Latest Post

Inilah Kisah Yusuf A Bonner, Calon Biarawan yang akhir memilih Islam

Written By admin on Saturday, February 25, 2012 | 4:11 PM

Bonner dilahirkan di Fulham, London, tanpa keyakinan dan pendidikan berbau agama. Meski tak mengenal agama, sejak kecil ia mengaku memiliki satu perasaan yang samar namun menggema di dadanya. "Bahwa ada Tuhan yang selalu melindungiku."

Perasaan itu membuatnya serius berpikir tentang agama dan spiritualitas saat mulai berusia 20 tahun. Berbagai filosofi yang dinilainya aneh sekaligus mengagumkan diamatinya hingga sepuluh tahun berikutnya.

"Namun kuakui, pada awalnya pemikiran itu sering teralihkan oleh hal-hal duniawi," katanya.

Hingga kemudian ketika Bonner semakin serius mengamati segala bentuk spiritualitas itu, ia mendalami banyak konsep seperti "Neo-Paganisme" (paham yang merepresentasikan keberadaan dan kekuatan Tuhan dengan materi fisik, misalnya berhala) dan gerakan yang menyertainya, hingga meditasi Budha. Pada masa tersebut, Bonner mencoba melihat ke masa lalu dan menyadari bahwa sejauh itu ia tertarik filosofi-filosofi pagan karena ia membenarkan segala hasrat duniawi dan juga egoisme.


"Aku tak membutuhkan terlalu banyak waktu untuk berada dalam paham dan filosifi itu, dan aku segera melanjutkan pencarianku menemukan kebenaran," kata Bonner, yang setelah itu memutuskan mempelajari agama lain. Ia berusia 30 tahun saat mulai mempelajari ajaran Buddha.

Selama beberapa tahun setelahnya, ia mencoba mempraktikkan meditasi Buddha di berbagai sekolah Buddha dan merasa terpanggil untuk kembali melanjutkan pencariannya.
"Aku sadar aku belum menemukan kebenaran waktu itu."

Satu waktu, Bonner mendatangi sebuah gereja. "Aku meminta Tuhan membimbingku."
Tak lama setelah kunjungan ke gereja itu, ia mendatangi gereja Katolik,  ia akhirnya terlibat dalam aktivitas kebiaraan. Selama sepuluh tahun lamanya Bonner bekerja di sana dan juga menetap sesekali.

Selama itu, ia berbagi dengan para pendeta dan biarawan tentang doa. "Selama itu pula, aku mengalami keadaan iman yang naik-turun, padahal aku tengah berada dalam proses menjadi seorang biarawan saat itu."

Ternyata Allah punya rencana lain. Pada musim dingin tahun 2006, ia mengalami apa yang disebutnya keruntuhan iman. Ia tetap bekerja di biara meski tak lagi berdoa dan menghadiri kegiatan biara. Namun di balik itu, Bonner terus menerus meminta bimbingan dan pertolongan Tuhan.

"Aku kehilangan kepercayaanku pada ajaran gereja, tapi tetap menyimpan perasaan yang kumiliki sejak kecil, bahwa Allah selalu melindungiku," katanya.

Bonner kemudian melirik Islam dan mulai berbicara dengan beberapa Muslim secara online. "Termasuk dengan mereka yang baru memeluk Islam." Dari mereka, Bonner yang kala itu berusia 41 tahun mulai mempelajari Islam lewat buku-buku yang mereka kirimkan.

"Semoga Allah membalas perbuatan baik mereka itu," katanya.

Begitulah, Bonner mengenal dan mempelajari Islam tanpa bertemu seorang Muslim pun. Hanya dua bulan setelah itu, September 2007, ia pergi ke masjid terdekat dan mengucapkan syahadat.

"Alhamdulillah," ujarnya.

Setelah mengikrarkan kesaksiannya sebagai seorang Muslim, pria yang pernah menempuh studi di University of Kent, Canterbury, ini tetap bekerja di biara, dan tetap tinggal di sana sesekali. Hingga keadaan itu mulai dirasanya sulit.


"Aku membaca Alquran dengan satu mata yang terus mengamati pintu, kalau-kalau salah seorang biarawan melihatku," katanya.

"Aku juga sholat secara sembunyi-sembunyi, karena tentu mereka tidak bisa menerima keislamanku." Potongan ayat surah al-Hadid ayat 27 kemudian membuatnya sadar bahwa ia harus keluar dari biara.

Keputusan itu menjadi satu hal yang sulit diambil Bonner mengingat ia telah tinggal di sana selama sepuluh tahun. "Para pendeta dan biarawan di sana sudah seperti saudaraku," katanya. Namun ia yakin keputusan itu harus diambilnya. Ia juga berhenti bermain musik di pub yang cukup lama menjadi salah satu kegiatannya.

Semuanya tidak serta merta menjadi mudah sejak itu, dan Bonner justru mengalami sebaliknya. Perubahan drastis dalam hidupnya membuatnya labil. "Dalam bulan-bulan pertama, ada banyak sekali godaan untuk kembali ke kehidupan lamaku. Tapi setelah merasakan kebenaran, rasanya tidak ada alasan untuk kembali hidup dalam kebohongan, senyaman apapun kehidupan itu," katanya.

Bonner bersyukur, semua tak sesulit yang ditakutkannya, dan ia merasa Allah memberinya kekuatan untuk berjuang meninggalkan masa lalunya dan memulai kehidupan baru.
"Ada banyak tantangan sulit di sepanjang jalan yang kulalui, tapi ada banyak juga hal-hal menakjubkan," ujarnya seraya kembali ber-tahmid.

Dengan rahmat Allah, kata Bonner, ia akhirnya dapat bekerja di ladang dakwah, dengan bantuan sejumlah Muslim dari Islamic Education and Research Academy (iERA) yang didirikan oleh seorang mualaf Inggris, Yusuf Chambers. Melalui institusi tersebut, Bonner bisa membantu dan mendukung para mualaf, dan ia mengaku senang dengan itu.
 "Allah subhanahu wa ta'ala telah memberkatiku dengan berbagai cara," katanya.
   
Permasalahan dan tantangan terus mengiringi kehidupan Bonner yang mengubah namanya menjadi Yusuf Abdullah Bonner. Terkadang, katanya, tantangan itu begitu membingungkannya.

"Tapi aku bisa mempertahankan sebuah pengetahuan dasar bahwa, Alhamdulillah, telah membimbingku pada Islam. Selebihnya adalah persoalan nomor dua," katanya.

"Perhatian dan kesibukanku sekarang adalah untuk mereka yang belum berislam, dan mereka yang baru mendapat hidayah untuk memeluk Islam," kata aktivis dakwah yang menikahi wanita Kroasia bernama Sakinah.

"Ada banyak kekuatan dan dorongan yang terus menggoda kita untuk menjauh dari kebenaran. Untuk itu kita harus 'berpegang erat kepada tali (agama) Allah, dan tidak saling bercerai-berai'," ujarnya sambil mengintisarikan sebagian ayat ke-103 surah Ali 'Imron.[Republika/youtube]




Wouw..Kereta Super cepat,sekelas kereta Shinkansen di Jepang butuh Biaya 180 T?

Written By admin on Wednesday, February 22, 2012 | 10:12 AM

JAKARTA- Rencana Proyek kereta api (KA) super cepat Jakarta - Surabaya dua jam kelihatannya bukan hanya mimpi. Saat ini proyek KA supercepat memasuki tahap perencanaan. Proyek yang membutuhkan investasi sekitar 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 180 triliun, akan didanai oleh Jepang dengan masa waktu pengembalian 40 tahun.
Menurut keterangan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan, untuk kontruksinya, proyek KA super cepat ini akan menelan dana 14,3 miliar dollar AS dan ditambah detail engineering design sekitar 5 miliar dollar AS. Totalnya diperkirakan mencapai 20 miliar dollar atau Rp 180 triliun.
"Kita akan buat rencana yang jelas dan rencana itu sangat masuk akal untuk di realisasikan. Sudah ada pembicaraan awal dengan pihak Jepang dengan loan (pinjaman) selama 40 tahun," kata Tundjung dalam situs Kementerian Perhubungan, Selasa (21/2).

Prof Tajaten Menyatakan Masuk Islam saat Bacakan Makalah yang mengutip Al Qur'an


Terbukanya tabir hati ahli farmakologi Thailand Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Chiang Mai Thailand, baru-baru ini menyatakan diri masuk Islam saat membaca makalah Profesor Keith Moore dari Amerika. Keith Moore adalah ahli Embriologi terkemuka dari Kanada yang mengutip surat An-Nisa ayat 56 yang menjelaskan bahwa luka bakar yang cukup dalam tidak menimbulkan sakit karena ujung-ujung syaraf sensorik sudah hilang. Setelah pulang ke Thailand Tajaten menjelaskan penemuannya kepada mahasiswanya, akhirnya mahasiswanya sebanyak 5 orang menyatakan diri masuk Islam.

Bunyi dari surat An-Nisa’ tersebut antara lain sebagai berkut;"Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagiMaha Bijaksana."


Ditinjau secara anatomi lapisan kulit kita terdiri atas 3 lapisan global yaitu; Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis banyak mengandung ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf. Pada saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus sub cutis) salah satu tandanya yaitu hilangnya rasa nyeri dari pasien. Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferentdan efferent yang mengatur sensasi persefsi. Itulah sebabnya Allah menumbuhkan kembali kulit yang rusak pada saat ia menyiksa hambaNya yang kafir supaya hambaNya tersebut dapat merasakan pedihnya azab Allah tersebut.
Mahabesar Allah yang telah menyisipkan firman-firman-Nya dan informasi sebagian kebesaran-Nya lewat sel tubuh, kromosom, pembuluh darah, pembuluh syaraf dsb. Rabbana makhalqta hada batila, Ya…Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia. (http://ilmu-ilmu-islam.blogspot.com/2010/03/bukti-kebenaran-al-quran-kulit-sebagai.html)


ON THE SENSORY CHARACTERISTIC OF THE SKIN
Karakteristik Kulit secara Sensorik

Catatan penerjemah: 
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.
lapisan kulit
Dr. Tagata Tejasen: Laa Ilaaha IllAllah Muhammad Rasool Allah ! 

This man is uttering the Islamic creed (Shahaadah) thus declaring that he is becoming a Muslim. This occurred during the Eighth Saudi Medical Conference which was convened in Riyadh. He is Professor Tejatat Tejasen, Chairman of the Department of Anatomy at Chiang Mai University in Thailand. He was previously the Dean of the Faculty of Medicine at the same university.
Dr. Tagata Tejasen: Laa Ilaaha Illa-Allaah Muhammad-arRasuul-Allaah.

Dia menyatakan kesaksiannya (syahadah) dan menyatakan bahwa dia menjadi seorang Muslim. Hal ini terjadi pada waktu Konferensi Kedokteran Saudi Ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh. Dia adalah Profesor Tejatat Tejasen, Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai, Thailand. Sebelumnya, dia adalah Dekan Fakultas Obat pada universitas yang sama.
We presented to Professor Tejasen some Qur’anic verses and Prophetic Ahadeeth which deal with his specialization in the field of anatomy. He commented that they also had in their Buddhist books very accurate descriptions of embryonic developmental stages. We told him that we were very anxious and interested to see those descriptions and learn about these books. A year later, Professor Tejasen came to King Abdul Aziz University as an outside examiner. We reminded him of the statement he made one year before, but he apologized and said that he in fact had made that statement without ascertaining the matter. However, when he checked the Buddhist books he found that they contained nothing of relevance to the subject.
Kami tunjukkan kepada Profesor Tejasen beberapa ayat Al-Quran dan Hadits yang berhubungan dengan kekhususannya dalam bidang anatomi. Dia berkomentar bahwa mereka juga mempunyai (yang serupa) dalam kitab Budha mereka penjelasan yang sangat akurat tentang tahap-tahap perkembangan embrio. Kami memberitahu dia bahwa kami sangat tertarik sekali dan ingin melihat deskripsi-deskripsi (dalam kitab Budha, pent.) tersebut dan mempelajari kitab-kitab itu. Setahun kemudian, Profesor Tejasen datang ke Universitas King Abdul Aziz sebagai pemeriksa luar. Kami mengingatkan dia tentang pernyataan yang dibuatnya setahun yang lalu, akan tetapi dia minta maaf dan mengatakan bahwa sebenarnya dia mengatakan pernyataan tersebut tanpa mempelajari terlebih dahulu permasalahan yang sebenarnya. Akan tetapi, ketika dia memeriksa Kitab-Kitab Budha, tidak juga ditemukan referensi yang berhubungan dengan masalah yang dijadikan bahan penelitian.
Upon this, we presented to him a lecture written by Professor Keith Moore about the compatibility of modern embryology with what is contained in the Qur’an and the Sunnah and we asked Professor Tejasen if he knew of Professor Keith Moore. He replied that he knew him of course, adding that Professor Moore was one of the most world-renowned scientists in that field.
Kemudian, kami menunjukkan kepadanya sebuah ceramah yang ditulis oleh Profesor Keith Moore tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah dan kami menanyakan Profesor Tejasen apakah dia mengenal Profesor Keith Moore. Dia menjawab bahwa tentu saja dia mengenalnya, dengan menambahkan bahwa Profesor Moore adalah salah seorang saintis yang terkemuka di bidangnya.
When Professor Tejasen studied this article he also was greatly astonished. We asked him several questions in his field of specialization. One of the questions pertained to modern discoveries in dermatology about the sensory characteristics of the skin.Dr. Tejasen responded: Yes if the burn is deep.
Ketika Profesor Tejasen menmpelajari artikel ini, dia juga sangat tercengang. Kami menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan di bidang spesialisasinya. Salah satu pertanyaan yang berkenaan dengan penemuan modern dalam ilmu tentang kulit (dermatology) tentang karakteristik (sifat-sifat) kulit dalam menerima sensor. Dr. Tejasen merespon: Ya, jika terbakarnya dalam.
It was stated to Dr. Tejasen: You will be interested to know that in this book, the Holy Book - the Qur’an, there was a reference 1400 years ago which pertains to the moment of punishment of the unbelievers by the fire of Hell and it states that when their skin is destroyed, Allah makes another skin for them so that they perceive the punishment by a fire, indicating knowledge about the nerve endings in the skin, and the verse is as follows:
Telah dinyatakan kepada Dr. Tejasen, Anda akan tertarik untuk mengetahui apa yang ada dalam buku ini, Buku yang Suci - Al-Quran, telah ada referensinya 1400 tahun yang lalu berkenaan dengan saat penghukuman kepada orang-orang yang tidak percaya dengan api neraka dan dinyatakan bahwa ketika kulit mereka dihancurkan, Allah membuat kulit yang lain lagi untuk mereka agar mereka merasakan hukuman dari api neraka itu lagi, mengindikasikan pengetahuan tentang '??akhir urat syaraf??' (nerve ending) di dalam kulit, dan ayat tersebut adalah sebagai berikut:
Those who reject our signs, We shall soon cast into the fire. As often as their skins are roasted through, We shall change them for fresh skins, that they may taste the chastisement. Truly Allah is Exalted in Power, Wise. (Qur’an 4:56).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS 4:56).
We asked: So do you agree that this is a reference to the importance of the nerve endings in the skin in sensation, 1400 years ago? Dr. Tejasen responded: Yes I agree.
Kami bertanya: Apakah Anda setuju bahwa ini adalah salah satu referensi akan pentingnya ??'akhir urat saraf' (nerve endings)?? pada sensasi kulit, 1440 tahun yang lalu? Dr. Tejasen merespon: Ya, saya setuju.
This knowledge about sensation had been known long before, because it says that if somebody does something wrong, then he will be punished by burning his skin and then Allah puts a new skin on him, covers him, to make him know that the test is painful again. That means they knew many years ago that the receptor of pain sensation must be on the skin, so they put a new skin on.
Pengetahuan tentang sensasi kulit ini telah diketahui jauh hari sebelumnya (dalam Al-Quran, pent.), karena dikatakan bahwa jika seseorang melakukan suatu kesalahan, maka dia akan dihukum dengan cara membakar kulitnya dan kemudian Allah akan menggantikan kulit yang baru lagi, dan menutupinya, untuk membuat dia mengetahui lagi bahwa siksaan itu sangat pedih. Hal ini berarti bahwa mereka telah mengetahui beberapa tahun yang lalu bahwa penerima sensasi sakit pasti ada di kulit, maka mereka meletakkan sebuah kulit bari lagi di atasnya.
The skin (see Fig. 1) is the center of sensitivity to burns. Thus, if the skin is completely burnt by fire, it looses its sensitivity. It is for this reason that Allah will punish the unbelievers on the Day of Judgement by returning to them their skins time after time, as He, the Exalted and Glorified, said in the Qur’an:
Kulit (Lihat Gambar 1) adalah pusat kepekaan rasa panas. Maka, jika kulit telah terbakar api seluruhnya, maka akan lenyaplah kepekaannya. Karena itulah maka Allah akan menghukum orang-orang yang tidak percaya akan Hari Pembalasan dengan mengembalikan kulit mereka waktu demi waktu, sebagaimana Dia, Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, berfirman dalam Al-Quran:
Those who reject our signs, We shall soon cast into the fire. As often as their skins are roasted through, We shall change them for fresh skins, that they may taste the chastisement. Truly Allah is Exalted in Power, Wise. (Qur’an 4:56).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Quran 4:56)
We asked him the following question: ‘Is it possible that these verses came to the Prophet Muhammad, (sallallahu ‘alaihi wa sallam), from a human source?’ Professor Tejasen conceded that they could have never come from any human source. But he still asked about the source of that knowledge and from where could Muhammad have possibly received it?
Kami menanyakan dia pertanyaan berikut: 'Mungkinkah ayat ini datang kepada Nabi Muhammad SAW dari sumber manusia?' Profesor Tejasen memberikan pengakuan bahwa hal ini tidak mungkin datang dari sumber manusia. Akan tetapi dia masih menanyakan tentang sumber pengetahuan tersebut dan kemungkinan tentang dari mana Muhammad SAW menerimanya.
We said, ‘From Allah, the Most Glorified and Most Exalted.’ Then he asked: ‘But who is Allah ?’
Kami mengatakan, 'Dari Allah, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.' Kemudian dia menanyakan: 'Akan tetapi siapakah Allah ?'
We replied: He is the Creator of all that is in existence.’ If you find wisdom then it is because it comes only from the one Who is Most Wise. If you find knowledge in the making of this universe, it is because the universe is the creation of the One Who has all the knowledge. If you find perfection in the composition of these creations, then it is proof to you that it is the creation of the One Who Knows Best, and if you find mercy, then this bears witness to the fact that it is the creation of the One Who is Most Merciful. In the same way, if you perceive creation as belonging to one unified order and tied together firmly, then this is proof that it is the creation of the Only Creator, May He be Glorified and Exalted.
Kami menjawab: 'Dialah Sang Pencipta semua yang ada.' Jika Anda menemukan kebijaksanaan, maka hal itu karena dia datang dari Yang Maha Bijaksana. Jika Anda menemukan pengetahuan dalam pembuatan alam semesta ini, hal itu karena alam semesta ini adalah ciptaan dari Dia yang memiliki segala pengetahuan. Jika Anda menemukan kesempurnaan dalam susunan dari ciptaan-ciptaan ini, maka itulah bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Dia yang mengetahui segala kebaikan, dan Jika Anda menemukan kemurahan hati, maka hal ini memperlihatkan bukti pada fakta bahwa ini adalah ciptaan dari Dia Yang Maha Pemurah. Sama halnya jika Anda memahami ciptaan sebagai sesuatu yang tersusun secara utuh dan terkait satu sama lain dengan kuat, maka itulah bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Maha Mulia.

Professor Tejasen agreed with what we said to him. He returned to his country where he delivered several lectures about his new knowledge and discoveries. We were informed that five of his students converted to Islam as a result of these lectures. Then at the Eighth Saudi Medical Conference held in Riyadh, Professor Tejasen attended a series of lectures on Medical signs in the Qur’an and Sunnah.
Profesor Tejasen menyetujui apa yang kami katakan padanya. Dia kembali ke negaranya di mana dia membawakan beberapa kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya. Kami diberitahu bahwa lima dari murid dia berpindah ke Islam sebagai hasil dari kuliahnya. Kemudian, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Profesor Tejasen mengikuti serangkaian ceramah pada tanda-tanda yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah yang berhubungan dengan pengetahuan Medikal.
Professor Tejasen spent four days with several scholars, Muslims and non-Muslims, talking about this phenomenon in the Qur’an and the Sunnah. At the end of those sessions Professor Tejasen stood up and said:
Profesor Tejasen menghabiskan empat hari dengan beberapa sarjana, Muslim dan non-Muslim, membicarakan tentang fenomena yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah ini. Pada akhir acara, Profesor Tejasen berdiri dan mengatakan:
In the last three years I became interested in the Qur’an, which Shaykh Abdul-Majeed Az-Zindani gave me. Last year, I got Professor Keith Moore’s latest script from the shaykh. He asked me to translate it into the Thai language and to give a few lectures to the Muslims in Thailand. I have fulfilled his request. You can see that in the video tape that I have given to the shaykh as a gift. From my studies and from what I have learned throughout this conference, I believe that everything that has been recorded in the Qur’an 1400 years ago must be the truth, that can be proven by scientific means. Since the Prophet Muhammad could neither read nor write, Muhammad must be a messenger who relayed this truth which was revealed to him as an enlightenment by the One Who is an eligible Creator. This Creator must be Allah, or God. Therefore, I think this is the time to say ‘Laa ilaaha illAllah ’, that there is no god to worship except Allah, ‘Muhammad Rasool Allah ’, Muhammad is the messenger of Allah...

Pada tiga tahun terakhir saya sangat tertarik dengan Al-Quran, yang dihadiahkan oleh Syaikh Abdul-Majiid Az-Zindani. Tahun lalu, saya mendapatkan skripsi terakhir dari Profesor Keith Moore dari Syaikh. Dia meminta saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Thailan dan mengadakan beberapa ceramah kepada ummat Muslim di Thailand. Saya telah memenuhi permintaan dia. Anda bisa melihatnya pada video tape yang diberikan Syaikh sebagai hadiah. Dari penyelidikan saya dan dari apa yang telah saya pelajari selama konferensi ini, saya yakin bahwa segala yang terekam dalam Al-Quran 1400 tahun yang lalu pastilah suatu kebenaran, hal ini bisa dibuktikan dengan ilmu sains. Karena Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis, Muhammad SAW pastilah seorang utusan yang telah menyampaikan kebenaran ini yang telah diwahyukan kepadanya sebagai cahaya dari Dia Yang Maha Pencipta. Pencipta ini pastilah Allah, atau Tuhan. Oleh karena itu, saya fikir inilah saat yang tepat untuk mengucapkan 'Laa ilaaha ilaallaah', bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, 'Muhammadar rasuulullaah', bahwa Muhammad adalah utusan Allah...
I have not only learned from the scientific knowledge in the conference, but also the great chance of meeting many new scientists and making many new friends among the participants. The most precious thing that I have gained by coming to this conference is ‘La ilaaha illAllah, Muhammad Rasool Allah ’, and to have become a Muslim.
Saya tidak hanya telah mempelajari dari pengetahuan sains di konferensi ini, akan tetapi juga memperoleh kesempatan besar untuk menemui banyak ilmuwan baru dan membuat persahabatan baru dari semua pengikut konferensi. Hal paling berharga yang saya peroleh dengan mendatangi konferensi ini adalah kalimat 'Laa ilaaha illallaah, Muhammadar rasuulullaah', dan menjadi seorang Muslim.
The truth verily comes from Allah who said in the Qur’an: And those to whom knowledge has come see that the (revelation) sent down to thee from thy Lord - that is the truth, and that it guides to the path of the Exalted (in Might), worthy of all praise. (Qur’an 34:6).

Kebenaran sungguh datang dari Allah yang telah mengatakan dalam Al-Quran:

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. 
(Quran 34:6)


BERIKUT INI PERNYATAAN PROFESSOR KEITH L. MOORE :

Dr. Moore was a former President of the Canadian Association of Anatomists, and of the American Association of Clinical Anatomists. He was honoured by the Canadian Association of Anatomists with the prestigious J.C.B. Grant Award and in 1994 he received the Honoured Member Award of the American Association of Clinical Anatomists "for outstanding contributions to the field of clinical anatomy."

"For the past three years, I have worked with the Embryology Committee of KingcAbdulaziz University in Jeddah, Saudi Arabia, helping them to interpret the many statements in the Qur'an and Sunnah referring to human reproduction and prenatal development. At first I was astonished by the accuracy of the statements that were recorded in the 7th century AD, before the science of embryology was established. Although I was aware of the glorious history of Muslim scientists in the 10th century AD, and some of their contributions to Medicine, I knew nothing about the religious facts and beliefs contained in the Qur'an and Sunnah."

At a conference in Cairo he presented a research paper and stated:

"It has been a great pleasure for me to help clarify statements in the Qur'an about human development. It is clear to me that these statements must have come to Muhammad from God, or Allah, because most of this knowledge was not discovered until many centuries later. This proves to me that Muhammad must have been a messenger of God, or Allah."

Professor Moore also stated that: adith in the last four years have revealed a system of classifying human embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D... the descriptions in the Qur'an cannot be based on scientific knowledge in the seventh century..." "The intensive studies of the Qur'an and "...Because the staging of human embryos is complex, owing to the continuous process of change during development, it is proposed that a new system of classification could be developed using the terms mentioned in the Qur'an and Sunnah. The proposed system is simple, comprehensive, and conforms with present embryological knowledge.

Eit.. Hati Hati! jangan Gadaikan mata anda dengan kaca mata hitam murahan

Written By admin on Tuesday, February 21, 2012 | 8:47 PM

TRIBUNNEWS.COM - Hati-hati membeli kacamata hitam penghalau sinar matahari yang harganya murah.
Sebuah riset yang dilakukan lembaga perlindungan konsumen di Inggris menemukan pemakaian kacamata hitam yang harganya murah ternyata dapat menyebabkan beragam masalah mata seperti astigmatisme dan sakit kepala.

Hasil Riset Universitas Cardiff, Muslim Inggris Paling Religius Ketimbang Umat Agama Lain


Muslim Inggris dinilai lebih aktif mempraktekkan kepercayaan dan mendidik anak-anak mereka sesuai dengan keyakinannya ketimbang umat agama lain. Demikian hasil kesimpulan riset Universitas Cardiff, Kamis (16/2).
Riset itu menyebutkan 77 persen dari Muslim Inggris secara aktif mempraktekkan kepercayaan mereka. Sementara penganut Kristen hanya 29 persen dan umat agama lain hanya 65 persen.
Dalam riset itu juga diketahui bahwa 98 persen dari anak-anak Muslim diberikan pendidikan agama sejak dini. Sementara hanya 62 persen anak-anak Kristen dan 89 persen dari agama lain yang melakukan hal serupa.
"Melihat dari fakta riset, semakin memperkuat teori bahwa bagi kalangan minoritas agama merupakan sumber daya penting dalam memperkuat kekhasan suatu budaya," demikian kesimpulan lain riset tersebut.

Sebelumnya, studi ini menganalisa hasil survei kependudukan tahun 2003 silam. Sebanyak 13.988 dewasa dan 1.278 remaja berusia 11-15 tahun ambil bagian dalam riset tersebut.
Para peneliti sempat terkejut dengan meningkatnya peranan agama dalam kehidupan minoritas, termasuk Muslim Inggris. "Anak-anak Muslim cenderung menjalani kehidupan yang sibuk, menghadiri pendidikan agama di luar sekolah sebanyak tiga kali setiap minggu. Ini bentuk komitmen lain yang mereka miliki," ungkap salah seorang peneliti, Jonathan Scourfield.
Ia mengatakan anak-anak Muslim juga terbiasa belajar membaca Alquran dalam bahasa Arab. Mereka juga belajar tentang kepercayaan yang dianut orang tua dan anggota keluarga lainnya.
"Karenanya, kami berpikir, agama memiliki peranan penting dalam masyarakat minoritas dalam menjaga keterikatan antar keluarga dari etnis yang sama," pungkasnya.
Mereka bukan Muslim yang bermukim di kota Roma, ibukota Italia. Roma adalah sesosok etnis minoritas di daratan Eropa yang selama ini dikenal dengan nama Gypsi. Mereka tersebar di hampir seluruh negara Eropa, Amerika, dan Asia Tengah. Jika Anda seorang Muslim Roma dan tinggal di salah satu kota di dekat Athena, ibukota Yunani, atau di kota-kota lain, jangan berharap dapat mendirikan masjid atau menunaikan shalat Jumat berjamaah. Kalau pun ingin melakukannya Anda harus menempuh jarak sekian ratus kilometer untuk sampai ke bagian barat propinsi Thrace, dekat perbatasan Yunani-Bulgaria. Hanya di tempat ini, terutama di kota kecil Xanthi, atau Xantini, Komotini, dan Dhidhimotikhon, Anda bisa melakukan kegiatan ritual Islam secara bebas. Masjid banyak berdiri di pemukiman-pemukiman, pelajaran bahasa Arab, dan pengajian Alquran menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari. Di tempat ini pula Muslim Roma hidup berdampingan bersama dua etnis minoritas pemeluk Islam lainnya di Yunani; Pomak dan Turki. Mereka juga 'relatif' bisa berbaur dengan kelompok minoritas non-Muslim lainnya; etnis Turki dan Roma pemeluk Kristen Orthodox, dan lainnya. Tidak ada angka pasti berapa jumlah Muslim Roma di 'kantong' mereka di sini. Hugh Poulton mengatakan jumlah Athingani, begitu orang Yunani menyebut mereka, sekitar 20 ribu. Angka resmi pemerintah Yunani menyebutkan jumlah Muslim Roma di Thrace Barat sekitar 15 persen dari 338 ribu pemeluk Islam di tempat ini.< Di luar propinsi Thrace Barat, lebih tepatnya di seluruh Yunani, jumlah etnis Roma mencapai 350 ribu atau 3 persen dari seluruh penduduk negeri yang melahirkan konsep Trinitas Kristen ini. Sebagian besar relatif bermukim secara pernamenen di kota-kota di sekitar Athena Raya, dan lainnya masih berpola hidup nomadik, atau berpindah dari satu ke lain tempat. Secara umum mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama disebut Ficira atau Bacora. Mereka menjadi termarjinalisasi sebagai akibat krisis sektor pertanian yang menyebabkan mereka terbuang dari pasar tenaga kerja. Kesempatan kerja bagi kelompok ini juga menjadi berkurang setelah masuknya pekerja asing ke pasar gelap. Kelompok kedua memiliki banyak nama; Filipijie, Handura, Kalpazaj, atau Rumelie. Dibanding kelompok pertama, komunitas kedua ini berbicara bahasa Yunani dan Romani. Mereka relatif mapan secara ekonomi, dan sukses di sektor perdagangan. Serta, ini yang lebih penting, rata-rata memiliki pendidikan cukup baik.
Tanpa harus memisahkan mereka menjadi dua kelompok, orang Roma telah ada di Yunani sejak sekian ratus tahun lampau. Selama itu pula mereka, bersama etnis minoritas lainnya, mengalami berbagai bentuk pelecehan dan diskriminasi. Mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, pemukiman, dan menjalankan ibadah sesuai agama yang mereka anut. Berbeda dengan etnis Turki, orang-orang Roma tidak memiliki 'negara induk'. Perlakukan buruk sekecil apa pun terhadap etnis Turki di Thrace Barat akan menimbulkan kemarahan pemerintah Istambul. Namun, negara mana yang mau peduli ketika orang-orang Roma yang bermukim di kota-kota kecil di Yunani diperlakukan tidak manusiawi, dan hak-hak mereka dirampas. Tahun 1923, usai perang Turki-Yunani 1920-22, banyak orang-orang Roma di Thrace Barat mengidentifikasi diri sebagai orang Turki. Cara ini dilakukan karena Perjanjian Laussane 1923 -- yang mengakhiri perang kedua negara -- mengakui eksistensi minoritas Muslim di Thrace Barat dan menjamin hak-haknya. Tidak mudah bagi orang-orang Roma melakukan semua itu. Pemerintah Yunani hanya mengakui minoritas Muslim di Thrace adalah etnis Turki, bukan Roma atau lainnya. Akibatnya, upaya orang-orang Roma mengidentifikasi diri mereka sebagai entis Turki gagal total. Selama sekian puluh tahun mereka menjadi sesosok etnis tanpa negara, tanpa hak memperoleh pendidikan, kesehatan, dan melakukan kegiatan ritualnya dengan bebas. Di Komotini, sejumlah etnis Roma yang telah berasimilasi dengan etnis Turki gagal memperoleh status kewarganegaraan. Bahkan, pemerintah Yunani berupaya mengeluarkan orang-orang Roma dari komunitas Turki. Perubahan baru tejadi tahun 1970, ketika pemerintah Yunani mengumumkan Muslim dan Kristen Roma yang orangtuanya lahir di Yunani berhak mendapatkan status kewarganegaraan Yunani. Tapi, tidak banyak dari mereka yang bisa membuktikan bahwa orang tua mereka lahir di Yunani. Tidak heran jika orang-orang Ficira atau Bacora tidak memiliki kartu identitas kewarganegaraan. Ini pula yang menyebabkan mereka sulit memperoleh jaminan pendidikan, kesehatan, dan perumahan, atau apa pun yang mereka harus dapatkan sebagai warga negara Yunani. Kalau pun mereka memiliki sekeping tanah di pinggir kota, jangan berharap memperoleh izin pembangunan rumah. Mereka juga tidak akan berpikir memperoleh lisensi mengendari mobil sebagai bekal menjadi sopir.< Greek Helsinki Monitor (GHM) dan European Center for Roma Right memiliki laporan menarik mengenai semua ini. Sepanjang tahun 1997, misalnya, sejumlah pemerintahan lokal -- propinsi atau kotamadya -- sepakat mengusir orang-orang Roma dari daerah jurisdiksi mereka. Ancaman ini berlanjut sampai tahun berikutnya. Pertengahan 1998, sebanyak 3500 etnis Roma -- kebanyakan Muslim -- diusir dari Evosmos, dekat Salonica. Pemerintah Yunani segera bertindak dengan menyediakan tempat bekas di kamp latihan militer untuk menampung mereka. Namun, empat wali kota berupaya mencegah mereka bermukim di situ.
Sekian lama mereka terkatung-katung. Hidup di bawah tenda-tenda tanpa fasilitas apa pun. Pejabat pemeritahan kota yang dekat penampungan sementara mereka selalu mencegah masuknya kontraktor sarana umum. Mereka juga ditolak di tiga tempat lainnya. Sampai akhirnya mereka terdampar di pinggir sungai. Pengusiran juga terjadi di sejumlah kota dan desa-desa, meski mereka telah tinggal 40 sampai 50 tahun lalu. Semua dilakukan secara sistematis; lewat isu yang mengaitkan setiap peristiwa kejahatan apa pun dengan etnis Roma. Atau, dengan identifikasi-identifikasi buruk lainnya. Laporan juga menyebutkan sangat sedikit jumlah anak-anak Roma yang bersekolah. Sofia Nikolaidou dari GHM mencatat penyebab utamanya adalah rasisme. Banyak anak-anak Roma yang mengikuti pelajaran di sekolah Yunani mengatakan mereka tidak tahan dicemooh dengan kata-kata fuck your Turkey, atau go away, your are turks.
Pada saat pelajaran agama Kristen Orthodox, anak-anak Muslim Roma dilarang keluar. Mereka dipaksa mengikuti pelajaran sampai selesai. Atau mereka harus menghadiri misa pagi sebelum sekolah dimulai. Rasisme juga semakin nyata di beberapa desa lainnya di dekat Thrace Barat. Komunitas non-Muslim lebih suka mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah yang banyak anak-anak Muslim Roma. Akibatnya terjadi eksklusivitas di antara mereka.
Persoalan juga terjadi di sekolah-sekolah yang menampung anak-anak Muslim Roma. Di salah satu desa di dekat Xanthi, misalnya, jumlah anak yang terdaftar 240 orang. Namun, pada saat sekolah dimulai hanya 170 orang saja yang datang. Jumlah ini menyusut menjadi 120 orang saja pada Maret sampai April, karena anak-anak itu harus membantu orang tuanya yang sibuk panen asparagus.

Di sejumlah kota dan desa, banyak komunitas kecil Muslim Roma gagal mengatasi keadaan ini. Laporan GHM menyebutkan beberapa jumlah kecil keluarga Roma mengaku pindah agama untuk mendapatkan kesempatan hidup yang layak. Namun, kata laporan itu, mereka tetaplah Roma yang tidak pernah diakui oleh lingkungan mereka.

Tidak hanya rasisme yang harus mereka hadapi. Intervensi pemerintah terhadap pemilihan mufti -- pemimpin komunitas Islam di satu kota -- kerap kali terjadi. Selain itu, pemerintah juga mengenakan pajak pada tanah-tanah wakaf. Jika sampai beberapa tahun tidak membayar pajak, tanah wakaf akan disita. Intervensi pemilihan mufti menyebabkan terpecahnya komunitas Muslim di dan di luar Thrace Barat. Sedangkan pengenaan pajak terhadap tanah-tanah wakaf mengakibatkan lemahnya kemampuan finansial mereka. Catatan nasib buruk ini mungkin terlalu sedikit dibanding apa yang mereka alami sehari-hari, atau dibanding yang dicatat sejumlah LSM di Eropa.

Subhanallah.. Kepala Suku Asmat dan Keluarga Masuk Islam Dan Akan diikuti Kaumnya


Semua mata terpaku pada sosok lelaki berkulit hitam legam dan berperawakan tinggi besar. Dia adalah Kepala Suku Asmat Besar yang Ahad (19/2) kemarin mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Darussalam, Komplek Perumahan Tamansari Persada Raya, Jatibening, Jakarta Timur, pukul 09 pagi. Suasana haru biru jamaah yang hadir menyaksikan moment bersejarah itu, terlihat saat Kepala Suku beserta istri dan anaknya itu mengucapkan syahadat. Takbir pun bergema.

Dipimpin oleh Ketua DKM Darussalam H. Baharuddin Wahab pensyahadatan itu sekaligus diikuti dengan pengukuhan kembali pernikahan mereka secara syariat Islam. Dalam syahadat tersebut, disaksikan oleh Presiden AFKN (Al Faith Kaffah Nusantara) Ustadz Muhamad Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan dan mantan Bupati Fakfak (Papua Barat) Wahidin Puarada.  AFKN adalah sebuah lembaga dakwah Islam yang aktif berkiprah di Nuu Waar (Papua) pimpinan Ustadz Fadlan Garamatan.


Umar Abdullah Kayimtel adalah Kepala Suku Asmat besar dari kampong Per, Merauke yang membawahi beberapa kampung besar disekitar pantai. Kepala suku Asmat yang bernama asli Senansius Kayimtel (Kepala Keluarga) itu kemudian berganti nama menjadi Umar Abdullah Kayimtel. Sedangkan istrinya Agnes Atem menjadi Aisyah Khoirunnisa dan anaknya yang masih berusia 12 tahun, Ruben Siwir diganti namanya menjadi Salim Abdullah.
Usai syhadat, DKM Masjid Darussalam memberikan hadiah 3 paket Umroh kepada Kepala Suku Asmat dan keluarganya, dan banyak lagi  hadiah serta tanda simpati dari para jamaah Masjid Darussalam. Umar Abdullah yang tidak lancer berbahasa Indonesia, menyatakan motivasinya masuk Islam adalah  kurang tenang, kurang tenteram, kurang nyaman dengan agamanya yang lama (Kristen).
Didamping anaknya M. Hatta yang sudah lebih dulu masuk Islam, Umar Abdullah menyatakan akan mengajak keluarganya memeluk Islam, dan bahkan akan mendakwahkan Islam kepada anggota sukunya. Umar Abdullah mempunyai anak 8 orang, dua orang sudah Islam, sisa yang lainnya insya Allah segera menyusul.

Dikatakan Ustadz Fadzlan, Umar Abdullah sudah datang di Jakarta sejak 15 Februari. Menjelang sore, di Terminal Kedatangan 1C Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng nampak ramai. Di antara keramaian itu, kawan-kawan santri AFKN menyambut kedatangan tamu istimewa. Terlebih penyambutan sekitar pukul 16.00 WIB itu dilengkapi spanduk dan tim hadrat (tradisi di kalangan umat Islam Nuu Waar). Spanduk bertuliskan “Selamat Datang Kepala Suku Besar Asmat Umar Abdullah Kayimtel” itu dibentangkan di pagar yang berhadapan dengan pintu keluar terminal sore itu.

Ketika ditanyakan kenapa pensyahadatan mesti dilakukan di Jakarta, ustadz Fadzlan menjelaskan bahwa, kepala suku Asmat sekaligus mau mengunjungi orang-orang Asmat yang ada di pulau Jawa, antara lain di Yogyakarta dan Demak. Ustad Fadzlan yang dijuluki Ustadz Sabubn Mandi itu (karena dakwahnya yang menggunakan sarana sabu mandi) menghimbau seluruh umat Islam jangan bosan memberikan bantuan kepada saudaranya seakidah yang berada di Nuu War atau Papua, baik berupa sabun, shampoo, pakaian layak pakai dan sebagainya

Menurut Ustadz Fadlan, sampai hari ini sekitar 221 suku di Papua yang sudah memeluk Islam. Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jika dipukul rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman. Subhanallah...





 


Menikah Ulang

Usai pengumuman pergantian nama, acara dilanjutkan dengan menikahkan kembali Umar dengan istrinya. Hal itu dilakukan guna memantapkan niatan kedua pasangan ini untuk menjadi pasangan Muslim.
Imam Masjid Istiqlal, Ali Hanafiyah lalu bertindak sebagai wali hakim dari Aisyah menerima ijab Kabul dari Umar. Suasana pun begitu khidmad. Senyum bangga tak berhenti terlihat dari Umar. Apalagi ketika wali nikah dan jamaah mengatakan sah atas pernikahan itu.
“Insya Allah, dengan dinikahkan kembali, harapannya keluarga ini akan menjadi keluarga Muslim yang selalu mendapat ridha dari Allah SWT,” kata Ali.
Anaknya Sudah Hafidz Al Quran


Setelah anak Umar, Muhammad Hatta memutuskan memeluk Islam beberapa tahun lalu. Kini, anaknya telah menjadi Hafiz Alquran.
Dari situlah, Umar melihat adanya perubahan ketika seseorang masuk Islam. “Dalam kepercayaan sebelumnya, ia tidak ada perubahan. Namun saat Islam masuk, ada semacam perubahan seperti banyak generasi muda suku Asmat belajar di luar daerahnya,” kata Fadhlan.
Karena itu, Fadhlan optimis syiar Islam di IndonesiaTimur, tepatnya Papua akan terus berkembang. Ia percaya Papua akan menjadi pusat perkembangan Islam di Indonesia Timur.
“Kami memang tidak mudah dalam menjalankan aktivitas dakwah. Ada penolakan itu wajar. Sebagai pendakwah halangan dan rintangan apapun harus dihadapi dengan catatan dakwah harus digeliatkan dengan baik-baik. Insya Allah hasilnya akan baik pula,” kata dia.
Ke depan, kata Fadhlan, warga Suku Asmat sendiri yang akan memainkan peranan penting dalam syiar Islam. Sekarang, sebanyak 20 pemuda dengan belajar Alquran di Demak dan Yogyakarta. Setelah selesai, mereka akan berbagi tugas untuk melanjutkan dakwah yang sudah dijalankan selama ini.
“Tantangan selalu ada. Tidak perlu takut, Allah SWT bersama kita yang memiliki niatan mulia. Tugas kita masih panjang,” pungkasnya.
Butuh Bimbingan dan Perhatian Umat
Ali Hanafiyah mengatakan dari tahun 1980an, telah ada dari kalangan suku Asmat yang memeluk Islam. Namun, tidak adanya pembimbing menjadikan Muslim Asmat seolah diabaikan.
“Mereka yang masuk Islam lalu mendapat pemberitaan dari media. Tapi setelah itu, tidak ada bimbingan berkesinambungan sehingga mereka tidak menjalankan Islam secara kaffah,” kata Ali dalam pesannya kepada keluarga Umar yang baru saja mengucapkan syahadat di Masjid Darussalam.
Ali mengatakan adalah tugas umat Islam untuk bersama-sama memberikan perhatian dan bimbingan kepada Muslim Asmat.  Umat Islam perlu mencontoh Rasulullah SAW saat mendidik para sahabat seperti Abu Bakar, Umat bin Khattab, dan Ustman bin Affan.
“Nabi SAW mengislamkan kota Mekkah dengan mendekati para pemimpin kabilah kota itu. Lalu beliau bentuk Makkah sebagai pusat penyebaran Islam,” papar Ali.
Untuk itu, menurut Ali, kelak suku Asmat dapat menjadi pusat penyebaran Islam di Papua. Ia percaya masuknya Islam ke Papua akan memberikan perubahan pada wilayah itu. “Kita akan buat Papua menjadi lebih bermartabat,” katanya.


[Voa-islam/arrahman/youtube/republika]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger