Home » » Ilmuwan Malaysia Ikut Rancang Perluasan Masjidil Haram

Ilmuwan Malaysia Ikut Rancang Perluasan Masjidil Haram

Written By admin on Wednesday, March 11, 2009 | 12:40 AM

Prof. Dr. Ismawi Zen adalah dosen arsitektur dan lingkungan Universitas IslamProf. Dr. Ismawi Zen Antarabangsa Malaysia (UIAM), yang akrab dipanggil Prof. Mawi.

Menurut Mawi yang berasal dari Kampong Gedong, Samarahan, Sarawak, tawaran yang diterima itu adalah sesuatu yang tidak disangka atau terlintas dalam pikirannya. Apalagi, menurutnya, pekerjaan ini bukan pekerjaan kecil. Demikian seperti dituturkan harian Utusan Malaysia edisi Ahad, 8 Maret hari ini.

Mawi yang berusia 56 tahun mengakui, sebagai seorang profesional Muslim ia menyimpan cita-cita tinggi dan impian menggunung. Namun begitu muncul panggilan melalui telepon dari kerajaan Arab Saudi pada 23 September lalu, di luar jangkauan pikiran serta mengundang pelbagai perasaan. "Saya diamanahkan untuk menjemput Prof. untuk menjadi salah seorang dari ahli dunia untuk perluasan Masjidil Haram,"bunyi suara telepon itu. Telepon itu membuatnya masgul dan tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana ia dipercaya untuk menjadi salah seorang arsitek perluasan Masjidil Haram yang dirindukan setiap saat.

"Saya tambah terkejut apabila nama tiga ahli yang diumumkan itu adalah mereka yang memang popular dan terkenal di dunia. Spontan saya merasakan diri ini tidak berkelayakan. Mengapa saya dipilih? Namun kemudian diberitahu bahwa pemilihan ini melalui seleksi ketat dari Raja Abdullah, Khadimul Haramain," kata sang penelepon. "Sekembalinya ke Malaysia, saya dapati semua urusan tiket dan surat kontrak telah dilampirkan melalui email. "Saya hanya perlu mengambil visa di kedutaan Arab Saudi untuk pertemuan pertama yang diadakan pada 4 dan 5 Oktober 2008."

"Bagi saya hal ini bukan yang perlu dibanggakan karena tanggungjawab yang berat. Apalagi ini adalah amanah Allah SWT," jelas Mawi merendah diri. Seperti diketahui, Mawi adalah arsitek berpengalaman dan menjadi pelopor dan pakar dalam unit perancangan kota berlandas Islam. Rapat pertama Oktober lalu ternyata diikuti arsitek kenamaan asal Arab Saudi, Swis, dan Turki.

MeccaSayangnya, arsitek Swis terpaksa menarik diri karena dia bukan Muslim. Tim kemudian hanya beranggotakan enam arsitek dengan penambahan seorang dari Aljazair, dua dari Lebanon. "Pada tahap pertama, tim ditugaskan untuk menggubah wawasan merangka garis panduan untuk merencanakan bagaimana seharusnya pembangunan Mekah, khususnya perluasan Masjidil Haram yang kemudian dituangkan dalam Vision Brief. Ini adalah perluasan ketiga Masjidil Haram."

Konsep arsitektur Islam yahng diterapkan dalam pengembangan Masjidil Haram adalah konsep nilai-nilai Islam itu sendiri. "Di samping itu, aspek kesederhanaan juga menjadi pokok keutamaan agar selaras dengan falsafah Islam, kesederhanaan itu tanda kebenaran (simple is sign of truth)," terang Mawi.

Apa yang boleh digambarkan ialah Masjidil Haram itu akan berubah menjadi lebih luas, sebuah masjid yang selaras dengan alam dan ia seolah mengembang dan menguncup mengikut musim kemuncak dan sebaliknya. Reka bentuk baru itu harus tidak menyumbang kepada pemanasan global, pemubaziran, dan mempunyai sentuhan kerohanian apabila berada di dalam masjid. "Tim ini ditugaskan untuk memikirkan semua perkara di atas dan kemudian menghasilkan beberapa cadangan dan garis panduan bagi membantu perancangan dan reka bentuk pembesaran kelak. Kami akan beri penerangan, memantau, menilai dan membuat laporan sebelum menghantar rencangan kepada Raja Abdullah," katanya.

Menurut Mawi, di bawah tim ini, terdapat 16 konsorsium arsitek antara negaradari 13 negara: Arab Saudi, Mesir, Jordan, Jepang, Jerman, Prancis, Swis, Inggris, India, Afrika Selatan, serta Malaysia. Mereka dibagi dua kelompok; enam adalah Vision Architect yang menghasilkan idea. Sepuluh lagi adalah Application Architect, yang akan memikirkan tentang soal praktis.

"Mereka ini bukannya bertanding untuk idea tetapi pemilihan arsitek-arsitek ini adalah atas usulan karena mereka mempunyai kekuatan tersendiri, kepakaran dan kecenderungan dalam reka bentuk. Setiap arsitek ini akan membentangkan kertas kerja masing-masing yang menyentuh aspek-aspek ritual, mesra dengan alam, kerohanian, kemasyarakatan, bahan-bahan atau material yang bakal digunakan dan teknologi yang digunakan," kata Mawi.

Menurut Mawi, terpilihnya dirinya mungkin terkait dengan doanya di Multazam saat menjadi dosen tamu di Fakultas Arsitektur Universitas King Abdul Aziz, lebih 20 tahun lalu.


sumber : [mh/ihj/www.hidayatullah.com]

baca artikel terkait

Proyek perluasan Masjidil Haram

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA -BERITA PILIHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger