngatono mengaku, uang tersebut terbilang besar bagi keluarganya. Dirinya hanya bekerja sebagai tenaga bersih-bersih di SMU Unggulan, Bambu Apus, Jakarta. Gaji per bulannya hanya sebesar Rp 750 ribu.

Sedangkan istrinya, hanya menjadi tenaga pengajar di sebuah lembaga Pendidikan Usia Dini atau PAUD di gang Inpres, Kramat Jati, dengan upah Rp 200 ribu. Gaji keduanya saja masih cekak untuk kebutuhan keluarga dan tiga anaknya yang lain.

"Sudah dua minggu ini tidak membesuk. Kalau rejekinya lagi ada saja. Kadang pinjam tetangga kanan dan kiri. Saya juga tidak ngasih (tidak memberi izin) teman SMA Dwiki yang mau menjenguk. Karena kalau mereka enggak ngasih uang, kan kasihan Dwikinya," ungkapnya.

Dwiki merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Anak pertama Ngatono, Adimas Anggoro (24) merupakan tenaga kerja outsourcing di sebuah studio foto. Adimas baru mendapat kerja beberapa bulan lalu. Kemudian anak ketiganya, Karina Larasati (15) masih bersekolah di SMK Wijaya Kusuma Ciracas. Dan anak bungsunya, Andini Rizkina belum sekolah karena masih berumur 5 tahun. Urusan duit tidak hanya dialami Dwiki saat ada yang menjenguknya. Urusan sehari-hari di dalam LP Cipinang pun sarat dengan aneka pungutan.

Para tahanan baru yang ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang tidak langsung menempati selnya masing-masing. Begitu tiba, mereka ditampung di sebuah tempat menyerupai aula yang ditempati sekitar 400 orang. Untuk menempati sel, seorang tahanan harus memesan terlebih dahulu dan membayar uang sebesar Rp 2,5 juta.

Hal ini diungkapkan Ngatono (45), orang tua Dwiki Kauryan (19). Dwiki merupakan napi di LP Cipinang karena dituduh menjadi penadah pencurian sandal (baca: Sepasang Sandal Pembawa Petaka ). "Begitu masuk disana (LP Cipinang), langsung ditampung seperti di penampungan. Untuk masuk kamar itu harus bayar Rp 2,5 juta. Kalau belum bayar, belum bisa masuk kamar," cerita Ngatono, kepada Kompas.com, di rumahnya, di Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2010).

Ngatono mengaku tidak mengetahui secara persis pihak yang meminta pungutan tersebut. Menurutnya, oknum tersebut bukan aparat LP. Dia menduga, ada seorang napi senior yang meminta pungutan itu. Permintaan pungutan itu berlaku bagi semua tahanan di sana. Bahkan, oknum tersebut terbilang rajin menghubungi istrinya, Nurbaina Lubis (43) untuk meminta uang tersebut. "Bahkan, istri saya lagi kerja juga diteror terus menerus," katanya.

Demi memenuhi sejumlah uang tersebut, keluarga Ngatono terpaksa meminjam tetangga dan saudara. Bahkan, sempat terpikir pula untuk menjual rumah yang ditempatinya sekarang. Niat tersebut kemudian diurungkannya atas permintaan Dwiki yang melarangnya.

Ngatono memerlukan waktu berhari-hari untuk mengumpulkan uang tersebut. Selama itu pula, Dwiki terpaksa menempati ruang penampungan di LP Cipinang. Saat itu, kondisinya sangat memprihatinkan. Menurut Ngatono, Dwiki tidak makan dan tidak mandi selama berhari-hari. Rambutnya pun dicukur habis dengan asal-asalan. "Rambutnya sudah botak dicukur asal-asalan kayak teroris. Anak saya sampai nangis-nangis. Saya sedih, kenapa itu kasus kecil disamaratakan dengan kasus besar. Itu kayaknya tidak berperikemanusiaan sama sekali," kisahnya.

Hampir kehabisan akal, Ngatono akhirnya menemui seorang aparat LP Cipinang. Dia meminta bantuan agar Dwiki dipindahkan ke sel dan berjanji bakal membayar pungutan yang dibebankan setelah Dwiki dipindahkan. Permintaan tersebut dipenuhi. Pungutannya pun lebih kecil. Ngatono "hanya" membayar Rp 1,5 juta untuk ongkos kamar tersebut.

"Pas masuk kamar, baru deh Dwiki teratur kondisinya. Mandi juga sudah enak. Bisa makan juga," ujar Ngatono.

Kini, setiap minggunya, Dwiki harus membayar Rp 20.000. Uang tersebut digunakan untuk keperluan kegiatan keagamaan atau membaca surat Yasin bersama-sama napi lainnya. Kegiatan ini digelar setiap minggunya. "Uang itu untuk Yasinan. Kan untuk air panas, membuat kopi, dan kue," tandasnya.[Kmp]
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger