Latest Post
Showing posts with label Lingkungan hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan hidup. Show all posts

Di Angola selain Perang saudara terjadi Perang Hewan Vs Manusia

Written By admin on Thursday, March 11, 2010 | 10:07 AM


Peperangan di Angola seakan tiada akhir. Tidak lama setelah selesai perang saudara, ternyata terjadi lagi peperangan di situ.

Kali ini peperangan antara hewan dan manusia di dusun Mucusso. Gerombolan gajah liar mengamuk di sebuah kampung kecil di Angola akhir pekan lalu. Hewan-hewan besar itu merusak ladang dan puluhan rumah.

Akibat serangan tersebut, sebagian besar penduduk desa yang berjumlah 4.000 orang kabur ke wilayah tetangga, Namibia. Bahkan, salah seorang penduduk tewas terbunuh di dusun itu. Situasi di Mucusso sangat memprihatinkan karena penduduk harus makan apa saja untuk bertahan hidup.

Pejabat setempat mengatakan, gajah liar itu berasal dari Botswana. Perang sipil di Angola tidak hanya membuat kehidupan manusianya terusik, tetapi juga membuat kehidupan gajah terganggu. Lebih dari 100.000 gajah, badak, dan banteng terbunuh sepanjang masa peperangan tersebut.[kompas]

Dalam 5-7 Tahun, Es di Laut Arktik Lenyap

Written By admin on Tuesday, December 15, 2009 | 2:29 PM


Es di Laut Arktik (Kutub Utara) akan berkurang drastis hingga nyaris lenyap dalam kurun lima hingga tujuh tahun mendatang. Ini berarti, menurut proyeksi, laut yang termasuk ke dalam Samudra Atlantik tersebut akan menjadi laut yang nyaris tanpa es, paling cepat pada 2014.

Demikian ungkap mantan wakil presiden Amerika Serikat (AS), Al Gore, di Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Kopenhagen, Denmark, Senin 14 Desember 2009.

Gore mengungkapkan proyeksi baru yang berbeda dengan prediksi sebelumnya. Delapan bulan lalu, proyeksi yang dikeluarkan lembaga pemerintah AS menyebutkan bahwa es di Laut Arktik akan lenyap pada 2030.

Mendengar proyeksi baru tersebut, salah seorang ilmuwan AS menganggap prediksi itu terlalu berlebihan. Namun ilmuwan lain sebelumnya memang sudah mengira bahwa es di Laut Arktik akan mencair sebelum 2030.

"Sulit menangkap rasa heran yang dirasakan para ahli tentang es saat melihat kondisi ini," kata Gore bersama para pejabat negara-negara Skandinavia dan ilmuwan dihadapan wartawan dan delegasi. Ini merupakan penampilan pertama Gore dalam konferensi yang berlangsung dua pekan ini.

Suhu global rata-rata meningkat 0,74 derajat Celcius di abad sebelumnya, tetapi kadar merkuri meningkat sedikitnya dua kali lebih cepat di Arktik. Ilmuwan mengatakan, pada musim panas 2007, es di Arktik menyusut hingga rekor terendah 4,3 juta kilometer persegi pada September.

Penyusutan es pada 2008 dan 2009 tidak terlalu besar, tetapi masih berada di peringkat kedua dan ketiga penurunan terbesar.

Kelompok Gore menyajikan dua laporan baru mengenai perkembangan terkini di Antartika, wilayah otonomi Denmark di Greenland, dan Laut Arktik. "Saat untuk bersatu dan bertindak untuk mengatasi perubahan iklim adalah saat ini," kata menteri luar negeri Denmark, Per Stig Moeller.

Namun, delegasi dari 192 negara masih berselisih terkait beberapa isu kunci mengenai pemanasan global. Keadaan ini semakin memadamkan harapan masyarakat dunia untuk segera bertindak memangkas emisi rumah kaca. (AP)[vivanews.com]

1 Miliar orang terancam kelaparan akibat Air laut makin Asam

Lebih dari satu miliar orang di muka bumi bisa menderita kelaparan akibat peningkatan keasaman air laut. Bencana itu dapat dicegah bila perubahan iklim bisa ditanggulangi.

Demikian menurut Menteri Lingkungan Inggris, Hilary Benn, saat masyarakat internasional mengusahakan komitmen yang serius dalam mengantisipasi pemanasan global dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark.

Seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, Senin 14 Desember 2009, Benn mengatakan, polusi sudah sangat berdampak buruk pada dua pertiga wilayah dunia yang dilingkupi lautan. Dia menjelaskan, karbon dioksida diserap lebih cepat oleh Bumi dibanding 21 juta tahun lalu, sehingga menyebabkan peningkatan keasaman air laut.

Proses tersebut melarutkan cangkang dan tulang para penghuni laut dan akan membahayakan seluruh ekosistem.

"Kenapa kita harus mencemaskan hal ini?" tanya Benn. "Ini karena kehidupan laut terpengaruh karena perubahan itu, khususnya hewan dan tumbuhan yang memiliki tulang karbonat kalsium dan yang menjadi sumber makanan bagi penghuni laut lainnya. Satu miliar orang yang bergantung pada ikan sebagai sumber utama penghasil protein, itulaj yang harus kita khawatirkan," terang Benn.

Komentar Benn ini menyusul laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang memperingatkan bahwa peningkatan keasaman adalah bom waktu di bawah laut, yang tidak bisa diperbarui dalam waktu kurang dari puluhan ribu tahun.

Laporan PBB memprediksi 70 persen koral air dingin bisa terekspos menjadi air korosif (bersifat mengikis) pada tahun 2100. Laporan tersebut dirilis di pertemuan Kopenhagen sebagai faktor penekan bagi para pemimpin negara untuk mengurangi kadar karbon dioksida dari mobil dan pabrik.

Lautan menyediakan setengah dari sumber alami dunia, termasuk makanan, dan menyerap seperempat emisi karbon dioksida per tahun. Jepang, Prancis, dan Inggris secara berturut-turut menjadi negara yang paling rentan terhadap dampak peningkatan keasaman laut.

VIVAnews
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger