Latest Post
Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

Gereja AS Terguncang!! Lebih dari 200 pemimpin Gereja di As Pilih Murtad

Written By admin on Wednesday, June 27, 2012 | 12:30 PM

Lebih dari 200 pemimpin gereja di seluruh negeri di Amerika Serikat menyatakan sudah tidak percaya kepada Tuhan, membuang iman kristiani dan tak mau lagi membaca Alkitab (Bibel). Sebagian mereka mengumumkan kepada publik, tapi sebagian memilih untuk merahasiakannya agar bisa melayani gereja, meskipun mereka tidak lagi percaya dengan apa yang mereka khotbahkan.

Mike Aus, pendeta di wilayah Houston, menjadi pendeta yang pertama kali mengumumkan keputusannya ke publik.

Pendeta di Gereja Theophilus di Katy itu mengumumkan keputusannya untuk menjadi ateis dalam suatu acara televisi Minggu pagi di MSNBC.


...Hardly anyone reads the Bible. If they did, the whole thing would be in trouble...

“Hardly anyone reads the Bible. If they did, the whole thing would be in trouble,” ujar Pendeta Aus dalam acara ‘Up with Chris Hayes,’ salah satu program MNSBC. (Hampir tidak ada orang yang membaca Alkitab. Jika mereka membacanya, maka semuanya akan berada dalam masalah).

Jemaat-jemaat di Gereja Theophilus sendiri, kepada Local 2, mengaku tidak tahu apa-apa tentang perubahan kepercayaan Aus sampai ia mengumumkannya sendiri melalui siaran televisi itu.

“Apakah Anda akan berkhotbah Minggu depan?” tanya Chris Hayes, pemandu acara tersebut.

“Saya akan kembali minggu depan dan bertemu dengan atasan Saya untuk membicarakan bagaimana selanjutnya. Kita lihat saja nanti,” tukas Aus. ...Hampir tidak ada orang yang membaca Alkitab. Jika mereka membacanya, maka semuanya akan berada dalam masalah...

Aus adalah seorang pendeta Lutheran yang telah berkhotbah di gereja selama hampir 20 tahun. Sekarang, ia justru mengatakan tidak lagi percaya kepada pesan-pesan yang telah dikhotbahkannya itu. Ia pun telah menolak permintaan wawancara dari Local 2. Menurutnya, ia telah kehilangan imannya.

“Ketika saya mulai membuang iman saya, saya pun menyadari belakangan ini bahwa tidak banyak yang harus saya tinggalkan,” tegas Aus.

Dampak pernyataan Aus sangat dirasakan oleh gerejanya yang beranggotakan sekitar 80 orang. Sepekan setelah pengumumannya, gerejanya pun dibubarkan. Jemaatnya tidak mau berbicara lagi dengan Local 2, tetapi mereka mengatakan bahwa pendeta mereka telah menghancurkan mereka.

“Ketika seorang pendeta muncul dan berkata, ‘Saya tidak lagi beriman,’ maka itu akan mengguncangkan dunia mereka. Jemaat melihat pendeta sebagai superhero spiritual,” kata Dr Keith Jenkins, seorang pendeta Methodist, mantan presiden Houston Graduate School of Theology.

Menurut Jenkins, banyak pemimpin gereja yang bertanya-tanya dan kemudian kehilangan iman mereka, tapi belum pernah ada sebelumnya yang kemudian menjadi fenomena umum.

Para pendeta, pelayan dan pemimpin gereja yang tidak lagi percaya Tuhan itu telah membentuk kelompok pertemuan rahasia melalui situs clergyproject.com. Menurut mereka, jumlah anggota yang ada sekarang telah mencapai 240 orang. Beberapa di antaranya, seperti Aus, telah terang-terangan mempublikasikan keputusan mereka. Sementara, pada umumnya memilih untuk merahasiakannya.

Mereka yang memilih untuk merahasiakan keputusan mereka, tetap aktif melayani di gereja-gereja dan lembaga-lembaga pelayanan, meskipun mereka tidak lagi percaya dengan apa yang mereka khotbahkan.

“Saya yakin, ada banyak pendeta yang aktif melayani di gereja-gereja, tetapi sedang mengalami krisis iman dan bahkan kehilangan iman mereka, tetapi mereka belum keluar karena memikirkan kehidupan mereka,” kata Jenkins.

“Mereka harus segera mengambil keputusan. Mereka tidak perlu tetap bertahan dalam gereja kemudian menggunakan posisi mereka sebagai pendeta dan mencoba mempengaruhi yang lain.”

YESUS BUKAN SATU_SATUNYA ORANG YANG MENGHIDUPKAN ORANG MATI

Written By admin on Monday, May 14, 2012 | 5:47 AM

Dikatakan, perbuatan luar biasa Yesus adalah membangunkan orang mati menjadi hidup, dan dalam hal ini kita diberitahu bahwa bukti Keilahian Kristus itu bisa dijumpai seperti di bawah ini. Inilah argumennya:

“Kristus menghidupkan orang yang sudah mati diakui oleh kaum Muslimin berdasarkan Qur’an Suci, dan menghidupkan orang mati itu di belakang kekuasaan manusia dan hanya bersifat Ilahi … Dan di dalam sifat Keilahian inilah tiada orang lain yang bisa mengerjakannya kecuali Yesus sendiri”.

Apa yang dikatakan Qur’an akan kami bicarakan belakangan. Pertama-tama mari kita ketahui dulu pertimbangan yang diakui sebagai dasar dari ajaran kitab suci Kristen. Dalil itu mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi Ilahi sebab dia bisa menghidupkan orang mati. Dalil ini hanya bisa dikemukakan oleh orang yang percaya bahwa tidak ada orang lain yang bisa menghidupkan orang mati. Tapi Bebel sendiri mementahkan pengakuan ini. Bebel berisi beberapa contoh orang lain yang juga bisa menghidupkan orang mati, dan karenanya jika Yesus benar-benar melakukan mu’jizat seperti itu, berarti keilahiannya atau ketuhanannya dengan bisa menghidupkan orang mati, ini benar-benar menjadi tak logis, sebab dalam hal ini Elisa pun lebih hebat lagi ketuhanannya. Di dalam Raja-raja 2:4 kita diberitahu bahwa seorang anak telah mati dan kematiannya itu sungguh benar ketika Elisa datang:

“Dan ketika Elisa datang ke rumah itu, ternyata si anak itu telah mati, dan tergeletak di atas pembaringannya. Kemudian dia masuk, dan menutup pintu dua kali, dan dia berdo’a kepada Tuhan, dan tiba-tiba si anak itu mendengkur tujuh kali, dan si anak itu membuka matanya” (2 Raja-raja 4:32-35).

Elia juga bisa menghidupkan orang mati:

“Dan dia berteriak kepada Tuhan, dan berkata, Wahai Tuhan, Tuhanku, apakah engkau menimpakan kemalangan kepada janda ini yang menerima aku sebagai penumpang dengan membunuh anaknya? … Aku bermohon kepadamu, kembalikanlah nyawa anak ini kepadanya. Dan Tuhan mendengar suara Elia, dan nyawa si anak itu pun kembali kepadanya dan kemudian si anak itu hidup kembali” (1 Raja-raja 17:19-20).

Jadi Bibel tidak memberikan hak keilahian istimewa kepada pengakuan Yesus dalam bobot menghidupkan orang yang sudah mati. Sungguh, di satu sisi kekuasaan Elisa lebih hebat dalam menghidupkan orang mati daripada Yesus, karena tulang yang sudah kering pun, setelah orang itu mati, jauh lebih manjur bisa dihidupkan kembali:

“Pada suatu ketika orang sedang menguburkan mayat. Ketika mereka melihat gerombolan datang, dicampakkan merekalah mayat itu ke dalam kubur Elisa, ketika orang itu menyentuh tulang Elisa, maka si mayat itu hidup kembali lalu berdiri dan kemudian pergi”. (2 Raja-raja 13:21).

Seringkali dikatakan bahwa Yesus melakukan mu’jizat dengan kekuatannya sendiri, sementara perkara pada Nabi-nabi lainnya, Tuhanlah Yang melakukan mu’jizat itu dengan perantaraan mereka. Perbedaan yang fantastik ini tidak menambah nilai apa-apa, karena perihal Yesus sendiri pun Tuhan sajalah Yang melakukan mu’jizat tersebut.

Ini sangat mungkin bahwa kisah Elia maupun Elisa menghidupkan orang yang sudah mati dihasilkan oleh keinginan pikiran orang-orang saleh dari para pengikut Yesus permulaan untuk menerapkan perbuatan yang sama terhadap Guru mereka. Di sini ada jejak yang jelas di dalam alur cerita mereka. Matius, Markus dan Lukas menceritakan tentang menghidupkan anak perempuan seorang pemimpin dimana Matius mengutip ucapan Yesus yang mengatakan: “Anak perempuan itu tidaklah mati tapi cuma tidur saja” (Matius 9:24). Lainlainnya tidak mencantumkan kata-kata itu, namun kehadiran mereka di Matius cukup membuktikan sifat alami mu’jizat tersebut. Cukup menarik hati bahwa Yohanes tidak membicarakan sama sekali mu’jizat seperti ini namun menyebutkan bahwa mu’jizat itu tidak dikenal dalam Injil Synoptist (Matius, Markus dan Lukas) yaitu menghidupkan Lazarus setelah dia terbaring di kuburan selama empat hari (Yohanes 11:38-44). Mengapa bisa terjadi bahwa Injil Synoptist, salah satu atau semuanya, tidak mengetahui mu’jizat luar biasa itu, dan kenapa Yohanes tidak mengetahui adanya anak perempuan seorang pemimpin yang dihidupkan itu? Kesimpulannya jelas bahwa Yohanes, menulis belakangan, dia meragukan tentang menghidupkan seorang anak perempuan pemimpin tersebut, kemudian dia sungguhsungguh membuat satu cerita simbolik seperti yang terbaca seperti tadi. Terhadap dua mu’jizat itu, Lukas sendiri menyebutkan mu’jizat yang ketiga, yaitu menghidupkan anak laki-laki seorang janda di Nain (Lukas 7:11-17), yang ini tidak dikenal baik oleh Injil Synoptist lainnya maupun oleh Yohanes.

Dengan demikian di sini kita dapat menunjuk pada kemustahilan yang luar biasa yang ditulis oleh para penulis Injil permulaan yang gemar sekali terhadap cerita yang anehaneh. Bagi Matius tidak cukup hanya satu kisah mu’jizat membangunkan anak perempuan yang sedang tidur, tapi dia tambahkan dengan membangkitkan orang mati yang sudah empat hari lamanya terkubur di tanah yang kemudian orang itu berjalan menuju Yerusalem segera setelah Yesus menghentikan hantu kuburan:

“Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang” (Matius 27:51-53).

Mu’jizat yang aneh ini melampaui segala imajinasi, hanya para penginjil saja yang tidak memberikan keterangan secara detail mengapa tengkorak dan tulang-belulang itu bisa berjalan menuju kota; sebagaimana halnya perkara Lazarus, rupanya si penulis itu cukup berhati-hati untuk menambah-nambah cerita bahwa ada orang yang mati muncul dengan tangan dan kaki terikat oleh kain kafan, dan mukanya terbungkus oleh secarik kain dan agar ia terlepas dari ikatan itu ia menuju kepada Yesus Kristus. Mungkin kain kafan yang membungkus mayat orang suci itu sudah terjadi berabad-abad lamanya atau paling tidak sudah bertahun-tahun lamanya, disajikan secara utuh untuk menambah semaraknya penampilan mu’jizat tersebut. Tidak semua komentator Injil berani membaca kisah mu’jizat aneh ini secara harfiah, oleh karena itu kita punya komentar yang dikemukakan oleh Rev. J.R. Dummelow:

“Kejadian itu rupanya menggambarkan demi menyesuaikan kebenaran bahwa Kebangkitan Kristus melibatkan kebangkitan semua orang-orang suci, maka di Hari Paskah itu semua umat Kristen bisa dikatakan harus mempunyai perasaan begitu rupa yakni merasa bangkit bersama dia”.

Dari sini kita bisa menemui letak kebenaran tentang semua mu’jizat menghidupkan orang yang sudah mati tersebut. Yesus mengatakan itu sebagai tamsil atau bahasa kiasan, dan bahasa kiasan itu selalu digunakan oleh beliau secara bebas:

“Biarlah orang yang mati itu menguburkan orang yang mati pula, kata beliau” (Matius 8:22). Dan lagi:

“Sungguh, sungguh, aku katakan kepadamu, Dia yang mendengar ucapanku dan beriman kepada-Nya yang telah mengutusku, akan hidup abadi, dan tidak akan dihukum, tetapi hidup setelah melalui kematian. Sungguh, sungguh, aku katakan kepadamu, Saatnya akan datang, dan sekarang, tatkala yang mati akan mendengar suara anak Tuhan: dan mereka yang mendengar akan hidup … Jangan heran terhadap ini, karena saatnya akan tiba dan semua yang ada di kubur akan mendengar suara- Nya dan akan hidup”. (Yohanes 5:24, 25, 28).

Kini dari semua persoalan tersebut, dengan kematian, bahkan mereka yang ada di alam kubur, artinya adalah kematian rohani, mereka yang mati, artinya dalam keadaan berdosa, dan dengan hidup, itu artinya kehidupan rohani. Bahasa kiasan semacam itu digunakan juga oleh kaumYahudi. Menurut adat-istiadat Yahudi, “orang jahat, meskipun hidup, disebut mati”. Yesus Kristus mengirim kabar kepada Yohanes Pembaptis:

“Pergilah dan sampaikanlah kepada Yohanes segala sesuatu yang engkau dengar dan lihatlah: Orang buta bisa melihat, orang lumpuh bisa berjalan, orang lepra bisa disembuhkan, orang tuli bisa mendengar, orang mati bisa hidup, dan orang miskin diberikan kabar baik yang diajarkan kepada mereka” (Matius 11:4-5).

Kesimpulan kata-kata tersebut jelas sekali apa yang dimaksud Yesus, beliau tidak saja mengajarkan Injil kepada orang-orang miskin. Beliau berbicara secara tamsil, namun ucapan beliau disalah mengertikan, ini perlu direnungkan terhadap kisah menghidupkan orang yang sudah mati tersebut. Seluruh kekeliruan itu terletak pada ucapan Yesus yang terlalu begitu bebas menggunakan kata-kata kiasan, maka bukan hanya orang-orang Yahudi saja yang diberi tahu bahwa mereka tidak mengerti bahasa tamsil, bahkan para muridnya pun sering sekali menyalah-artikannya, bahasa tamsilnya diartikan secara harfiah (Yohanes 8:43). Kejadian berikut ini perlu diperhatikan:

“Sekarang para murid Yesus lupa mengambil roti … Dan beliau memperingati mereka, katanya: Berhati-hatilah, awaslah terhadap ragi orang Parisi dan ragi Herodes. Dan mereka berpikir di antara mereka sendiri, katanya. Karena kita tak punya roti. Ketika Yesus mengetahui itu, beliau berkata kepada mereka. Mengapa kamu membicarakan sebab tidak punya roti? Belumkah kamu mengerti, ataukah kamu tidak faham? Apakah kamu punya hati yang keras? Tidakkah matamu melihat?” (Markus 8:14-17).

Sungguh kita dapati bahwa murid-murid Yesus pun mengeluh terhadap bahasa tamsil beliau dan menyatakan tidak bisa mengikuti maksud beliau. Di sinilah terletak solusi tentang kisah menghidupkan orang yang mati tadi.

Berikut ini kita jelang apa yang dikemukakan oleh Qur’an Suci mengenai menghidupkan orang yang sudah mati. Untuk mengatakan bahwa Qur’an Suci membicarakan Yesus, khususnya dalam menghidupkan orang yang telah mati menyingkapkan secara halus kekurang tahuan isinya. Ia jelas sekali membicarakan mengenai Nabi Suci menghidupkan orang yang mati. Lebih lanjut Qur’an berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan Utusan-Nya tatkala ia mengajak kamu kepada yang memberi hidup kamu” (Qur’an Suci. 8:24).

Kesalahan tersebut muncul dari perbedaan pribadi-pribadi yang dijadikan di antara para Nabiyullah itu, maka ketika Qur’an menyatakan Nabi Suci menghidupkan orang yang sudah mati, artinya adalah menghidupkan rohani yang sudah mati bagi mereka yang mati dalam kebodohan, tetapi ketika membicarakan Yesus menghidupkan orang yang telah mati, kata-kata itu diartikan secara harfiah, yakni menghidupkan kembali orang yang telah mati secara fisik. Mengapa kedua ucapan itu tidak sama di kedua tempat itu? Tentang arti yang sebenarnya Qur’an menjelaskannya sendiri. Ia membicarakan tentang kematian itu berkalikali dengan arti mati rohaninya. Ia membicarakan mereka dihidupkan kembali artinya dihidupkan kembali rohaninya. Saya akan berikan beberapa contoh terhadap masalah ini, dimana hal ini banyak sekali disalah mengertikan. Di salah satu Surat dikatakan:

“Apakah orang yang telah mati, Lalu Kami hidupkan lagi, dan kepadanya Kami beri cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia, sama dengan orang yang perumpamaannya seperti orang yang berada dalam kegelapan yang ia tak dapat keluar dari sana? (Qur’an Suci, 6:123).

Di ayat ini bisa kita baca bagaimana orang mati dihidupkan dalam kata-kata yang jelas, dengan penjelasan ayat ini bukan jiwa manusia yang melayang, lalu dikembalikan ke badan wadag kasarnya, tapi yang dimaksud adalah hidup dan matinya rohani. Di tempat lain bisa kita baca:

“Sesungguhnya engkau tak dapat membuat orang yang mati mendengar panggilan, dan engkau tak dapat pula membuat mendengar orang yang tuli jika mereka berbalik punggung” (Qur’an Suci, 27:80).

Markus mengkombinasikan antara mati dan tuli. Dua-duanya dikatagorikan sama. Nabi tidak bisa membuat mereka mendengar jika mereka tak siap untuk mendengarkan lalu mereka berbalik pergi entah ke mana. Dalam kaitan yang sama dinyatakan pula di tempat lain:

“Tak sama orang hidup dan orang mati. Sesungguhnya Allah membuat mendengar siapa yang Ia kehendaki, dan engkau tak dapat membuat mendengar orang yang ada dalam kubur” (Qur’an Suci, 35:22).

Di sini bukan saja orang yang mati, tapi juga orang yang ada di dalam kubur. Di dalam kubur di sini bukan berarti badan wadag yang terbujur di liang lahat. Tidak pula kata-kata itu berarti bahwa Nabi bisa menghidupkan orang-orang yang rohaninya ada di dalam kubur. Yang dimaksud itu adalah bahwa Nabi hanyalah manusia biasa tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin; menghidupkan mereka yang ada di dalam kubur maknanya adalah tangan Allah bekerja melalui Nabi yang bisa membawa perubahan besar.

Dari sini jelas sekali bagaimana Qur’an Suci membicarakan para Nabiyullah yang menghidupkan orang-orang mati, yakni rohani yang mati dan rohani yang hidup, dan dalam hal inilah Qur’an membicarakan Nabi Suci Muhammad dan Yesus Kristus (Nabi ‘Isa) menghidupkan orang mati. Akan lebih jelas lagi bila direnungkan bahwa menurut Qur’an Suci yang mati benar-benar akan dihidupkan di hari Pengadilan dan kembali kepada kehidupan di sini tidak diperbolehkan sebelum Hari Penngadilan kelak, ini dijelaskan dalam kata-kata yang terang:

“Allah mengambil nyawa pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya. Lalu Ia menahan nyawa yang Ia putuskan mati, dan mengirim kembali yang lain sampai waktu yang ditentukan” (Qur’an Suci, 39:42).

Ayat ini menyimpulkan dengan tuntasnya bahwa Qur’an tidak mengakui hidupnya kembali mereka yang benar-benar telah mati secara jasmani. Suatu ketika fase kematian akan dilalui, nyawa itu dicegah dan dalam keadaan apa pun tak akan kembali lagi. Prinsip seperti itu dikuatkan oleh ayat berikut ini:

“Sampai tatkala kematian mendatangi salah seorang di antara mereka, ia berkata: Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat berbuat kebaikan dari perkara yang aku lalaikan. Tak mungkin! Sesungguhnya itu kata-kata yang ia ucapkan, Dan di hadapan mereka ada tabir, sampai hari mereka dibangkitkan” (Qur’an Suci, 23:99-100). 
Jadi kita diberitahu dengan kata-kata yang jelas bahwa tak seorang pun yang telah melewati pintu kematian di alam barzakh diizinkan kembali kepada kehidupan yang telah lalu. Ayat ketiga ini bisa dibaca lagi:

“Haram bagi suatu kota yang telah Kami binasakan dan mereka tak akan kembali” (Qur’an Suci, 21:95).

Beberapa kata komentar bisa ditambahkan terhadap ayat yang terakhir ini yang sumbernya dari Hadits Nabi Suci saw. Kejadian berikut ini diriwayatkan oleh Nasa’i dan Ibnu Majah, dua orang perawi Hadits sahih. Ayah Jabir, yakni Abdullah telah terbunuh di medan tempur oleh musuh Islam. Suatu hari Nabi Suci melihat Jabir berduka cita. “Apa yang membuatmu bersedih hati”? Tanya seorang Guru yang turut berduka cita terhadap sahabatnya yang dirundung duka itu. “Ayahku telah gugur dan di belakangnya meninggalkan keluarga besar serta hutang yang menggunung”. Jawaban Jabir. “Bolehkah aku berikan kabar gembira tentang karunia agung bahwa ayahmu telah ditemui Allah”, demikian sabda Nabi Suci … “Tuhan berfirman, Wahai hamba-Ku, ungkapkanlah suatu kehendak dan Aku akan mengganjarmu. Dia berkata, Tuhanku! Berilah aku hidup maka aku bisa berjuang di jalan-Mu, Allah Ta’ala berfirman, mereka tak bisa kembali. Keinginan Abdullah hidup kembali dan bertempur melawan musuh Islam hanyalah satu batasan di jalan-Nya – “tapi mereka tak bisa kembali - kata-kata ini benar-benar menyimpulkan bunyi ayat yang baru saja saya kutip. Bukti yang sama seperti komentar Nabi Suci terhadap ayat ini bisa dijumpai di dalam Hadits Sahih Muslim, dimana para syuhada pada umumnya dikatakan sama seperti itu. “Apa yang lebih diinginkan?” mereka ditanya oleh Allah Ta’ala. Pertanyaan itu diulang dan mereka berkata: “Tuhan kami, kami menginginkan agar kami dihidupkan kembali dan kembali ke dunia agar kami bisa bertempur kembali di jalan-Mu”. Dan apakah jawaban terhadap kehendak yang suci ini pada waktu seseorang ikut bertempur dalam barisan Islam mencari keridlaan Ilahi? “Telah Aku tuliskan bahwa mereka tak akan bisa kembali”. Di dunia ini tak ada seorang pun yang dapat membalikkan firman Qur’an Suci ini bahwa mereka yang sekali mati tak akan hidup kembali di dunia ini; dan kehidupan
itu akan kembali, kelak nanti pada Hari Kiamat.

Menjawab Gugatan tentang Pembukuan Al Qur'an

Written By admin on Wednesday, May 9, 2012 | 12:31 AM

Segala puji milik Allah, Dzat yang telah menurunkan Al Qur’an kepada pemimpin kita, Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Sholawat dan salaam semoga Allah limpahkan kepada baginda Nabi Muhammad.
Islam sebagai sebuah kepercayaan, sistem ritual, dan sekaligus sistem kehidupan, tidak mungkin mempertahankan bentuk keaslian dan kesakralannya tanpa ada jaminan terhadap keotentikkan Al Qur’an. Oleh karena itu, sejak awal penurunan Al Qur’an, senantiasa ada sebagian umat islam yang membaktikan dirinya untuk menjaga keotentikan Kitab tersebut. Mereka telah mengembangkan sistem yang sedemikian rupa, sehingga sampai saat ini, kita masih bisa membaca wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta itu persis sebagaimana Jibril ‘alaihis salaam mengajarkannya kepada Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallama.

Akan tetapi, musuh-musuh islam senantiasa ingin meruntuhkan islam dengan segenap cara. Keimanan terhadap Al Qur’an yang memiliki posisi sedemikian strategis tak luput dari incaran mereka. Mereka ingin mengarahkan tikaman langsung ke arah jantung keperayaan umat (aqidah) yang senantiasa memompa dan mengalirkan arus keimanan serta ketaqwaan keseluruh tubuh kaum muslimin. Jika kepercayaan terhadap Al Qur’an ini runtuh, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dari islam.
Salah satu usaha yang mereka lakukan untuk menebar keraguan terhadap Al Qur’an adalah memberikan persepsi yang lemah dan kabur mengenai sejarah pembukuan Al Qur’an. Mereka ingin menunjukkan sebuah fakta palsu bahwa Al Qur’an -dalam sejarahnya- memiliki banyak versi yang membingungkan, dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa mush-haf yang ada ditangan kita saat ini adalah benar-benar Al Qur’an, kalamullah. Allahumma-nshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin!
Seorang orientalis, Gerd E. Joseph Puin, mengatakan, “Kaum muslim beranggapan bahwa semua yang ada di antara dua sampul (baca: Al Qur’an) adalah kata-kata Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan”. Kemudian dia berkata, “mereka suka mengutip (dari bible) teks yang menujukkan bahwa bible punya sejarah (penulisan pasca kematian yesus), dan dia tidaklah jatuh dari langit. Tetapi sampai saat ini, Al Qur’an selalu berada di luar diskusi seperti ini. Satu-satunya cara untuk menggempur dinding (keyakinan) ini adalah dengan membuktikan bahwa Al Qur’an juga memiliki sejarah (penulisan dan penyempurnaan pasca Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallama).1
Untuk membuktikan tuduhan mereka itu, mereka berusaha menunjukkan fakta tentang adanya keragaman teks dan bacaan (qiroah) pada masa-masa awal islam. Mereka menganggap, mushaf yang ada sekarang tidak mengakomodir keragaman itu. Oleh kaenanya, mereka mengkampanyekan usaha penyusunan “Al Qur’an ” edisi kritis sebagai tandingan Al Qur’an yang sebenarnya. Bahkan usaha ini telah mempengaruhi sebagian orang islam yang merasa inferior di hadapan orientalis dan menyangka bahwa usaha penyusunan edisi kritis adalah usaha yang jujur, ilmiah dan positif.
Tofik Adnan Amal menulis di harian Jawa Pos, 28 Oktober 2001, “Di kalangan muslim kebanyakan, teks (rasm) dan bacaan (qiro’ah) dalam mush-haf Al Qur’an dewasa ini diyakini sebagai rekaman lengkap dan otentik wahyu-wahyu Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallama. yang dikodifikasi oleh Zaid bin Tsabit berdasarkan otoritas Kholifah `Utsman bin “affan. … Tetapi, orang yang mengetahui perjalanan sejarah Al Qur’an menyadari bahwa keadaan yang sebenarnya adalah tidak sesederhana itu. Sejarah awal Al Qur’an justru menunjukkan eksisnya keragaman tradisi teks dan bacaan kitab suci itu, yang karena dan atasnya dilakukan serangkaian upaya unifikasi untuk menjamin kemantapannya. … Proses (unifikasi) tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya,… karena itu, tulisan ini juga akan membahas bagaimana menyelesaikan permasalahan itu lewat suatu upaya penyuntingan edisi kritis Al Qur’an.2
Masalah-masalah itu pada kesempatan lain ia ungkapkan dengan pilihan kata yang begitu agresif dan provokatif , misalnya : “(cerita tentang) pengumpulan Al Qur’an itu memiliki banyak versi”; “Semua teori tentang pengumpulan Al Qur’an itu centang-perentang (simpang siur)”; “kisah pengumpulan Al Qur’an itu saling kontradiksi” ; “proses unifikasi dan stabilisasi yang dimotori `Ustman (radliyallahu ‘anhu -penukil) itu baru dapat tercapai pada abad ke-4 H”.3 Dia memakan telah mentah-mentah segala macam claim dan pernyataan tentang sejarah pengumpulan Al Qur’an, termasuk dari orientalis, tanpa proses penyeleksian terhadap bobot, bibit dan bebet informasi tersebut, dan menganggap semuanya sama-sama valid. Dengan begitu pembaca dibuat ikut bingung oleh semua informasi yang dia paparkan. Dengan mengatakan bahwa Al Qur’an baru stabil setelah masuk abad IV H berarti dia telah memposisikan Al Qur’an sebagaimana “taurat” dan “injil” yang baru mapan setelah selang waktu beberapa lama dari waktu penurunannya. Dia tidak merasa canggung untuk memaparkan tuduhan ini meski sekedar berdasarkan data yang janggal.4
Taufik Adnan Amal sendiri tidak pernah secara jujur dan sungguh-sungguh menyusun “mushhaf kritis” itu. Ia sudah percaya kepada usaha orientalis yang menurutnya mungkin lebih “tsiqoh” dan “faqih” dari para shohabat dan ulama umat islam. Wacana yang ia angkat tentang Al Qur’an edisi kritis itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk memotivasi dirinya sendiri guna menyusun edisi kritis tersebut. Tapi yang jelas, pernyataan-pernyata annya itu punya terget yang kasat mata, yaitu menggugat otoritas mushhaf Al Qur’an, dan menebarkan teror kepada umat islam mengenai otentitas kitab yang mereka imani sebagai kalamullah itu. Bahkan saat ini, teror tersebut telah beredar dalam bentuk buku.5 Teror itulah sebenarnya yang secara sungguh-sungguh ingin ia wujudkan, bukan usaha dan “pengabdian” yang jujur untuk menyunting edisi kritis, “memperpaiki” mushhaf yang disusun dan disepakati oleh para shohabat radliyallaahu ‘anhum. Saya kira isu edisi kritis tidak punya signifikansi apa pun kecuali mengembangkan keraguan dan kritik yang tidak ilmiah terhadap Al Qur’an. Dan yang lebih penting, ini merupakan usaha untuk melunturkan nilai sakralitas Mush-haf `Utsmani, dan meletakkannya pada posisi yang debateble, sehingga menggoyahkan posisinya sebagai dasar hukum islam yang utama. Wallahu a’lam
Oleh karena itu, para pejuang penegakkan kehidupan islam harus memiliki alasan yang kuat untuk menolak benih-benih keraguan yang ditebarkan oleh musuh. Sebab, walau bagaimanapun, kita sedang dan akan terus berusaha tampil di atas mimbar, kemudian berusaha meyakinkan kaum muslimin untuk meyakini apa yang kita yakini, dan tentu saja sekaligus dengan membantah dan menghancurkan segala peryataan yang negatif dan batil. Berikut ini kita akan membantah dan membatalkan landasan-landasan diajukannya proposal penyuntingan “Al Qur’an” edisi kritis alias edisi gadungan. Wallaahul waliyut taufiq, wa huwal musta’aan
Tuduhan Terhadap Mush-haf `Utsmani: Alasan-alasan Pencarian Mush-haf Alternatif
Mush-haf `Utsmani adalah mush-haf standar yang disahkan oleh para shahabat pada masa kholifah `Utsman bin `Affan radliyallaahu ‘anhu. Para orientalis dan para “penggemar” mereka sering berkata yang bukan-bukan terhadap mush-haf standar ini. Berikut ini adalah sebagian dari serangan mereka terhadap Mushaf ‘Utsmaniy :
Pertama, penyusunan Mush-haf Al Imam itu tidak objektif, sangat terpengaruh oleh otoritas politik `Utsman -radliyallahu ‘anhu. Karena itu, mereka mengklaim bahwa ada sebagian shohabat, seperti Ibn Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab radliyallahu ‘anhuma, yang menyebarluaskan mush-haf indepnden. Mushaf itu mereka susun sendiri sesuai keyakinan mereka yang berbeda dengan mushaf resmi. Kemudian mereka mengajarkan apa yang mereka yakini itu kepada murid-murid mereka. Oleh karena itu -masih kata mereka-, pada masa awal, teks dan bacaan Al Qur’an di kalangan kaum muslimin itu sangat bervariasi.
Kedua, Mush-haf `Utsmani tidak memiliki titik6 dan tidak memiliki tanda vokal (harokat: fat-hah, kasrah, dhomah). Ketiadaan titik dan harokat inilah yang menurut mereka melahirkan keragaman dan kesimpang-siuran dalam cara pembacaan Al Qur’an (qiro’ah). Sehingga -menurut mereka- pada masa awal, kaum muslimin memiliki bacaan yang tidak menentu. Bacaan ini baru mapan ketika otoritas “ortodoksi islam”7 memberikan dukungan politik terhadap qiro’ah as sab’ah (qiroah riwayat Imam yang tujuh). Menurut mereka, kemapanan ini baru terjadi pada abad IV H.
Ketiga, rasm (bentuk penulisan) Mush-haf `Utsmani mengandung taks-teks yang janggal, karena ada bagian-bagian yang tidak sinkron dengan pelafalan dan tidak konsisten dalam penulisan. Mereka menuduh bahwa ketidakkonsistenan dalam penulisan itu terjadi karena kesalahan tulis atau penggunaan dialek yang tidak menentu (setengah-setengah) .
Keempat, unifikasi yang dilakukan otoritas `Utsman ini dituduh secara otomatis telah berusaha meniadakan varian bacaan yang dilegitimasi oleh Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama sendiri, yaitu bahwa Al Qur’an yang turun dalam “tujuh huruf”. Dengan asumsi bahwa mush-haf `Utsmani tidak mencakup apa yang disebut sebagai “tujuh huruf” secara keseluruhan, berarti Mush-haf ini telah menghilangkan banyak bagian dari Al Qur’an.
Oleh karena permasalahan- permasalahan tadi, mereka memberikan penilaian yang sumbang terhadap mushaf yang dikompilasi oleh para shohabat tersebut (mushaf utsmaniy). Untuk menyelesaikan “permasalahan- permasalahan” yang terkandung dalam mush-haf yang disepakati itu, mereka berusaha menyusun mush-haf modern yang lebih baik, objektif, dan lebih ilmiah. Seakan-akan mereka ingin menghadirkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah diusahakan oleh para shohabat ridlwaanullaah ‘alaihim. Dari sini saja sudah terlihat kekonyolan dari proyek penyesatan bergaya intelektual ini. Kali ini kita akan membahas masalah pertama dan kedua dan menjawab syubhat yang mereka lontarkan. Laa haula wa laa quwwta illa billaah!8
Apa Yang Disebut Dengan Mush-haf Al Imam Alias Mush-haf `Utsmani
Karena yang menjadi sumber permasalahan adalah apa yang disebut dengan Mush-haf `Utsmani, maka tidak bisa tidak kita harus mendiskripsikan terlebih dahulu apa yang disebut Mushaf ‘Utsmaniy. Mush-haf Utsmaniy bukanlah mush-haf yang dimiliki secara pribadi oleh kholifah `Utsman radliyallahu ‘anhu. Melainkan, mush-haf yang ditulis (disalin) dari shuhuf Al Qur’an yang telah dikumpulkan pada masa pemerintahan Kholifah Abu Bakar radliyallahu ‘anhu oleh sekelompok shohabat radliyallahu ‘anhum yang ditunjuk oleh kholifah `Utsman radliyallahu ‘anhu. Jadi mush-haf `Utsmani ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah dikumpulkan oleh para shohabat rdlwaanullah ‘alaihim pada masa pemerintahan Abu Bakar radliyallahu ‘anhu. Sebab, mush-haf `Utsmani hanya merupakan salinan dari apa yang dikumpulkan sebelumnya. Oleh karena itu, kita perlu melihat bagaimana para shohabat mengumpulkan shuhuf -lembaran-lembaran terpisah- tersebut pada masa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu.
Motivasi pengumpulan shuhuf. Perang Yamamah menggugurkan sekitar 70 orang huffadz ternama. Oleh karena itu, ada kekhawatiran jika hal itu terjadi terus, maka shuhuf/lembaran-lembaran ayat-ayat yang ada di tangan para huffadz itu akan ikut sirna bersama kematian mereka. Sehingga Umar radliyallahu ‘anhu mengusulkan kepada Abu Bakar radliyallahu ‘anhu agar negara melakukan usaha pengumpulan shuhuf yang ada ditangan para shohabat radliyallahu ‘anhum.9 Kemudian Abu Bakar radliyallahu ‘anhu menunjuk beberapa orang panitia pengumpulan yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu.
Apa yang dimaksud dengan pengumpulan shuhuf. Panitia yang dipimpin Zaid radliyallahu ‘anhu bukan mengumpulkan bacaan atau hafalan dari para shohabat,10 melainkan mengumpulkan dokumen otentik berupa tulisan wahyu yang ada pada tulang, lempengan batu, lembaran kulit, atau pelepah kurma yang merekam pendektean ayat-ayat Al Qur’an oleh Nabi `alaihish sholatu was salam kepada para shohabat radliyallahu ‘anhum. Jadi, para shohabat ra ingin mengumpulkan dokumen yang ditulis langsung di hadapan Nabi `alaihish sholatu was salam. Sebab, kalau sekedar hafalan, maka para shohabat tidak butuh pengumpulan, karena banyak sekali di antara mereka yang hafal Al Qur’an secara utuh di luar kepala yang setiap saat mereka gunakan untuk sholat, tilawah, inthimbat dan beristidlaal. Saat Nabi `alaihish sholatu was salam wafat, tak terhitung orang yang hafal Al qur’an secara keseluruhan. Ada satu kasus, di mana para shohabat ra benar-benar tahu dan hafal mengenai ayat terakhir dari surat Baro’ah ( At Taubah), akan tetapi mereka sedikit bingung karena belum seorang pun datang membawa dokumen yang mencatat ayat itu. Tapi kemudian, ayat itu ditemukan pada catatan yang dibawa oleh Abu Khuzaimah ra –yang oleh Nabi `alaihish sholatu was salam, kesaksiannya disetarakan dengan dua orang.11 Ini menunjukkan bahwa panitia waktu itu sedang berusaha menyalin dan mengumpulkan dokumen, bukan sekedar redaksi saja. Sebab pada hakekatnya, apa yang mereka kumpulkan dan mereka salin itu telah mereka hafal sebelumnya.
Metode pengumpulan. Pertama, panitia melakukan pengumuman kepada seluruh shohabat ra di Madinah (jumlah mereka belasan ribu). Umar ra berseru kepada semua orang: “siapa yang telah mengambil Al Qur’an dari Rasulullah maka hendaklah ia datang dengannya!”.12 Diriwayatkan juga bahwa Bilal bin Rabah ra berkeliling kota untuk mencari shohabat ra yang memiliki dokumen Al Qur’an.13 Jadi ini merupakan proyek massal yang terbuka dan diikuti oleh seluruh shohabat. Sehingga tidak bisa disebut sebagai “mush-haf versi penguasa”.
Kedua, panitia duduk di depan masjid, kemudian hanya menerima sesuatu yang padanya terkumpul padanya tiga syarat, yakni:
·         Berupa dokumen tertulis
·         Apa yang ditulis itu telah dikenal dan dihafal oleh banyak shohabat
·         Disertai dua saksi yang menyaksikan bahwa dokumen itu memang ditulis di hadapan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama.14
Bukanlah suatu hal yang aneh jika ada individu-individu shohabat ra ada yang mengira sesuatu yang ada padanya (berupa catatan) itu adalah Al Qur’an, padahal bukan. Atau bisa jadi ada yang mengira bahwa hafalannya lengkap, ternyata tidak lengkap. Maka ditetapkanlah kriteria yang semacam itu. Oleh karena itu, panitia sempat menolak informasi Umar ra tentang ayat rajam. Juga menolak informasi Ummul Mukminin Hafshoh radliyallahu ‘anha mengenai frase “wa sholaatil `ashr” di belakang kalimat “haafidhuuna `alaa sholawaati wustho”, Juga tidak dimasukkannya kata wadzdzakari wal untsaa yang diinformasikan oleh Abu Darda’ ra setelah kalimat “wallaili idzaa yaghsyaa”. Juga tidak memasukkan kata “muttatabi’at” yang diriwayatkan oleh Ubay bin Kaab ra diantara fashshiyaamu tsalaats ayaam dan fii kifaarat al yamiin.15
Bagaimana pun juga, hasil kompilasi yang dilakukan oleh panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit ra merupakan suatu hal yang kuat, bahkan benar secara pasti, di tinjau dari metode yang digunakan. Sebab, apa yang dihasilkan merupakan sesuatu yang diperkuat oleh kesaksian orang banyak. Maka jika riwayat-riwayat tentang ke-”anomali” -an teks yang dimiliki sebagian shohabat ra itu benar, maka tentu saja kesaksian orang banyak lebih diunggulkan. Karena sangat mungkin anomali itu terjadi karena faktor human error pada individu. Oleh karena itu, para sohabat ra secara keseluruhan menerima mush-haf yang merupakan hasil usaha bersama mereka itu.
Ketiga, panitia menyalin semua ragam dokumen yang sah. Ayat-ayat yang memilikii dua bentuk penulisan disalin juga dalam dua bentuk. Misalnya, Al Hadid 24 ditulis dengan dua bentuk: “fa innallaha ghiniyyul hamiid” dan “wa innallaha ghoniyyul hamiid”, juga Asy-syams 15: wa laa yakhoofu `uqbaahaa” dan “fa laa ya khoofu `uqbaahaa“. Kedua bentuk ini dinilai setara, sama-sama berasal dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama, dari Jibril as, dari Allah SWT. oleh karena itu, menurut A’zami, panitia menuliskannya pada dua lembar yang berbeda, bukan salah satu ditempatkan di tubuh teks sementara yang lain dalam cacatan pinggir.16 Dengan demikian tidak ada wahyu yang tercecer.
Kemudian semua di satukan dan disimpan di kediaman Abu Bakar radliyallahu ‘anhu Setelah Abu Bakar ra maninggal, dokumen itu disimpan oleh Umar ra, kemudian disimpan oleh Ummul Mukminin Hafshoh binti Umar radliyallahu ‘anha.
Penyalinan pada masa `Utsman. Ketika Shohabat `Utsman bin `Affan ra menjadi kholifah, wilayah kekuasaan islam mulai sangat luas. Hudzaifah bin Yaman ra melaporkan adanya kejanggalan- kejanggalan yang dilakukan umat ketika membaca Al Qur’an. Cara baca mereka terhadap Al Qur’an terpengaruh oleh dialek lokal. Oleh karena itu, para shohabat ra berinisiatif untuk menyalin dan memperbanyak mush-haf yang standar berdasarkan shuhuf yang telah dihimpun pada masa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu. Kali ini `Utsman radliyallahu ‘anhu meminta kembali Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu untuk memimpin panitia penyalinan mush-haf.17 Kemudian mush-haf dicopy sebanyak tujuh buah. Hasilnya kemudian dibacakan kepada para shohabat ra, dan tidak ada yang mengingkari.18 Masing-masing copy memiliki keunikan (tidak ada yang sama persis). Ini semata-mata mengacu pada dokumen yang sudah ada. Kemudian mushhaf-mushhaf tersebut dikirim ke Makkah, Syam, Bahrain, Bashrah, Kufah, Yaman dan satu lagi disimpang di Madinah.19 Sebenarnya, pengiriman ini bukan sekedar pengiriman satu jilid buku. Melainkan buku bersama seorang instruktur. `Utsman ra menyertakan seorang huffadz ke setiap daerah bersama copian mushhaf. Sehingga kaum muslimin memiliki kitab dan mengetahui cara baca yang standar yang diajarkan oleh sang instruktur.20
Tentang Motivasi `Utsman radliyallahu ‘anhu
Sebagaian umat islam -yang merasa hina di hadapan orientalis- ikut-ikutan mengatakan bahwa mush-haf yang saat ini kita pegang pantas untuk diragukan. Alasannya karena penyusunannya mengandung unsur campur-tangan penguasa. Mereka menuduh bahwa mush-haf ini hanya merupakan wujud hegemoni kekuasaan. Taufik Andnan Amal mengatakan bahwa instruksi `Utsman ra agar panitia penyalin mush-haf menulis Al Qur’an dengan dialek Quraisy -jika ada kebingungan- merupakan bukti adanya hegemoni kaum Quraisy. Padahal –menurutnya- seharusnya tidak boleh demikian. Bahkan, ia juga menyertakan informasi sampah yang menuduh bahwa sebenarnya `Utsman radliyallahu ‘anhu tidak menunjuk seorang panitia pun. Kemudian Mush-haf Al Imam beliau susun sendiri. Tuduhan ini dilontarkan untuk mempertegas adanya kepentingan penguasa –khususnya `Utsman radliyallahu ‘anhu - dalam proyek unifikasi Al Qur’an.
Ini adalah tuduhan yang tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang muslim. Apakah mereka tidak sadar? Dengan tuduhan itu berarti mereka telah menganggap `Utsman radliyallahu ‘anhu dan para shahabat ridlwaanullah ‘alaihim -yang telah ikut mensyiarkan agama ini- sebagai orang yang telah melakukan dosa besar yang tidak terampuni. Sebab mereka telah menuduh para shohabat melakukan kebohongan atas nama Allah. Padahal ada sebuah hadits mutawaatir, bahwa Nabi `alaihish sholatu was salam bersabda “barang siapa berdusta atas namaku secara sengaja, maka dia telah mengambil tempat duduknya di neraka”. Oleh karena itu, Umar radliyallahu ‘anhu meminta setiap orang yang mengutarakan hadits untuk mendatangkan saksi. Dan Ali radliyallahu ‘anhu meminta siapa saja yang memberitakan hadits untuk bersumpah. Itulah ketelitian para shohabat ra dalam mengambil agama ini. Jika berdusta atas nama Nabi `alaihish sholatu was salam saja pasti masuk neraka, bagaimana jika para shahabat telah mendustakan ayat-ayat Allah seperti apa yang mereka tuduhkan? Padahal mereka adalah orang-orang yang paling tahu tentang agama ini, setelah Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama, dan mereka adalah orang-orang yang paling takut terhadap Allah, setelah Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Apakah mungkin mereka melakukan dosa semacam itu?
Lagi pula, Al Qur’an memiliki posisi yang sangat penting. Penyelewengan sekecil apa pun akan sangat membahayakan umat. Jikalau benar `Utsman radliyallahu ‘anhu menuruti hawa nafsu beliau, kemudian menyertakan kepentingan politik beliau dalam proyek ini, apa mungkin seluruh shohabat diam berpangku tangan? Jika tuduhan itu benar, dan para shohabat diam menyaksikannya, maka para shohabat harus memiliki salah satu dari dua karakter, yaitu bodoh atau fasik.
Kemungkinan pertama jelas tidak mungkin. Apakah mereka adalah orang-orang bodoh yang mudah ditipu begitu saja? Apakah mereka tidak hafal Al Qur’an, sehingga tidak tahu jika terjadi penyimpangan? Padahal Al Qur’an itu mereka gunakan untuk sholat, dan beristinbat. Apakah mungkin mereka tidak tahu jika Utsman radliyallahu ‘anhu mengutak-atik Al Qur’an?
Kemungkinan kedua juga tidak mungkin. Mereka tahu ketidak-beresan dalam penyalinan mushaf, tapi mereka menutup mata akan hal itu. Itu berarti mereka fasiq. Apakah generasi terbaik dari umat ini -yang Allah ridlo terhadap mereka- telah menjual Al Qur’an dengan kehidupan dunia? Atau pakah mereka orang-orang yang takut mati dalam menjaga kemurnian Kitabullah sehingga mereka diam dan berpangku tangan? Tidak mungkin. Bahkan mereka adalah orang-orang yang sangat mumpuni dalam agama, dan mereka lebih menyukai kematian dari pada menyaksikan bencana semacam itu menimpa Al Qur’an? Ini adalah karakter yang hanya dimiliki oleh orang-orang mukmin, dan tidak dimiliki oleh orientalis. Jika tuduhan itu benar, pasti `Utsman radliyallahu ‘anhu langsung menghadapi acungan pedang dari para shohabat. Kenyataannya, hal itu tidak terjadi. Pengalaman mereka bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama selama di Makkah dan Madinah, serta masa-masa di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan Umar yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam membela islam dan menyebarkannya, telah membuktikan kualitas mental dan kesetiaan mereka pada kebenaran. Mereka lebih cinta kepada kebenaran dari pada kehidupan. Orang yang tega melakukan tuduhan seperti apa yang dilemparkan oleh Taufik itu hanyalah orang yang tidak mengenal dan tidak menghargai perjuangan para shohabat ridlwanullah ‘alaihim. Tapi anehnya, mereka justru mengelu-elukan “jerih payah” orientalis dalam merong-rong agama Allah, seperti Jeffery. Apakah orientalis memiliki dokumen yang lebih valid dari apa yang ada pada para shohabat? Atau, kalau mereka menyangka bahwa Utsman radliyallahu ‘anhu memiliki motiv politik, lantas apakah mereka -orientalis yang ingin menyusun Al Qur’an edisi kritis- adalah orang-orang yang ikhlash, tidak punya tendensi dan motiv apa pun dibalik usahanya itu? Kenapa orang seperti T.A.A. tidak punya otak yang sehat? Dia kritis kepada shohabat dan melemparkan tuduhan yang keji terhadap mereka, tapi percaya sepenuhnya pada para orientalis. Di mana orang-orang seperti ini telah meletakkan otaknya? Wallahu a’lam
Tentang Mush-haf Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab
Menurut orientalis, mush-haf Ubay radliyallahu ‘anhu berbeda dengan mushhaf yang disepakati dalam hal bahwa mushaf Ubay bin Kaab radliyallahu ‘anhu memuat dua surat ekstra, yang bernama al khala’ dan al hafad. Sedangkan mush-haf Ibn Mas’ud ra menurut mereka berbeda dengan mush-haf yang disepakati dalam tiga hal: 1. Memiliki susunan surat yang berbeda; 2. Tidak memasukkan surah Al Fatihah dan muawidzatain; 3. Memiliki perbedaan morfologi teks dengan mushaf ‘Utsmaniy. Ini adalah tuduhan yang dilontarkan oleh Arthur Jeffery.21
Mengenai Al Khala dan Al Hafad, para muhadditsuun menilai riwayatnya palsu. Sebab pada jalurnya terjadi keterputusan sanad (munqothi’) sepanjang tiga generasi (Thobaqot).
Tentang adanya masalah perbedaan susunan surat dalam mushhaf Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, kalau pun benar, hal itu tidak menjadi soal. Sebab, menurut pendapat yang kuat, susunan surat tidak bersifat tauqifi.22 Yang harus urut hanyalah susunan ayat dalam surat.
Mengenai adanya penghilangan Al Fatihah dan muawidzatain kebenarannya faktanya diperselisihkan. An Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hazm rahimahullah menganggap riwayat yang menyatakan bahwa Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu tidak menganggap Al Fatihah dan muawidzatain sebagai Al Qur’an adalah syadzdz, bahkan palsu. Al Biqillaniy rahimahullah juga menyatakan demikian. Sebab, menolak ayat yang mutawaatir adalah kafir. Sementara Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menganggap riwayat-riwayat itu shohih. Tetapi beliau yakin bahwa penolakan Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu terhadap Al Fatihah dan muawidzatain adalah tidak mungkin. Al Hafidz rahimahullah menduga, pendirian itu adalah pendirian Abdullah radliyallahu ‘anhu yang lama, sebelum adanya proses kompilasi.23
Tentang adanya perbedaan teks, sumbernnya tidak jelas.24 Kalau pun ada, bagaimana pun ia tidak bisa mengganggu ketangguhan teks yang disepakati oleh sebagian besar shohabat radliyallahu ‘anhum. Sebab, naskah yang dikumpulkan para shohabat radlwaanullah ‘alaihim terbukti benar secara meyakinkan. Mendudukkan teks ahad -yang tidak teruji- secara sejajar dengan naskah `Utsmani yang mutawaatir sehingga keberadaan teks janggal itu dianggap perlu dipertimbangkan adalah sikap yang tidak ilmiah sama sekali. Informasi dari seseorang yang berlawanan dari informasi yang dikuatkan oleh banyak orang tentu saja harus ditolak. Dan kami yakin, Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pun akan bersikap demikian.
Naskah `Utsmani bersumber dari dokumen asli, yang dicek langsung oleh Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Sedang apa yang mereka klaim sebagai teks Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu itu tidak jelas dari mana asal-usulnya. Dan kalau pun benar bahwa mush-haf Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu memang menyalahi teks `Utsmani, mana yang kita pilih? Tidak ada yang menjamin bahwa teks itu dilegitimasi oleh Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Sedang yang ada di tangan kita adalah sesuatu yang teruji otentitasnya.
Kesimpulannya, para orietalis benar-benar tidak ilmiah dalam menggkritik mushhaf Al Imam. Mereka tidak memandang samasekali usaha objektif yang dilakukan oleh para shohabat radliyallahu ‘anhum yang terlibat dalam pelembagaan Al Qur’an, mulai dari pengumpulan pada masa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu sampai penyalinan pada masa `Utsman radliyallahu ‘anhu. Kemudian mereka memanfaatkan informasi-informasi yang janggal dan tidak jelas asal-usulnya untuk meruntuhkan kepercayaan umat kepada mushhaf Al Qur’an yang dikompilasi dengan sumber dan metode yang benar-benar aman. Apakah mereka ini memang lebih menyukai hal-hal yang aneh, janggal dan lemah? Atau mereka memang dibayar untuk itu?
Tentang Variasi Bacaan25
Para orientalis, dan orang-orang yang tidak tahu, mengatakan bahwa pada awalnya, bacaan Al Qur’an relatif tidak menentu. Menurut mereka penyebabnya adalah ketiadaan titik pada mushhaf “Utsmaniy yang dapat membedakan huruf-huruf yang memiliki bentuk yang sama. Tanpa titik, huruf ta’ bisa dibaca ba’, tsa’, ya’ atau nun; huruf jim bisa dibaca ha’, atau kho’; huruf za’ bisa dibaca ro’; dst. Contoh dalam Qiroah adalah surat Al Baqoroh 250 pada kalimat wa-ndhur ila-l `idhoomi kayfa nunsyizuhaa. Ini yang ada pada mushhaf yang umum di Indonesia, berdasar riwayat imam Hafs. Sementara ada yang membaca wa-ndhur ila-l `idhoomi kayfa nunsyiruhaa. Yang pertama memakai huruf za’, dan yang kedua dengan huruf ro’.
Tidak adanya tanda vokal (harokat) juga dituduh sebagai penyebab kesimpang-siuran. Tanpa harokat, orang bisa memarfu’kan yang manshub atau memanshubkan yang marfu’. Contoh perbedaan seperti ini dalam qiro’ah banyak, diantaranya adalah Al Baqoroh ayat 37. Satu qiroah membaca dengan fa talaqqoo Aadamu mir-Robbihii kalimaatin, yaitu Adam dalam posisi marfu’, sedangkan kalimah dalam posisi manshub, sementara yang lain membaca dengan fa talaqqoo Aadama mir-Robbihii kalimaatun, di sini Adam manshub dan kalimah justru marfu’.
Tidak ada harokat juga bisa menyebabkan perbedaan tashrif (perubahan bentuk kata). Contohnya fa qooluu Rabanaa baa’id baina asfaarinaa, ada yang membaca fa qooluu Rabbanaa ba’-`ada baina asfaarina (tasyid pd `ain fi’il) atau baa’ada baina asfaarina. Ini adalah surat Sabaa’ ayat 19.
Tidak ada harokat juga meyebabkan perbedaan dalam menganggap sebuah kata sebagai tunggal (mufrad), tatsniyah, atau jama’. Contohnya surat Al Mu’minuun pada kalimat walladziina hum li aamaanaatihim wa `ahdihim roo’uun (perhatikan lafadz jamak pada amanat). Tapi ada yang membaca amanat dengan mufrod, walladziina hum li amaanatihim wa `ahdihim roo’uun.
Dalam surat Al Fatihah, surat yang paling sering dibaca, ada sedikit perbedaan qiroah yang menyebabkan perbedaan makna. Yaitu pada lafadz maaliki yaumiddiin (pemilik hari pembalasan), tapi ada yang membaca maliki yaumiddiin (ma pendek = penguasa/raja) .
Tapi, apakah benar yang menyebabkan perbedaan ini adalah kebodohan kaum muslimin dalam membaca Al Qur’an? Jawabnya bukan. Alasannya ada dua:
Pertama. Seluruh qiroah yang dicontohkan adalah qiroah yang tidak muncul dari hasil uthak-athik ulama, bukan juga hasil ijtihad ulama. Melainkan, semua itu diterima kaum muslimin dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama secara mutawaatir. Jadi, walau berbeda-beda, tetapi tetap dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama, dari Jibril as., dari Allah SWT jua. Qiroah mutawatir itu telah dihimpun oleh ulama pada masa tabiut tabi’in. mereka dikenal dengan imam qiroah yang tujuh. Cara baca Al Qur’an ini mereka terima dari Tabi’in, tabi’in menerima dari shohabat ra, dan shohabat ra menerima dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Dan Qiroah tidak diakui jika diterima melalui jalur ahad, sekalipun shohih atau masyhur, seperti qiro’ahnya Hasan Al Bashriy rahimahullah.
Kedua, umat islam ini bukan dengan tiba-tiba menemukan kitabnya di kolong tempat tidur, kemudian berusaha membacanya. Atau seperti orang yang menemukan Al Qur’an di salah satu rak di toko buku, baru kemudian bacanya sendiri di rumah. Jika Al Qur’an didapat secara seperti itu, wajar jika terjadi kesimpang-siuran mengenai cara membacanya. Tapi, para ulama menerima Al Qur’an dengan metode yang hati-hati. Mereka menerima bacaan secara talaqi -pembicaraan melalui tatap muka- dari para hufadz yang memiliki jalur periwayatan yang bersambung. Dengan begitu, teks bukanlah satu-satunya sandaran dalam membaca. Sandaran utama dalam membaca Al Qur’an di samping teks adalah hafalan yang diwariskan dari guru ke murid.
Pada masa awal, umat islam hanya belajar secara talaqi dengan guru yang menerima Al Qur’an dengan sanad yang kuat dan bersambung kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama (bahkan sampai sekarang masih ada ulama yang memiliki sanad qiroah yang bersambung sampai Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama). Mereka juga hanya belajar pada ulama yang kapabilitasnya diakui dalam qiroah, yang memiliki sanad baik, kewara’an, dan keakuratan tinggi. Pada awalnya mushhaf tidak dijual. Mushhaf hanya bisa didapat oleh seorang murid ketika dia nyantri kepada seorang qori’ yang memiliki sanad bersambung sampai Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama dan dia menyelesaikan hafalannya di depan sang guru. Kemudian setelah bacaannya mantap, dia akan dinyatakan lulus, kemudian akan beralih untuk mempelajari tsaqofah islam yang lain, seperti hadits dan fiqh. Tapi, belajar Al Qur’an bukanlah satu-satunya menu pertama bagi ulama awal. Menu pertama mereka yang lain adalah bahasa Arab yang mereka pelajari sejak kecil di suku-suku pedalaman Arab (seperti yang dilakukan oleh imam kita, Al Imam As Syafi’iy rahimahullah, dll). Sehingga, mereka tidak menemui banyak kesulitan ketika mempelajari Al Qur’an, dengan mufrodat, I’rab, dan tashrifnya.
Dengan dua hal tadi, tuduhan orientalis tentang masalah ragam qiroah benar-benar tidak dapat dibenarkan.
Demikian, semoga cacatan kecil ini bisa memotivasi saudara-saudara kami untuk lebih mencintai Al Qur’an, dan menghargai perjuangan para ulama untuk merawatnya. Syukur-syukur kita berusaha bergabung untuk menjadi salah satu penjaganya. Di atas semua itu, tak ada yang lebih membahagiakan dari mengharapkan ridloNya. Alaa hal balaghtu, Allahumma fasyhad! Wa shollallahu ‘ala sayyidina Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin[_titok_] (www.syariahpublications.com)
====================================
JADI tidak usah repot-repot mengahadapi riwayat ini. Pengingkaran Abu Darda’ terhadap bacaan orang-orang itu tidaklah benar. Abu Darda’ boleh-boleh saja memiliki bacaan sendiri yang ia dengar langsung dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi bacaan yang mutawatir dan menjadi aqidah bagi kaum muslimin termasuk kami pribadi adalah apa yang tertera di dalam Kitab Al Qur’an. Inti dari tulisan ini bukanlah untuk merendahkan sahabat baik Abu Darda’ atau Ibnu Mas’ud tetapi untuk membuka mata para penghujat yang sibuk menuduh adanya tahrif dalam Al-Qur'an
Wallahua'alam
Rujukan
1.      Akaha, Abduh Zulfidar. 1996. Al Qur’an dan Qiro’at. Pustaka Al Kautsar: Jakarta
2.      Al Azami, Muhammad Musthofa. 2005. Sejarah Teks Al Qur’an, Dari Wahyu Sampai Kompilasi. Gema Insani Press: Jakarta
3.      Al Qothon, Mana’ Kholil. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an. Litera AntarNusa: Jakarta
4.      An Nabhani, Taqiyudin. 2003. Syakhshiyah Islam Jilid I. Pustaka Thoriqul Izzah: Bogor
5.      Ash Shobuni, Muhammad Ali. 1996. Pengantar Studi Al Qur’an ( At Tibyan). Pt. Al Ma’arif: Bandung
6.      As Suyuti, Jalaludin.2006. Samudera Ulumul Qur’an Jilid I (Al Itqon fii Ulumil Qur’an). Bina Ilmu: Surabaya
7.      Assyaukanie, Lutfi. 2002. Wajah Liberal Islam Indonesia. Jaringan Islam Liberal: Jakarta
8.      Atho’ bin Kholil. 2003. Ushul Fiqh, Kajian Ushul Fiqh Mudah dan Praktis. Pustaka Thoriqul Izzah: Bogor
9.      Ramadlan, Syamsuddin. 2001. Absahkah berdalil dengan Hadits Ahad Dalam Aqidah dan Siksa Kubur. Hanifah Press: Jakarta
10.  Majalah “Islamia“, tahun 2004, edisi Juni-Agustus. Penerbit Khoirul Bayan dan INSIST
1 Dikutip M. M. Azamy dalam Sejarah Teks Al Qur’an; juga Adian H. dan Henri S. dalam Studi Komparatif: Konsep Al Qur’an Nashr Hamid dan Mu’tazilah. Islamia edisi Juni-Agustus 2004, dari Tobby Lester dalam The Atlantic Mounthly. Dengan penambahan di dalam kurung.
2 Artikel berjudul Edisi Kritis Al Qur’an, dalam Wajah Liberal Islam Indonesia (Ed. Lutfie Assyaukanie) .
3 Dikutip dari pemaparan Taufik dalam sebuah diskusi di Teater Utan Kayu, 9 Juli 2001. Lihat: ibid
4 Ini hanya disimpulkan dari waktu munculnya buku kompilasi qiro’ah tujuh oleh Ibn Mujahid dalam kitab Sab’ah fil Qiro’ah. Juga dari mulai adanya hukuman terhadap Ibn Sanbudh yang meremehkan naskah `Utsmani, dan terhadap Ibn Miqsam yang meremehkan jalur transmisi qiro’ah. Bahkan hanya berdasar pernyataan Ibnu Nadim dalam Al Fihrist dari abad IV dimana beliau masih melihat mush-haf Ibn Mas’ud, `Ali, dll pada masa itu.
5 Buku berjudul Rekonstruksi Sejarah Al Qur’an itu diantarkan oleh Pengarang Al Mishbah tanpa komentar kritis sedikitpun.
6 Titik-titik yang membedakan huruf-huruf yang memiliki kesamaan bentuk, seperti antara ba’, ta’, tsa’, ya’, dan nun; atau seperti jim, ha’, kho’; antara fa’ dengan qof; atau shod dengan dlod, antara tho’ dengan dho’, antara ro’ dengan za’, รกin dengan ghoin dan antara syin dengan sin
7 Sebuah label yang mereka berikan kepada jumhur umat islam sebagai lawan dari kelompok-kelompok pinggiran dan sempalan. Kaum orientalis dan pembebeknya lebih suka memanfaatkan data dari kaum pinggiran yang memiliki pendirian aneh dan janggal daripada pendapat jumhur –yang selalu diasosiasikan sebagai “aliran ortodok yang berkuasa”. Label ini mengesankan bahwa pendirian sebagian besar kaum muslimin mereka anggap tidak pernah muncul sebagai pendirian yang jujur, ilmiah dan objektif, melainkan hanya sekedar pembelaan terhadap madzhab yang kebetulan dominan dan berkuasa.
8 Untuk jawaban masalah ke-3 dan ke-4 bisa dibaca dalam: An Nabhaaniy, Syakhshiyah I, Atho’ bin Kholil, Ushul Fiqh; Al Azami, Sejarah.
9 Dari sini bisa dibayangkan jika islam berdiri tanpa negara! Bahkan Al Qur’an pun mungkin tidak bisa terselamatkan.
10 Yang disebut Shohabat adalah orang muslim yang menjadi sahabat/kawan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama. dan mati dalam keadaan muslim. Allah memuji jamaah mereka dengan keutamaan yang tanpa batasan dan tanpa pengecualiaan.
11 Atho’ bin Kholil, Ushul Fiqh; Ash Shobuniy, At Tibyan; Al A’zami, Sejarah; An Nabhaniy, Syakhshiyah.
12 Ibid.
13 A’zami, op. Cit.
14 Ash Shobuniy, At Tibyan; Al A’zami, Sejarah; An Nabhaniy, Syakhshiyah; As Suyuti, Al Itqon,
15 Ramadlan, Absahkah
16 Al A’zami. Op. Cit.
17 Atho’ bin Kholil, Ushul Fiqh; Ash Shobuniy, At Tibyan; Al A’zami, Sejarah; An Nabhaniy, Syakhshiyah
18 Al A’zami. Op. Cit
19 An Nabhaniy, Syakhshiyah, Atho bin Kholil, Ushul Fiqh
20 Al A’zami, Op. Cit.
21 Andin Armas, Kritik Artur Jeffery Terhadap Al Qur’an
22 An Nabhaniy, Op. Cit.
23 Al A’zami. Op. Cit.
24 Ibid.
25 Semua contoh yang dihadirkan di sini bias di temukan di: akaha, Al Qur’an; Al Qothon, Studi; Atho’, ushul fiqh; Ash Shobuny, At Tibyan; Al A’zami, Sejarah

Sumber :Syariahpublications.com

Menjawab Tuduhan PROLETAR : Orang-orang Islam

Written By admin on Tuesday, May 8, 2012 | 10:14 PM

Bismillahirrohmanirrohim

FFI berkoar-koar di link ini:
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/proletar-orang-orang-islam-t3933/

Saya susun kembali pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran Hasan Basri yang munafik dan sekuler ini yg mereka kutib

1. Apakah Islam melakukan pemenggalan kepala ratusan tawanan Yahudi di Madina?

2. Apakah Muhammad menjadikan gundik seorang janda Yahudi yang suaminya baru saja di penggal di Massacre of Qurayzah bernama Rayhana?

3. Apakah Muhammad menghamili budak krsiten coptic yang bernama Maryam pemberian Safwan?


4. Ali pernah menipu bani Sa,d (Yahudi) di Khaybar dengan merayu bahwa mereka mengundang pemimpinnya yang bernama Usayr ibn Razim untuk bertemu dan berkompromi tentang suatu hal dengan Muhammad. Ditengah perjalanan rombongan 30 orang itu dijagal dan dibantai secara biadab. Ketika laporan pembantaian ini sampai pada Muhammad , Sang Rasullulah malah menyutujui dengan kalimat " It was Allah, who saved you from the company of the opressor "

5. Pembantaian penyair Saab, serta 2 tawanan perang Quraizy, (dosa dosanya adalah menghina Muhammad) juga pemenggalan 700-900 kepala orang orang Qurayzah adalah jaman ketika kekuatan Islam ditangan Muhammad kian menguat.

6. Yang tidak adilnya dari Rasullulah adalah, dia kejam cuma dengan Yahudi, tapi pada baninya sendiri (Quraizy) dia paling gampang memafkan. Bahkan Hindun seorang kanibal yang pernah memakan jantung Hamzah dimaafkan dan malah keluarga Abu Sofyan musuh besar Islam ini diberikan kedudukan dalam pemerintahan Islam kelak.

7. Bagi saya apapun namanya, Tindakan Muhammad adalah tindakan seorang algojo biadab yang tidak mencirikan sifat sifat kenabian sama sekali.

8. Dan bagi orang orang yang mau berpikir secara beradab kita harusnya mau mengakui bahwa ada yang salah dan tidak benar dalam tindakan Muhammad ini.

9. Saya adalah seorang Islam yang sedang tercabik cabik, Kadang saya merindukan Muhammad seperti bayangan saya ketika masih kecil, Muhammad yang periang , lemah lembut dan pandai menyenangkan orang orang miskin.Tapi apa yang saya ketahui akhirnya membuat saya terjungkal kedalam jurang kesangsian yang sangat menyiksa.

10. Orang Islam harus berani mengkritik Nabinya sendiri. Meralat ayat ayat yang tidak sesuai dengan kondisi jaman sekarang. Ayat ayat palsu buatan " Muhammad periode 2 " Ketika dia mulai terbuai oleh napsu puber kedua dan keasikan memainkan political power game.

11. Ayat yang menyuruh membuntungkan pencuri, merajam penzina. Memperbolehkan poligami, harus dihapus. Ayat ayat yang memproklamirkan kebencian terhadap Yahudi dan Nasrani, terhadap budak dan urusan urusan pribadi Muhammad ,juga seharusnya dibuang selama lamanya.

12. Islami dan Krisitiani sebetulnya sama saja. Itulah makanya ketika melihat dan membaca cerita: Romo Mangun, Kyai Jalaludin Rahmat, Mother Theresa, Pak Bukhari, Sidhartha Gautama, Voltarie, Acup di New York, Edizal di Jepang, Pak Kholil penjaga mesjid Mujahidin, Thomas Paine dan Bapak Djoko Soetejo di Blitar. Saya tidak lagi bisa membedakan apakah mereka ini umat Kristen atau umat Islam? bagi saya mereka adalah orang orang Islam yang sesungguhnya. Sebab bukankah Islam itu artinya adalah patuh dan tunduk terhadap sang pencipta? Orang orang ini tidak pernah menyakiti dan membunuh manusia. orang orang ini tidak pernah merampok harta orang kecil dan menghukum mati siapapun. Orang orang inilah sebenarnya orang orang Islam

===============================================================
JAWABAN:

1. APAKAH ISLAM MELAKUKAN PEMENGGALAN KEPALA RATUSAN TAWANAN YAHUDI DI MADINA?

Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang mengapa peristiwa tersebut terjadi.

Kaum Yahudi di Yastrib (Madinah) umumnya terdiri dari Bani Qainuqa’. Pekerjaan mereka antara lain sebagai pengrajin perhiasan, pandai besi, maupun kerajinan logam lainnya. Selain itu mereka juga ada yang menjadi pedagang dan mempunyai pasar perniagaan yang cukup besar. Di daerah perbatasan sekitar Madinah bermukim kaum Yahudi dari Bani Nadhir dan Bani Quraidhah. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang, pengelola tanah perkebunan kurma, anggur, dll.

Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, rombongan beliau disambut dengan tangan terbuka oleh Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj (Kaum Anshar), tetapi tidak demikian dengan kaum Yahudi. Meskipun demikian Rasulullah saw tidak mengambil sikap permusuhan terhadap mereka. Beliau menetapkan perjanjian diantara semua penduduk Madinah demi terwujudnya perdamaian dan kerukunan, termasuk kepada kaum Yahudi.

Dalam perjanjian tersebut, antara lain disebutkan,”Orang Yahudi yang turut dalam perjanjian dengan kami berhak memperoleh pertolongan dan perlindungan, tidak akan diperlakukan secara zalim. Agama Yahudi bagi orang-orang Yahudi dan agama Islam bagi kaum Muslimin. Jika ada diantara mereka berbuat zalim, itu hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan keluarganya.”

Menghianati perjanjian damai dengan kaum Muslimin rupanya sudah menjadi watak kaum Yahudi. Perjanjian damai yang dilakukan oleh Rasulullah saw demi tercapainya perdamaian dan kerukunan tidak mereka hiraukan. Banyak sekali tindakan kaum Yahudi (terutama dari Bani Qainuqa’) yang menimbulkan kekacauan dan permusuhan kepada kaum Muslimin(tidak saya uraikan disini karena akan sangat panjang). Perbuatan kaum Yahudi ini sudah sangat keterlaluan, tidak bisa dibiarkan dan harus ditindak tegas. Kaum Muslimin mengepung pemukiman Bani Qainuqa’ sehingga 15 hari kemudian mereka menyerah. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Rasulullah saw memaafkan dan tidak menghukum mereka. Kaum Yahudi Bani Qainuqa’ tersebut hanya diusir keluar dari Madinah. Selanjutnya mereka pergi ke Wadil-Qura, kemudian menetap di negeri Syam.

Dalam Bulan Syawal tahun ke-4 Hijriah, terjadi Perang Khandaq atau dikenal juga dengan nama Perang Ahzab. Peperangan ini terjadi atas dorongan dan hasutan kaum Yahudi. Sekelompok Yahudi Bani Nadhir dan Kabilah Bani Wa’il pergi ke Makkah menemui para pemimpin Quraisy. Mereka menghasut para pemimpin Quraisy agar bangkit kembali memerangi kaum Muslimin. Setelah menghasut para pemimpin Quraisy, mereka juga menghasut para pemimpin Kabilah Ghathafan. Akhirnya tercapailah kesepakatan diantara mereka. Pihak Quraisy mengerahkan 4000 orang, pihak Qathafan 6000 orang, sedangkan pihak Yahudi akan menyerahkan hasil perkebunan mereka selama satu tahun. Menghadapi persekutuan tersebut, kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 4000 orang sepakat bertahan dan menggali parit mengelilingi Kota Madinah.

Melihat persekutuan musuh kaum Muslimin yang demikian besar dan kuat, kaum Yahudi Bani Quraidhah yang tinggal disekitar perbatasan Madinah berhianat dan membatalkan perjanjian terdahulu dengan kaum Muslimin. Mereka kemudian membantu dan ikut serta dengan musuh kaum Muslimin.

Mengenai betapa besarnya bahayanya Bani Quraidhah bagi keselamatan kaum Muslimin, Montgomery Watt dalam bukunya “Cambridge History of Islam” mengemukakan, “Ketika itu di Madinah masih terdapat suku Yahudi yaitu Bani Quraidhah. Pada saat kaum musyrikin mengepung Kota Madinah, Bani Quraidhah itu pura-pura setia kepada perjanjian, tetapi tidak dapat lagi diragukan bahwa mereka berpihak kepada kaum musyrikin. Mereka hendak menggunakan kesempatan pertama untuk melancarkan serangan dari belakang terhadap kaum Muslimin.”

Berkat bantuan Allah SWT, akhirnya pihak Muslimin memenangkan peperangan tersebut. Kemudian Rasulullah bersama kaumnya menuju pemukiman Bani Quraidhah untuk melakukan perhitungan atas penghianatan mereka. Bendera perang melawan Bani Quraidhah beliau serahkan kepada Ali bin Abi Thalib ra. Bani Quraidhah dikepung di dalam bentengnya selama 25 hari, sehingga akhirnya menyerah.

Beberapa tokoh Kabilah Aus menghadap Rasulullah saw untuk memohon pengampunan sebagaimana yang pernah dimohonkan Kabilah Khazraj kepada Yahudi Bani Nadhir dan Bani Qainuqa’. Akhirnya diambil persetujuan bahwa yang akan menjatuhkan keputusan adalah dari Kabilah Aus bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Karena Bani Quraidhah adalah kaum Yahudi, maka keputusan yang diambil adalah menurut hukum Yahudi, yaitu hukum Taurat. Akhirnya Sa’ad bin Mu’adz memutuskan,”Kaum lelakinya akan dihukum mati, harta benda mereka disita dan dibagikan kepada kaum Muslimin, anak istri mereka akan ditawan dan dijadikan budak!”

Mendengar keputusan Sa’ad seperti itu, Rasulullah berkata,”Keputusanmu mengenai mereka sesuai dengan hukum Allah!” Demikian menurut Ibnu Hisyam di dalam Sirahnya, dan juga diriwayatkan juga oleh Bukhari dan Muslim.

Keputusan yang diambil oleh Sa’ad bin Mu’adz jika dilihat dari kacamata kita saat ini terlihat sangat kejam. Akan tetapi kaum Yahudi pada masa itu bisa memahami keputusan tersebut, karena memang demikianlah yang berlaku menurut hukum Yahudi, yaitu hukum Taurat.
Silahkan baca sendiri pada:

Kitab Ulangan pasal 20 ayat 10 – 14
Kitab Bilangan pasal 31 ayat 7 -10
Kitab Bilangan pasal 31 ayat 13 – 16

===================================================

2. APAKAH MUHAMMAD MENJADIKAN GUNDIK SEORANG JANDA YAHUDI YANG SUAMINYA BARU SAJA DI PENGGAL DI MASSACRE OF QURAYZAH BERNAMA RAYHANA?


Nabi Muhammad saw tidak pernah mempunyai gundik, karena hal tersebut tidak ada dalam ajaran agama Islam. Rasulullah saw mempunyai istri bernama Shafiyyah binti Huyaiy r.a bin Akhtab, seorang wanita Yahudi dari Bani Nadhir. Sebelumnya ia adalah istri Kinanah bin Rabi’. Dalam Perang Khaibar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin, ia dan suaminya termasuk sebagai tawanan. Dalam Perang Khaibar ini, Rasulullah memberikan pengampunan dengan tidak menghukum mati kaum laki-lakinya, sebagaimana hukum Taurat, mereka tetap dijadikan tawanan dan seluruh harta benda mereka disita. Kinanah bin Rabi’ ternyata menyembunyikan harta kekayaan Bani Nadhir yang telah menjdi hak kaum Muslimin. Akan tetapi dia tidak mau mengaku dan bersumpah bersedia dihukum mati apabila berbohong. Setelah diadakan penyelidikan, ternyata ditemukan banyak harta kekayaan Bani Nadhir yang dititipkan kepada Kinanah bin Rabi’ dan disembunyikan olehnya. Sesuai dengan janji kesanggupannya sendiri, Kinanah bin Rabi’ dijatuhi hukuman mati atas kebohongan dan sumpah palsu yang diucapkannya sendiri. Istrinya selama beberapa waktu menjadi hamba sahaya oleh anggota kaum Muslimin yang menawannya. Kemudian ia mengajukan permohonan kepada Rasulullah saw supaya dimerdekakan.

Menurut riwayat yang dikemukakan Imam Ahmad bin Hambal, saat itu Rasulullah saw mengajukan dua pilihan kepada Shafiyyah binti Huyaiy r.a. Setelah dimerdekakan, apakah beliau lebih suka dikembalikan kepada kaum kerabatnya, atau lebih suka memeluk Islam dan menjadi istri Rasulullah saw. Shafiyyah binti Huyaiy r.a menyukai pilihan kedua. Atas dasar itu, Rasulullah saw menikahinya dengan pembebasannya sebagai mas kawin. Kebijaksanaan yang Rasulullah saw lakukan membawa hikmah yang sangat besar. Dengan memperistri Shafiyyah binti Huyaiy, sanak kerabatnya secara tidak langsung juga menjadi sanak kerabat Rasulullah saw. Sehingga mereka juga dibebaskan dan tidak dijadikan tawanan. Hal tersebut akhirnya menjadi sunnah, bahwa pembebasan hamba sahaya dapat dijadikan mas kawin bagi kaum Muslimin yang hendak menikahi hamba sahayanya. Shafiyyah binti Huwaiy r.a adalah seorang wanita yang sabar, cerdas dan berkepribadian baik. Beliau wafat dalam bulan Ramadhan tahun 50 Hijriah dan dimakamkan di pekuburan Baqi’.

=============================================================
3. APAKAH MUHAMMAD MENGHAMILI BUDAK KRISTEN COPTIC YANG BERNAMA MARYAM PEMBERIAN SAFWAN?

JIKA YANG DIMAKSUD ADALAH MARIA AL-QIBTIYAH, SILAHKAN SIMAK PENJELASAN SAYA:

Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah


Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Maria al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Maria sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Maria layaknya seorang Ummul-Mukminin. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.


Tidak benar kalau Rasulullah SAW berzina dengan budak tersebut. Dan tidak juga benar Maria adalah budak istri Rasulullah Hafsah, Putri Umar Al Khattab. Maria adalah budak Rasulullah SAW sendiri sekaligus istri beliau dari golongan hamba sahaya dalam bahasa kita adalah selir, bukan budak Hafsah istri Rasulullah Putri Umar Al Khattab Al Faruq.

Cerita selengkapnya bisa dibaca di link ini:

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/01/mariyah-al-qibtiyah-wafat-16h637-m/

Perkara Rasulullah SAW mau mendatangi beliau (Maria) di rumah Hafsah yang juga rumah Rasulullah ketika pulang dari Syria itu bukan sedangkan Hafsa sedang tidak di rumah saya rasa bukanlah hal aneh. Perkara Rasululah bersumpah untuk tidak mendatangi Maria karena kecemburuan istrinya yg lain juga bukan hal yg perlu dipermasalahkan. Yang saya tanyakan kapan dan dimana Rasulullah berzinah dengan Maria? Sementara Maria sendiri adalah istri beliau (Rasulullah SAW) yang dari buah perkawinannya lahirlah Ibrahim yang meninggal pada umur 2 tahun.

================================================================

4. ALI PERNAH MENIPU BANI SA,D (YAHUDI) DI KHAYBAR DENGAN MERAYU BAHWA MEREKA MENGUNDANG PEMIMPINNYA YANG BERNAMA USAYR IBN RAZIM UNTUK BERTEMU DAN BERKOMPROMI TENTANG SUATU HAL DENGAN MUHAMMAD. DITENGAH PERJALANAN ROMBONGAN 30 ORANG ITU DIJAGAL DAN DIBANTAI SECARA BIADAB. KETIKA LAPORAN PEMBANTAIAN INI SAMPAI PADA MUHAMMAD , SANG RASULLULAH MALAH MENYUTUJUI DENGAN KALIMAT " IT WAS ALLAH, WHO SAVED YOU FROM THE COMPANY OF THE OPRESSOR "

Khaibar adalah sebuah daerah pemukiman Yahudi, yang mempunyai banyak benteng pertahanan, sehingga merupakan pangkalan militer mereka yang terkuat di Semenanjung Arab. Dari benteng-benteng itulah kaum Yahudi di Khaibar mengatur persekongkolan dengan Kabilah Quraisy dan Kabilah Ghathafan menyerbu Madinah dalam Perang Ahzab atau Perang Khandaq.

“Orang-orang Yahudi Khaibar, khususnya pemimpin Bani Nadhir dengan kekuatan hartanya berhasil menggerakkan kabilah-kabilah Arab sekitar Khaibar untuk mengangkat senjata melawan kaum Muslimin. Itulah sebab pokok yang memaksa Muhammad menghadapi mereka dengan pasukannya.” (W.Montgomery Watt, Mohammed Prophet and Stateman, hal 189, Leiden 1961.)

Sudah menjadi tradisi perang pada masa itu, sebelum perang besar yang melibatkan seluruh personil pasukan, pihak yang berperang masing-masing mengirimkan beberapa orang terbaiknya untuk melakukan perang tanding terlebih dahulu. Hal ini biasanya untuk mengukur sejauh mana kemampuan perang pihak musuh dan menambah semangat pasukan bagi yang memenangkan perang tanding tersebut. Dalam hal ini ternyata perang tanding tersebut dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Dalam peperangan adalah hal yang wajar apabila ada pihak yang terbunuh. Ali bin Abi Thalib r.a tentu juga akan dibunuh apabila beliau mengalami kekalahan dalam perang tanding tersebut. Emangnya dalam perang pihak yang bertikai kalo ketemu pada pelukan, cipika-cipiki, trus tuker-tukeran no HP biar bisa janjian dugem bareng ? haddeh...
=============================================================

5. PEMBANTAIAN PENYAIR SAAB, SERTA 2 TAWANAN PERANG QURAIZY, (DOSA DOSANYA ADALAH MENGHINA MUHAMMAD) JUGA PEMENGGALAN 700-900 KEPALA ORANG ORANG QURAYZAH ADALAH JAMAN KETIKA KEKUATAN ISLAM DITANGAN MUHAMMAD KIAN MENGUAT.

Kalau ada tawanan yg dibunuh karena menghina dan memusuhi rasulullah apanya yg aneh?

Pemenggalan 700-900 kepala orang orang qurayzah adalah jaman ketika kekuatan islam ditangan muhammad kian menguat????

Hoax darimana tuh?????

Berikut Ini Data Korban Perang Dalam Sirah Nabawi:

Kalau Islam masih dikatakan haus darah, atau disebarkan dengan pedang, mari kita teliti lebih dalam jumlah jumlah korban tewas dalam peperangan dalam sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.
01. Perang Badar tahun 2 Hijriyah, korban kafir 70 orang, korban muslim 14 orang
02. Operasi Abdullah bin Jahsy tahun 2 Hijriyah, korban kafir 1 orang, korban muslim tidak ada.
03. Perang As-Sawiq tahun 2 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim tidak ada.
04. Operasi Ka’ab bin Asyraf tahun 3 Hijriyah, korban kafir 1 orang, korban muslim tidak ada
05. Perang Uhud tahun 3 Hijriyah, korban kafir 22 orang, korban muslim 70 orang
06. Perang Hamra’ul Asad tahun 3 Hijriyah, korban kafir 1 orang, korban muslim tidak ada
07. Operasi Raji’ tahun 3 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim 7 orang
08. Operasi Bi’ru Ma’unahtahun 3 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim 27 orang
09. Perang Khandaq tahun5 Hijriyah, korban kafir 3 orang, korban muslim 5 orang
10. Perang Bani Quraidhahtahun 5 Hijriyah, korban kafir 600 orang, korban muslim tidak ada.
Tapi sebenarnya angka ini tidak bisa dikatakan sebagai korban perang, karena 600 orang itu memang dihukum mati karena pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
11. Operasi Atik 5 Hijriyah, korban kafir1 orang, korban muslim tidak ada
12. Perang Dzi Qird tahun6 Hijriyah, korban kafir 1 orang, korban muslim 8 orang
13. Perang Bani Mushthaliq tahun6 Hijriyah, korban kafirtidak ada, korban muslim 1 orang
14. Perang Khaibar tahun 7 Hijriyah, korban kafir 2 orang, korban muslim 20 orang
15. Perang Wadilqura tahun 7 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim 1 orang
16. Perang Mu’tah tahun 8 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim 11 orang
17. Perang Fathu Makkah tahun 8 Hijriyah, korban kafir 17 orang, korban muslim 3 orang
18. Perang Hunain tahun 8 Hijriyah, korban kafir 84 orang, korban muslim 4 orang
19. Perang Thaif tahun 8 Hijriyah, korban kafir tidak ada orang, korban muslim 13 orang
20. Perang Tabuk tahun 2 Hijriyah, korban kafir tidak ada, korban muslim tidak ada

Itulah data otentik korban perang dalam sejarah nabi Muhammad SAW selama 23 tahun berdakwah, jumlahnya hanya 386 jiwa saja, sudah termasuk muslim dan kafir.
 =====================================================

6. YANG TIDAK ADILNYA DARI RASULLULAH ADALAH, DIA KEJAM CUMA DENGAN YAHUDI, TAPI PADA BANINYA SENDIRI (QURAIZY) DIA PALING GAMPANG MEMAFKAN. BAHKAN HINDUN SEORANG KANIBAL YANG PERNAH MEMAKAN JANTUNG HAMZAH DIMAAFKAN DAN MALAH KELUARGA ABU SOFYAN MUSUH BESAR ISLAM INI DIBERIKAN KEDUDUKAN DALAM PEMERINTAHAN ISLAM KELAK.

Nabi SAW lahir, hidup dan tinggal diantara atau dikelilingi oleh 360 suku pagan dan 3 suku Yahudi yang masing-masing memiliki kemampuan berperang. Oleh karena itu situasi dimana nabi SAW berada adalah diselimuti oleh bahaya demi bahaya. Tentu dapat dimengerti bahwa dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ini, dimana nabi SAW dan kaum muslimin harus tetap survive dan tidak mempunyai pilihan lain, akan mengakibatkan terjadinya banyak benturan disana-sini berupa peperangan-peperangan dan pertentangan yang cukup sulit untuk dihindarkan.

Hal ini juga harus dipahami bahwa status Muhammad adalah sebagai seorang nabi yang diutus dan ditugaskan untuk menyampaikan ajaran agama. Sementara kalau dibandingkan dengan nabi-nabi terdahulu saja dapat diketahui bagaimana nasib mereka, seperti Yohanes Pembaptis dan nabi Zakariya yang tidak berdaya dibunuh oleh Yahudi dan bahkan Yesus sendiri yang harus mengalami peristiwa seperti penyaliban dan tidak berdaya melawan keganasan orang-orang Yahudi.

Jadi dalam keadaan dikelilingi oleh 360 suku-suku musyrik penyembah berhala dan orang-orang munafik, otomatis tidaklah mudah hidup dalam lingkungan seperti itu, dimana dalam situasi seperti itu bentrokan fisik, maupun pengkhianatan-pengkhianatan sering terjadi, termasuk propaganda, hasutan dan upaya-upaya pembunuhan terhadap kaum muslimin.

Lingkungan tidak kondusif ini juga diakibatkan karena banyaknya orang-orang munafik dan juga sifat-sifat Yahudi yang cenderung tidak bersahabat dengan nabi SAW dan bahkan dengan para nabi yang pernah diutus sebelumnya, seperti ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut:

Matius 23:37
23:37 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.


Yohanes 7:19
Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?


1 raja-raja 19:13-14
19:13 Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” 19:14 Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.


Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 277:
Narrated Abu Huraira:
The Prophet said, “Had only ten Jews (amongst their chiefs) believe me, all the Jews would definitely have believed me.”


Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 229:
Narrated Abi Waih:
Hudhaifa bin Al-Yaman said, ‘The hypocrites of today are worse than those of the lifetime of the Prophet, because in those days they used to do evil deeds secretly but today they do such deeds openly.’
Sahih Bukhari Volume 9, Book 88, Number 230:
Narrated Abi Asha’sha:
Hudhaifa said, ‘In fact, it was hypocrisy that existed in the lifetime of the Prophet but today it is Kufr (disbelief) after belief.’

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (QS.Ali-Imran:72)


“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(QS.Al-Baqarah:190)


Siapa bilang Rasulullah kejam hanya dengan Yahudi? Siapapun yg bertobat tentu saja akan dimaafkan dari kalangan manapun. Sementara siapa yg memusuhi rasulullah ya tetap dihadapi, apa Rasulullah harus diam saja jika dimusuhi atau ingin dibunuh?! Nerimo aja gituh???? Pikiran kayak gitu cuma cocok untuk orang-orang yg bermental penjajah, kalau ada orang yg didzolimi ga boleh melawan, ga heran sih jika anda berpendapat gitu, namanya juga penganut agama para kompeni alias penjajah.


Ada baiknya anda juga menilai secara objektif sikap Rasulullah terhadap orang Yahudi, ada cerita yg anda abaikan yaitu kisah Rasulullah dan pengemis Tua, beliau menyuapinya makan setiap pagi walaupun laki-laki Yahudi itu selalu mencaci dan menyumpahinya. Silahkan baca kisahnya disini:
http://fadil.blogsome.com/2010/10/22/rasulullah-dan-pengemis-yahudi-buta/

=================================================================
Untuk pertanyaan berikutnya no 7, 8, 9 dan 12 saya hanya bisa bilang itu cuma pandangan subjektif orang yg tidak mengerti tentang Islam yg sebenarnya.

================================================================

10. ORANG ISLAM HARUS BERANI MENGKRITIK NABINYA SENDIRI. MERALAT AYAT AYAT YANG TIDAK SESUAI DENGAN KONDISI JAMAN SEKARANG. AYAT AYAT PALSU BUATAN " MUHAMMAD PERIODE 2 " KETIKA DIA MULAI TERBUAI OLEH NAPSU PUBER KEDUA DAN KEASIKAN MEMAINKAN POLITICAL POWER GAME.

Ayat buatan nabi Muhammad yg lagi puber kedua? Lucu sekali klaimnya
Terus, mengapa Rasulullah poligami? Karena, hal itu adalah perintah Allah berdasarkan sebab-sebab tertentu.

Pertanyaan balik; nafsu sex itu meningkat bila seseorang bertambah usianya, atau malah berkurang?

Karena Jika Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau tidak melakukan poligami saat usia muda?

Sejarah telah mengabarkan kepada kita, bahwa beliau monogami bersama Siti Khadijah selama dua puluh lima tahun. Saat-saat dimana jiwa muda bergelora. Juga, Siti Khadijah lebih tua dari beliau lima belas tahun. Beliau tidak nikah, kecuali setelah Siti Khadijah wafat. Ketika Rasulullah berusia lima puluh tiga tahun, ditambah dengan aktifitas dakwah yang padat, salat tahajud sampai kaki beliau bengkak, ikut bertempur memerangi orang-orang kafir, menerima tamu-tamu yang berkunjung, mengadakan perjanjian-perjanjian damai demi keamanan dengan Yahudi, orang-orang munafik, dan kabilah-kabilah tetangga, dll.

Yang jika ditela'ah, satu orang anak manusiapun tidak mampu melakukan berbagai aktifitas yang padat tadi. Mungkinkah, Rasulullah masih punya waktu banyak dan tenaga yang cukup untuk bersenang-senang dengan isteri-isterinya?

Belum lagi kehidupan beliau yang penuh dengan kezuhudan dan kesederhanaan. Sampai-sampai, saat beliau sangat lapar, dua butir batu beliau gunakan untuk menonggak perutnya, agar rasa lapar tidak terasa. Makan hanya dengan tiga butir kurma dan dapurnya hampir tidak pernah berasap. Juga, keseringan puasanya. Padahal umatnya dilarang puasa wisal (bersambung) sedangkan beliau sendiri puasa wisal sampai tiga hari berturut-turut.

Pertanyaannya : masihkan tersisakah nafsu sahwat Beliau ?

Kalau Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau memilih isteri-isteri yang sudah lanjut usia, lemah, hanya Aisyah yang beliau nikahi ketika masih gadis?

Mengapa pula Rasulullah memilih janda-janda? Sejarah membuktikan, bahwa semua isteri Rasulullah adalah wanita-wanita lanjut usia, lemah, dan janda. Kecuali Siti Aisyah. Bahkan sebagian mereka telah sangat lanjut usia. Seperti Siti Khadijah, Siti Saudah, dan Siti Zainab binti Khuzaimah. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pengagum sex paling suka bila isterinya bersolek dan berpakaian yang paling indah. Apa yang kita saksikan dengan isteri-isteri Rasulullah. Mereka ketika meminta beliau agar nafkah ditambah, langsung Allah memerintahkan mereka untuk memilih salah satu dari dua hal; ditalak atau hidup bersama Rasulullah dengan kezuhudan dan kesederhanaan. (Q.S: al-Ahzab: 28-29).


==========================================================
11. AYAT YANG MENYURUH MEMBUNTUNGKAN PENCURI, MERAJAM PENZINA. MEMPERBOLEHKAN POLIGAMI, HARUS DIHAPUS. AYAT AYAT YANG MEMPROKLAMIRKAN KEBENCIAN TERHADAP YAHUDI DAN NASRANI, TERHADAP BUDAK DAN URUSAN URUSAN PRIBADI MUHAMMAD ,JUGA SEHARUSNYA DIBUANG SELAMA LAMANYA.

Cuma orang-orang yg masih berminat bermaksiat yg takut hukum buntung tangan bagi pencuri dan rajam bagi pezina diterapkan, jangan-jangan neh orang aslinya memang maling dan pezinah, kalau bukan dan anda adalah orang baik-baik maka sekeras apapun hukuman kenapa mesti takut?

Tentang Poligami, silahkan lihat jawabannya di sini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=112525552147084

Dan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=149721461760826


Tentang Budak silahkan buka jawabannya di note saya yg ini:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=173199849412987

Tentang ayat yg anda klaim hanya buatan nabi sudah saya jawab sebelumnya dipertanyaan no 10.

Tentang ayat ayat yang memproklamirkan kebencian terhadap Yahudi dan Nasrani, emangnya anda tahu Yahudi dan Nasrani yg mana yg harus dibenci dan mana yg bukan. Baca jawaban selengkapnya disini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=162449763821329
Anda mempermasalahkan ayat yg tentang membenci Yahudi dan Nasrani yg memang selalu membenci Islam? Pada kenyataannya sampe kiamat memang Yahudi dan Nasrani tidak pernah berhenti memusuhi Islam, lihat siapa pelaku pembantaian Palestine, Bosnia, Irak, Afganistan dsb kalau bukan Yahudi dan Nasrani. Siapa kaum penjajah yg merampok, membunuh, memperbudak dan menyebarkan agamanya melalui kolonialisme selama berabad-abad? Jika anda menyuruh kami menghapus ayat-ayat tsb, dengan begitu kami tidak lagi melawan jika diperlakukan seenaknya, saya hanya bisa bilang satu kalimat yg cocok buat anda: “DASAR MENTAL PENJAJAH”


JANGAN PERNAH BERMIMPI KAMI AKAN MENGHAPUS 1 AYATPUN DALAM ALQUR'AN, JANGAN SAMAKAN KAMI DENGAN KALIAN, SEENAKNYA SAJA MENAMBAH, MENGURANGI, MENGEDIT ATAU MENGHAPUS AYAT ALKITAB. KITAB SUCI UDAH DIANGGAP KAYAK NOVEL YG SEENAKNYA AJA DIREVISI.
======================================================
SEKARANG KITA LIHAT SIAPA SIH PROLETAR YG SEBENARNYA?

Hukum perang dalam Bible disebutkan bahwa : 

1.  Dalam penyerbuan kepada musuh, terlebih dahulu harus ditawarkan perdamaian. Jika musuh menerima berdamai, maka musuh tersebut harus dijadikan sebagai budak pekerja rodi. Tapi jika musuh tidak mau berdamai, maka harus dikepung dan diperangi habis – habisan. Seluruh penduduk laki-laki harus ditumpas dengan pedang, sedang anak-anak, wanita dan hewan-hewannya boleh dijarah dan dirampas sebagai harta rampasan perang. Untuk beberapa suku lainnya, maka semua yang bernafas harus ditumpas.

(Ulangan 20:16-17)
  • “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa yang didirikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan harus kau tumpas sama sekali,”.


2. Dalam kitab Bilangan, juga disebutkan hukum peperangan, yaitu yang harus dibunuh adalah laki-laki dan perempuan yang sudah pernah bersetubuh. Sedangkan perempuan yang belum pernah bersetubuh (perawan), boleh diambil bagi mereka.

(Bilangan 31:17-18).
  • “Maka sekarang bunuhlan semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh.
  • Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu.” 

3.  Dalam sejarah Israel, sebagaimana termaktub dalam Alkitab disebutkan bahwa ketika menyerbu Yerikho, Tuhan telah menyerahkan nasib Yerikho kepada Nabi Yosua. Dalam penaklukan Yerikho, maka semua manusia dan hewan ternak ditumpas habis, tak satupun yang dibiarkan hidup.

(Yosua 6:21).
  • “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.” 


4. Perlakuan yang sama juga dilakukan Yosua kepada kerajaan Makeda.

(Yosua : 10:28)
  • “Pada hari itu Yosua merebut Makeda dan kota itu dipukulnya dengan mata pedang, juga rajanya. Kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya, tak ada seorangpun yang dibiarkannya lolos. Dan raja Makeda diperlakukannya seperti telah diperlakukannya Raja Rerikho.” .

5. Membunuh siapa saja
Imamat 24: 16 "dan dihukum mati. Siapa saja yang mengutuk TUHAN harus dilempari dengan batu sampai mati oleh seluruh jemaat. Hukum itu berlaku untuk orang Israel maupun untuk orang asing yang sudah menetap di Israel."

1 Samuel 15: 3 "jadi, pergilah dan seranglah orang Amalek dan hancurkanlah segala milik mereka. Janganlah tinggalkan sesuatu apa pun; bunuhlah semua orang laki-laki, wanita, anak-anak dan bayi; juga sapi, domba, unta dan keledai.’‘"

 TERINSPIRASI DARI AYAT-AYAT DI ATAS, MAKA DITERAPKAN DENGAN SANGAT BAIK OLEH UMAT KRISTEN:

Korban Perang Agama Kristen di Eropa
Coba bandingkan dengan perang saudara sesama Kristen antara sekte Katholik melawan Protestan di Eropa yang jumlah korban jiwa mencapai 10 juta nyawa. Kalau dikatakan bahwa Islam itu haus darah, karena perangnya telah merenggut 386 nyawa, lalu Katholik dan Protestanyang berperang saudara dan menewaskan 10 juta nyawa itu mau kita sebut apa?
Filosuf Perancis, Voltire (1694-1778), menyebutkan bahwa korban nyawa 10 juta orang itu terjadi di masa lalu, sama dengan 40% penduduk Eropa Tengah. Coba pikir lagi, siapa sih yang haus darah?

Korban Revolusi Bolsevic
Di Rusia untuk mewujudkan komunisme dilaksanakan Revolusi Bolsevic pada tahun 1917. Dan untuk itu telah terbunuh 19 juta orang. Setelah komunisme berkuasa, telah terhukum secara keji sekitar 2 juta orang dan sekitar 4 atau 5 juta orang diusir dari Rusia. Apakah kita masih mau bilang Islam itu harus darah, lalu komunisme itu mau kita bilang apa?

Korban Bom Atom Amerika di Jepang
Di tahun 1945, Amerika telah menjatuhkan bom di Hiroshima yang merenggut nyawa 140 ribu orang. Sedangkan di Nagasaki jumlah korbannya 70 ribu jiwa. Belum terhitung mereka yang luka, sakit dan cacat seumur hidupterkena radiasi nuklirnya.
Pengeboman itu dilakukan resmi oleh pemerintah Amerika di bawah kepemimpinan Rosevelt, Presiden USA saat itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, penemuan besar tenaga nuklir digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Yang harus darah itu Islam atau Amerika?

Korban Suku Indian
Jauh sebelum benua Amerika didatangai bangsa Eropa, sudah terdapat suku asli yang menghuni dengan damai benua itu.
Namun pada tahun 1830 lahir Indian Removal Act, peraturan yang memungkinkan pengusiran terhadap bangsa Indian demi kepentingan para pendatang yang didominasi oleh kulit putih. Akibatnya, lebih dari 70.000 orang Indian diusir dari tanahnya sehingga mengakibatkan ribuan orang meninggal.
Apakah Islam masih mau dibilang haus darah, ataukah para koboi Amerika itu yang haus darah?

Korban Rwnda
Di Rwanda, kurang lebih 800.000 suku Tutsi menjadi korban pembantaian terencana oleh tokoh- tokoh militan suku Hutu, bahkan sebagian suku Hutu sendiri yang beraliran moderat, dalam arti tidak memusuhi suku Tutsi, juga menjadi korban pembantaian tersebut.

Korban Perang Dunia Kedua
Di tahun 1945, jumlah populasi umat manusia di muka bumi tercatat sebanyak 1, 9 milyar orang (1.971.470.000 jiwa). Di masa itu terjadi perang dunia kedua, tercatat jumlah korban jiwa mencapai angka fantastis, tidak kurang dari 62 juta orang, tepatnya 62, 537, 400 jiwa. Itu sama saja pembunuhan 3, 17% jumlah populasi umat manusia di muka bumi.
Dan perang itu melibatkan negara adidaya saat itu, yang nota bene bukan negeri Islam. Masihkah kita menuduh Islam sebagai agama peperangan? Pernahkah peradaban Islam melahirkan perang dunia?

Korban Pembantaian Yahudi di Palestina
Kelompok teroris Yahudi pimpinan Menachem Begin dengan anggota-anggotanya, antara lain Ariel Sharon, pada tahun 1948 pernah membantai 1.000 orang Arab penduduk Deir Yassin, selatan Jerusalem.
Dan Ariel Sharon ketika menjabat Menteri Panglima Angkatan Bersenjata Israel, terlibat pembantaian 3.000 warga sipil Palestina di kamp pengungsi Sabhra dan Shatila, selatan Lebanon tahun 1982.
Itu bukan perang tapi pembantaian. Pasukan bengis Yahudi Israel datang ke Palestina dan menembaki warga sipil yang tidak berdosa. Masih pulakah kita katakan Islam sebagai agama haus darah? Dan apakah kita masih ingin bilang bahwa Yahudi itu ramah, penuh kasih dan lemah lembut?

Korban Serbia di Bosnia
Pasukan Serbia dipimpin oleh Slobodan Milosevic melakukan operasi pembersihan etnis secara sistematis di kota-kota yang dikuasainya selama perang berlangsung. Sedikitnya 200.000 orang tewas dalam perang empat tahun tersebut.
Dan penduduk Bosnia Herzegoviaberagama Islam, sejak zaman khilafah Turki Utsmani.


Siapakah yang membantai 800.000 warga muslim yang sudah menyerah di palestina hanya dalam waktu 3 hari?
Siapakah yang membantai 1.500.000  muslim yang menyerah di spanyol atas perintah Queen Issabella III?
Siapakah yang membantai  ribuan suku aboriginal(penduduk asli) di Amerika Utara dan Australia agar supaya mereka bisa mengambil alih tanah dan harta mereka ?
Siapakah yang membantai  jutaan manusia penduduk Amerika selatan?
Siapakah yang membantai jutaan manusia dalam perang dunia ke I?
Siapakah yang membantai 6 Juta orang yahudi di perang dunia ke II?
Siapakah yang membantai  2 juta orang kristen Polandia di perang dunia ke II?
Siapakah yang membantai 6 Juta penduduk China ?
Siapakah yang membantai 2 Juta penduduk Kamboja?
Siapakah yang membantai 2 Juta Penduduk pilipina saat mereka menjajahnya?
Siapakah yang membantai lebih dari 0.5 juta penduduk tibet dalam 6 dekade terakhir?
Siapakah yang membantai 2 juta warga Vietnam dalam perang vietnam?
Siapakah yang menggunakan bahan kima dan senjata biologi untuk memusnahkan warga vietnam?
Siapakah yang membantai ribuan orang dengan menjatuhkan bom nuklis di jepang menewaskan beribu-ribu penduduk Hirosima dan Nagasaki?
Siapakah yang membantai 2 Juta penduduk Afika di Rwanda, Sierra, Leone, Burundi and Congo Dalam waktu 2 dekade terakhir?
Siapakah yang menyebabkan lebih dari 9.5 juta manusia menjadi pengungsi yang terlantar di afrika?
Siapakah yang membantai dan merampas tanah dari White farmers di Zimbabwe?
Siapakah yang menciptakan NUKLIR, SENJATA BIOLOGI DAN SENJATA KIMIA pembunuh masal?
Siapakah yang menjual Bom-bom yang muntakhir dan mesin pembunuh terbaik di dunia?
Siapakah yang membantai Orang kulit hitam di Amerika dan tidak menganggap mereka manusia sampai dengan tahun 1960?
Siapakah yang tidak menganggap wanita sebagai manusia hingga tahun 1940?

JAWABAN :
Bangsa yang meng-klaim dirinya sebagai umat KRISTEN, KRISTEN yang meng-klaim agamanya sebagai agama kasih
Sebagian besar terror dan pembataian diatas disebabkan oleh mereka. Namun Orang Kristen masih beralasan bahwa penyebaran agama kristen dilakukan dengan kasih.

PADA KENYATAANNYA, PENYEBARAN KRISTEN DI DUNIA DILAKUKAN OLEH IMPERIALISME BRISTISH
, SPANYOL, BELANDA, PORTUGAL DAN AMERIKA. YAKNI DENGAN MENGGUNAKAN MOTTO :
"Gold, Glory, Gospel trough the world"  EMAS, KEMULIAAN DAN PUJIAN DISELURUH DUNIA


Mana buktinya kalau Islam itu haus darah dan memerintahkan pembunuhan? Semua itu hanya tuduhan yang tidak jelas ujung pangkalnya, buatan orang-orang kafir yang pandai menipu. Mereka  mencari-cari alasan bahwa Islam itu haus darah, ternyata argumentasi mereka mentah

Justru kehidupan di luar Islam adalah kehidupan yang penuh bersimbah darah yang menjijikkan.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger